#ntms
Explore tagged Tumblr posts
Text
Bismillah,, Semoga menjadi Ramadhan yang terbaik dibandingkan tahun-tahun sebelumnyaaa Aaamiiin
Alhamdulillah, jurnal Ramadhan sudah disiapkan, semoga banyak catatan amal baiknyaa
Biar Ramadhan Kali Ini Makin Keren!
Ramadhan tinggal menghitung jari, sudah sesiap apa kamu dalam menyambutnya? Resolusi apa yang sudah kamu canangkan untuk dicapai kali ini?
Bentar, jangan jauh-jauh bicara resolusi dulu deh, sikap kamu dalam menyambut Ramadhan bagaimana? Kalau misal kita klasifikasikan orang yang menyambut Ramadhan menjadi 3 golongan, kamu masuk nomor berapa?
Sedih, takut, kesal karena setelah ini nanti nggak bisa ngapa-ngapain 😡😰
Biasa aja. "Yaudah sih tinggal puasa doang kan, terus malam tarawih. Dah gitu aja." 😌
Bahagia. Gegap gempita. Nggak sabar! Full preparation deh pokoknya! 😆🥳
Semoga kita semua ada di nomor tiga ya, klasifikasi yang didalamnya ada Rasulullah, para sahabat, tabi'in dst. Aamiin..
Oke, pertanyaan selanjutnya.
Sesiap apa kamu di Ramadhan yang sudah Allah kasih kesempatan ke ±20 kali ini? ~
Target apa yang ingin dicapai? Jangan sampai hanya terucap jargon, "Ramadhan kali ini harus lebih baik!" doang, tapi nyatanya... hari demi hari berlalu, sampai denger takbiran, tanpa satupun perubahan... aduh jangan sampai ya huhu.
Oke, biar nggak kelamaan...
Agar Ramadhan kali ini lebih sip, aku mau bagi tips agar target Ramadahanmu kali ini nggak sekedar jargon "lebih baik" saja?
Gimana caranya?
Kamu harus punya alat ukur capaian!
Caranya?
OKR. Objective Key Result.
Apaan tuh?
Aku coba jelaskan sesingkat-singkatnya dan mudah dimengerti~
Objective Key Result adalah metode pengukuran manajemen kinerja, yang bertujuan mengartikan tujuan dan melacak ketercapainnya. Kalau kamu pernah denger KPI, MBO, Balanced Scorecard dll, nah ini hampir mirip, tapi versi lebih simple, fleksibel tapi tetep kalkulatif.
Singkatnya OKR itu, terdiri dari 3 komponen : Objective, Key Result dan Initiatives.
Objective adalah tujuan atau goals yang ingin kamu capai.
Key Result adalah ukuran keberhasilannya.
Initiatives adalah langkah untuk mencapai keberhasilannya.
Rumus gampangnya :
“Saya akan ________(objective) diukur dengan ________(key results) dilakukan dengan cara ________"
Saya kasih analogi gambarnya seperti ini :
Dalam menentukan objectives kamu harus menentukan sebuah statement yang simpel, tetapi ketika kamu baca ada harapan, semangat dalam mencapainya, even itu terkesan "muluk-mukuk".
Misal : "Ramadhan kali ini harus level up dari tahun kemarin!"
Selesai menentukan O, selanjutnya kamu harus tentukan "KR"nya, soal ini, kamu yang lebih tahu ukuran 'level up'mu tadi seperti, sama di poin ini harus ada ANGKA!. Biar mudah dalam evaluasinya, misal : (contoh buat cowok)
Target khatam 3 kali (karena tahun lalu khatam 2 kali).
Berbagi ifthar ke 30 orang (karena tahun lalu 15 orang)
Sedekah subuh total Rp. 60.000, dst
Nah setelah kamu sudah selesai setting angka keberhasilannya, setelah itu kamu susun "INITIATIVES" atau langkahnya mau seperti apa? Sesuaikan dengan target key result yang sebelumnya kamu tentukan.
Sehari setiap selesai sholat baca 12 halaman, atau sehari 30 lembar (3 Juz).
Sisakan uang 10-15 ribu per hari, ngabuburit beli menu buka, liat orang (tukang becak, ojol, dsb) kasih deh.
Setelah sahur, siap-siap ke masjid, kantongi uang Rp. 2000, cemplungin dah tuh ke kotak saku, infaq masjid.
Kurang lebih kayak gitu, tiap sudah selesai melakukan itu bikin ceklist, atau tulis di notes, hari apa tanggal berapa tercapai enggak. Kalau perlu tempel biar liat terus termotivasi, tempel, tapi kalau takut orang liat jadi ga ikhlas, simpan rapat-rapat~
Manfaatnya apa sih?
Ada banyak sebenernya, dalam konteks bisnis, organisasi dsb. atau bahkan dalam steps to achieving your dreams, cara ini memudahkan untuk evaluasi capaian kinerja, sudah sejauh apa melangkah. Kalau dikaitkan dengan Ramadhan, menurut saya lebih ke proses pembiasaan.
Kata ahli, kebiasaan baru akan terbentuk setelah 21 hari dilakukan, so do it. Buat kebiasaan positif, meskipun terlihat kecil, eh tapi yang kecil tapi konsisten lebih Allah suka loh~ Yuk mumpung ramadhan mas mbak syaitoni lagi mager, jadikan momentum perubahan!
Dah itu aja, kayaknya udah panjang banget ini tulisan. Sedikit sharing ilmu kuliah saya malam ini, ini sekedar cara (uslub), dalam beramal, atau pakai metode apapun yang buat kalian nyaman. Semoga menjadi kebaikan ya kita semua. Ramadhan kali ini, ayok lebih baik bareng!
398 notes
·
View notes
Text
Kita tidak bisa bersyukur dan merasakan tenangnya memiliki hati yang lapang bukan karena tidak ada hal yang bisa kita syukuri, tetapi bisa jadi karena Allah tidak memberkahi apa yang Allah beri sebab maksiat yang terus kita lakukan entah secara sadar atau tidak~
—menunda salat misalnya?
#dardawirdhaa#selfreminder#ntms#muslimah#dardaquotes#jeda#senandungrasa#bukunikah#365#hdatla#be proud my dear#fa firru ilallah
26 notes
·
View notes
Text
Terkadang, untuk hidup yang rumit itu hanya butuh diam dan bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh apa kita kehilangan arah hidup. Dari mulai sholat yang tak lagi nikmat dan terburu-buru, mata yang jarang menangis, dan hati yang keras. Lelah, ya. Jika ternyata semuanya harus diukur dengan dunia.
391 notes
·
View notes
Text
Suka ga suka, hidup itu isinya series of problem, yang nuntut kita buat beradaptasi untuk bisa survive
Kalo lagi beruntung, kita berhasil dengan sadar ngambil pelajaran dari problem yang tersebut, yang kemudian bikin kita naik level
Panduannya sangat jelas, terinspirasi dari Qur'an:
Bersama kesulitan akan ada kemudahan (94:5-6)
Kita ditakdirkan menerima problem tersebut karena Allah tau kita mampu (2:286) (64:11)
Yakinlah ketetapan Allah adalah yang terbaik, suka atau ga suka (2:216)
Dalam menjalaninya, Key Success Metric yang perlu dimonitor:
Kedekatan kita dengan Allah
Ketenangan hati
---
Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (64:11)
212 notes
·
View notes
Text
Mengapa selalu harus perempuan yang bersyukur dipertemukan dengan sosok lelaki yang sholih? tidak bolehkah jua, lelaki itu yang bersyukur?
Ku tulis ini sebagai pengingat, bahwa rasa syukur itu harus hadir pada kedua insan, tidak boleh timpang hanya berat sebelah, seolah perempuanlah yang wajib bersyukur atas apa-apa yang terjadi
Bukankah kita lelaki juga harus bersyukur? dipertemukan dengan izin Allah, kepada sesosok perempuan yang mampu menjaga pandangannya, telingannya, mulutnya, dan kemaluannya; hingga ia mewujud pada rasa malu saat pertama kali bertemu
Bukankah kita lelaki juga harus bersyukur? dipertemukan dengan izin Allah, kepada sesosok perempuan yang sibuk sekali berkegiatan, tidak lelah mempelajari ilmu baru, mampu berkreasi dalam banyak karya, juga terampil mengelola banyak hal; hingga ia mewujud pada ketangguhan dan kecerdasan yang kelak akan ditiru dan dibanggakan oleh anak-anaknya
Bukankah kita lelaki juga harus bersyukur? dipertemukan dengan izin Allah, kepada sesosok perempuan yang terbiasa berbagi dengan sesama, disenangi oleh lingkungan terdekatnya, namun tetap menjaga adab-adabnya; hingga ia mewujud dalam keanggunan akhlak
Duhai, lelaki termasuk aku, mengapa ucapan terima kasih, berat sekali keluar dari mulut, seolah kita adalah pahlawan yang sempurna, yang menyelamatkan budak perempuan dari kekangan tuannya? Bukankah kita juga harus berterima kasih, dengan hadirnya ia, sosok perempuan yang Allah takdirkan, terjagalah diri dari hal-hal yang diharamkan, menjadi bewarna hidup kita yang tadinya hanya ada warna hitam dan gelap di lemari baju, dan semakin luas bumi Allah yang kita lalui, setelah sekian lama kita bingung hendak dengan siapa kita berpegian
Mari saling bersyukur dalam mencintai, karena dengan begitu akhirnya semoga kesadaran itu muncul, bahwa perjalanan sesungguhnya adalah untuk beriman, beramal sholih, dan saling menasihati dalam kebenaran
ditulis untuk kamu, kita, khususnya aku
242 notes
·
View notes
Text
Hidup yang dirasakan sedang berantakan bukan mengartikan kalau kamu bodoh, tidak beruntung, atau sepertinya masa depan akan suram.
Hanya saja episode nya kali ini kamu sedang harus berada di bawah, sedang harus berusaha kuat, sedang harus memakai mode bertahan di tengah gempuran yang datang. Kamu sedang berada di episode sakit, pusing, penat, linu.
Episode yang menyadarkanmu kalau kamu memang cuma manusia biasa. Tidak berhak berlaku sewenang-wenang di bumi. Tidak berhak berlaku sombong kepada manusia lainnya.
Jadi ketika keadaanmu kelak membaik, kamu akan tetap menghargai orang-orang di sekitarmu, menghargai jeripayah dan upaya-upaya orang lain sekalipun cuman tukang pemungut sampah.
Kamu setidaknya jadi lebih peka dan bisa mengerti bahwa memang setiap orang punya badainya masing-masing.
@terusberanjak
198 notes
·
View notes
Text
Yaa Allah, ampunilah kami yang amat mudah menilai cara orang tua kami mendidik kami dahulu, padahal kami sama sekali tidak mengetahui bagaimana perjuangan mereka untuk menghidangkan sesuap nasi.
Yaa Allah, ampunilah kedua orang tua kami atas kesalahan-kesalahan mereka yang telah lalu dan yang akan datang. Beri kami kesabaran sebagaimana mereka telah bersabar menghadapi kami sewaktu kecil.
Meski belum menjadi orang tua, mengamati mereka di usia dewasa ini terkadang bisa menyentuh hati. Kuatkanlah mereka yaa Allah…
280 notes
·
View notes
Text
Jika nasibmu tak ditentukan lewat garis tangan, mungkin ia ditentukan lewat garis perjuangan.
149 notes
·
View notes
Text
Menarik Diri dari Kehidupan
Akhir-akhir ini merasa lebih tenang, memang masih ada gelisahnya tapi tidak secemas sebelumnya. Mulai merasa nyaman dengan tidak banyak berinteraksi dengan gawai, tidak cek sosial media, dan fokus dengan alam pikiran dan diri. Di tengah-tengah arus setiap orang ingin mengenalkan dirinya ke publik dengan berbagai macam branding. Justru mulai merasa nyaman ketika tidak dikenal siapapun. Proses ini memberikan refleksi yang sangat banyak. Bahkan saat tulisan ini ditulisa di jam 2 pagi, hikmah itu masih belum berhenti mengalir rasanya. Di saat arus kehidupan seolah menuntut kita untuk dikenal dengan ini dan itu, di saat yang sama banyak sekali kehidupan yang berjalan di tempat-tempat yang jauh yang tak kita kenal, di desa, di dalam gang, di tumpukan gedung-gedung, di jalanan, dan lain-lain. Orang-orang yang bekerja untuk kehidupannya, tidak dikenal siapapun, tapi hati mereka dicukupkan dengan ketenangan, mereka tidak takut miskin, mereka tidak dikhawatirkan dengan hujan yang deras diperjalanan karena tidak memiliki mobil, tidak bingung dengan AC yang mati karena mereka memiliki rumah untuk berteduh. Hati mereka dilapangkan dengan rasa cukup. Sementara sebagian kita gelisah dengan gaji yang cukup besar, apakah nanti cukup untuk ini dan itu. Bahkan di alam bawah sadar kita, kita dihantui ketakutan akan kemiskinan dan terus merasa kurang.
Di saat kita berpikir bahwa kita harus terus menerus bekerja untuk bisa menumpuk harta, memiliki uang yang cukup, kemudian nanti bisa memiliki lebih banyak kesempatan dan waktu luang. Ada orang-orang yang ditempat jauh dan tidak kita kenal. Di sebuah desa, di dalam kontakan, di pesisir pantai. Mereka yang memilih jalan untuk mengabdikan dirinya, memilih jalan yang tidak ada gegap gempita dan hitungan uang yang bisa membuat mereka kaya raya seperti tujuan yang sedang ingin kita capai. Mereka memilih jalan untuk mengajarkan ayat-ayat Tuhan di surau-surau yang lapuk, mereka membantu orang-orang yang tidak mereka kenal, dan banyak lainnya.
Di saat kita merasa bahwa kita harus sangat keras dengan diri kita sendiri agar kita bisa mencapai mimpi-mimpi, membuktikan diri ke orang lain yang meremehkan, menunjukkan bahwa kita ada dan layak diperhatikan. Kita lupa bahwa akhirnya tidak ada orang yang lembut dengan diri kita, karena satu-satunya orang yang kita harapkan bisa bersikap lembut ternyata sama kerasnya, ialah diri kita sendiri. Hingga akhirnya diri kita pun menjadi orang yang sama kerasnya ke orang lain, menjadi lingkaran setan yang tak berujung.
Kini kita sama-sama dewasa, melalui jalan yang kita pilih sendiri-sendiri. Tapi, apakah kita mau berpikir sejenak pada apa yang sedang kita jalani? Apakah benar tidak ada hal yang harus dikoreksi? Jika jalan ini sangat menggelisahkan, apakah kita mau menjalaninya seumur hidup? Sepenting apakah tujuanmu sehingga di saat ini, bahkan kamu tidak pernah bersikap lembut ke dirimu sendiri? Apakah kamu yakin bakal ada umur untuk sampai ke tujuanmu? Kapan terakhir kamu berwelas asih sama diri sendiri? Orang yang selama ini hidupnya begitu keras.
431 notes
·
View notes
Text
Hal yang ku pelajari saat dewasa :
Jangan berpikir semua orang itu selalu sama denganmu, selalu sejalan denganmu. Setiap jiwa mungkin memiliki karakter dan prinsip yang berbeda, dan itu tidak masalah. Jangan kecewa.
Karena berharap kepada manusia memang akan berujung kecewa.
149 notes
·
View notes
Text
“Kita memang bisa meniru aktifitas mereka, tapi tidak dengan rejekinya”
Memang benar ternyata, rejekinya sudah diatur dengan kemampuan dan pundak masing-masing. Hanya kita saja yang terlalu lengah melihat rumput tetangga sebelah yang selalu tampak segar di setiap paginya.
108 notes
·
View notes
Text
Semoga Allah menjagamu dikala seseorang yang kamu harapkan jadi masa depan malah pergi menjauh.
Semoga Allah menjagamu dari kekhawatiran berlebih tentang masa depan dan memelukmu pada pemahaman: takdir-Nya selalu indah.
#dardawirdhaa#ntms#selfreminder#dardaquotes#senandungrasa#jeda#muslimah#hdatla#bukunikah#365#be proud my dear#coming soon#fa firru ilallah
179 notes
·
View notes
Text
Benar, terkadang kita butuh waktu sendiri, hanya menatap hujan yang sedang turun sembari menimbang dan menentukan doa apa yang ingin kita lantunkan. Sendiri saja, boleh juga berteman dengan air mata. Pada hujan yang turun, doaku sederhana, untuk setiap rasa yang sedang terluka atau bergemuruh, semoga Allah sembuhkan dan berikan ketenangan.
474 notes
·
View notes
Text
Sandwich Gen
Orang-orang yang mengalami bagaimana struggle-nya menjadi sandwich gen, tentu bukan hal yang mudah. Sudah berapa kali derai air mata jatuh, merasa lelah, drowned dan lain sebagainya. Semua itu wajar, rasa manusiawi yang hadir dan dikontrol oleh perasaannya.
Manusia dikaruniai akal dan perasaan. Sebuah rasa itu akan hadir secara fitrah di hati kita. Sedangkan akal bisa kita bentuk dengan ilmu (atas izin Allah). Allah mampu menenangkan perasaan gundah kita, ketika kita berusaha untuk mengisi akal pikiran dengan ilmu.
Itulah kenapa, pentingnya kita belajar. Seberapapun ilmu yang kita punya, kita tetap harus terus belajar, datang ke kajian, mendengarkan nasihat-nasihat yang memang seharusnya menjadi makanan sehari-hari kita.
Menuntut ilmu itu tidak berhenti ketika kita lulus dari pesantren. Tidak pula berhenti ketika sudah belajar dan mengenal ilmu agama.
Teringat pekan kemarin, saat aku menjelaskan materi tentang Allah Al-Muhyi, Allah Al-Mumit ke anak-anak, tak kuasa menahan air mata yang terbendung. Allah mampu menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya. Namun tidak hanya jasad, melainkan juga hati.
Hati manusia itu bisa mati, apabila tidak diisi dengan ibadah dan amal shalih. Hati itu bisa mati, apabila dibiarkan lalai begitu saja. Sungguh, nasihat terasa begitu indah ketika kita mau menerimanya dengan lapang.
Inilah kenapa alasannya, sampai sekarang, aku begitu nyaman menjadi guru. Bukan hanya tentang mengajar, justru disanalah aku turut serta menasihati diriku sendiri. Rasa tawakkal, percaya, bahwa apa-apa yang kita usahakan, yaitu untuk meraih ridha Allah, insyaaAllah akan diganti. Wallahi, Allah akan ganti dengan yang lebih baik.
Seberapa banyak narasi negatif tentang sandwich gen di luar sana, aku akan terus meyakini sebagai seorang muslim; bahwasannya apa yang sedang dijalani hari ini, merupakan jalan pahala bagi kita. Sedekah bisa menolak bala. Sedekah yang paling baik ialah kepada keluarga.
Kita memang tidak bisa memilih takdir, namun kita bisa memilih, jalan pahala mana yang ingin kita raih? Adakah hati kita bersyukur ketika diuji? Menikmati betapa nikmatnya seorang hamba, ketika dekat dengan Penciptanya.
Kalau lelah, coba diingat kembali, memangnya apa yang mau dikejar, kalau bukan ridha Allah?
Jakarta, 15 Februari 2025 | Pena Imaji
90 notes
·
View notes
Text
Riset bahwa perempuan berbicara 13000 kata lebih banyak daripada laki-laki itu supaya kita lebih panjang doanya.
Salah satu cara memutus kebiasaan buruk adalah dengan mencari amal baik yang mirip karakternya. Misalnya ingin mengurangi bergosip, maka cari amal baik yang butuh banyak bicara juga; berdoa.
Ingin mengurangi kebiasaan mengeluh, berdoa juga. Ingin mengurangi sumpah serapah yang nggak perlu, berdoa juga.
Kalau jatah kata dalam satu hari sudah habis untuk berdoa, mungkin kita nggak butuh lagi debat kusir di sosmed, mengeluh kesana kemari, dan julid disana-sini.
Mungkin ya. Tulisan yang agak cocoklogi, tapi semoga menjadi ikhtiar supaya lisan kita nggak menyeret anggota tubuh yang lain ke neraka. Aamiin.
192 notes
·
View notes
Text
Bila begitu banyak orang mengecewakan, mari jadi orang baik seperti apa yang kita mau. Memberi kebahagiaan kepada orang lain, menghargai segala upaya, tak usah menilai orang semena-mena, belajar menjadi pendengar yang baik, belajar menahan dari berkata yang tidak-tidak.
Mari belajar jadi orang hangat yang memberikan rasa aman kepada orang lain. Belajar menjadi orang yang tak memberi kekhawatiran kepada orang lain. Belajar menjadi orang yang tak dianggap bahaya oleh orang lain.
@terusberanjak
#quotes#sedang berantakan#self reminder#beranjak#note to myself#terus beranjak#reminder#ntms#tulisan#catatan#nasihat
192 notes
·
View notes