#Wajar
Explore tagged Tumblr posts
esbatubulet · 5 months ago
Text
Menangislah jika itu bisa membuatmu tenang. Jangan ditahan. Tidak apa apa, bersedih itu hal yg wajar untuk kita yg hanya manusia biasa..
22 notes · View notes
garygoldenbignaturals · 2 months ago
Text
ridwan kamil plis stop ngiklan di tumblr or tumblr stop masang iklan nyoblos either one of those pedes mata gue liatnyaaaa
2 notes · View notes
kantorberita · 5 days ago
Text
Wakil Bupati Bengkulu Utara Terima LHP BPK Semester II 2024
Wakil Bupati Bengkulu Utara Terima LHP BPK Semester II 2024 KANTOR-BERITA.COM, BENGKULU UTARA|| Wakil Bupati Bengkulu Utara, Arie Septia Adinata, SE, MAP, menghadiri acara Penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK Semester II Tahun Anggaran 2024 di Kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi Bengkulu pada Jumat sore, (17/01/25), Acara ini turut dihadiri oleh Ketua DPRD…
0 notes
hargo-news · 6 months ago
Text
Predikat WTP Diharap jadi Komitmen Pengelolaan Anggaran
Predikat WTP Diharap jadi Komitmen Pengelolaan Anggaran
Hargo.co.id, GORONTALO – Fraksi PDIP Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Gorontalo Utara (Gorut) berharap agar predikat WTP yang diperoleh Pemerintah Kabupaten Gorut atas LHP tahun 2023 menjadi komitmen dalam pengelolaan keuangan daerah yang lebih maksimal lagi kedepannya. Harapan itu disampaikan oleh Daud Syarif sebagai juru bicara (Jubir) dari Fraksi PDI-P. Daud mengatakan, pihaknya…
0 notes
bantennews · 10 months ago
Text
Pemprov Banten Kembali Raih WTP
SERANG – Pemerintah Provinsi Banten kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi Banten Tahun Anggaran 2023. Capaian ini menjadikan Pemprov Banten meraih opini WTP delapan kali berturut-turut pada LKPD 2016 hingga LKPD 2023. “Terima kasih. Provinsi Banten berdasarkan hasil…
Tumblr media
View On WordPress
0 notes
mediaban · 2 years ago
Link
Pemkab Tangerang meraih opini wajar tanpa pengecualian atau WTP yang ke 15 dari BPK Perwakilan Banten. Opini diraih secara berturut-turut.
0 notes
palupiyuliyani · 2 months ago
Text
Sebaik apapun mertuamu, dia bukan orang tuamu. Adalah wajar dan manusiawi jika dia lebih menyayangi anak-anaknya daripadamu. Jangan jadikan hal sederhana dan manusiawi ini sebagai masalah yang mengotori hatimu. Coba posisikan dirimu sebagai seorang ibu, wajar jika seorang ibu menyayangi anak-anaknya bukan?
Alhamdulillah kamu masih punya orang tua yang menyayangimu, yang setia mendo'akanmu.
Mertuamu baik, dan itu cukup. Dia menerima kehadiranmu sebagai istri dari anak yang sudah dia besarkan dengan kasih sayang selama berpuluh tahun.
Sebaik apapun iparmu, dia bukan saudara kandungmu. Adalah wajar dan manusiawi jika mereka lebih menyayangi saudara se-kandungnya daripadamu, yang sudah tumbuh bersama mereka selama berpuluh tahun. Maka tidak perlulah baper atau apapun jika mereka lebih nyaman bersama saudara-saudaranya.
Iparmu baik, dan itu cukup. Mereka bisa diajak sharing, ngobrol bahkan kadang curhat. Mereka menerimamu sebagai saudara baru yang menemani saudara lelakinya yang telah berpuluh tahun tumbuh bersama dalam suka dan duka.
Jangan membesar-besarkan masalah sepele dan manusiawi semacam ini.
Kamu dan suamimu, beserta keluargamu dan keluarganya sudah menjadi satu keluarga besar. Maka menjaga aib menjadi kewajibanmu.
Jangan terpancing jika ada satu dua temanmu bercerita tentang mertuanya, atau di sosmed sudah mulai bermunculan saling menjelekkan antara mertua dan menantu. Naudzubillah
Keluarga suamimu baik, dan orang lain cukup tau itu.
Kalaupun ada konflik dalam keluarga, itu wajar. Di keluargamu pun ada konflik, orang lain tidak perlu tahu itu.
Bismillah, jaga hatimu untuk tetap bersih dari segala prasangka buruk :)
266 notes · View notes
mbeeer · 4 months ago
Text
Tumblr media
Setelah semesta menghancurkan hidupmu berkali-kali meski kau sudah memohon dengan teramat sangat namun rasa perih itu tak kunjung juga berhenti, terkadang tak percaya lagi akan kekuatan doa menjadi hal yang rasanya wajar sekali.
Seperti halnya malam ini, selepas lembur, aku memutuskan untuk pulang kantor. Teman-temanku sudah pada menikah. Setelah bekerja, mereka akan pulang menuju keluarganya masing-masing. Sedangkan aku yang tidak punya siapa-siapa ini, sekarang mash duduk sendirian di parkiran mobil yang sudah lengang dengan sebotol bir, rokok murah, dan sepotong kue yang aku beli dari toko manisan dekat kantor.
Tidak ada yang menantiku di rumah. Di kota yang penuh gegap gempita ini, entah kenapa aku merasa sepi sekali. Hari-hari monoton dan ditutup dengan kesendirian, tampaknya lambat laun mulai membuat hidup tak lagi menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dijalani.
Dulu, kupikir merantau ke Ibu kota akan mengubah hidupku menjadi lebih baik. Atau setidaknya bisa lebih hidup sebagai seorang manusia pada semestinya. Namun sekarang, bahkan di tengah pesta yang penuh dengan hingar bingar dan tawa lepas itu pun, aku selalu merasa sendiri.
Aku tidak pernah menyangka, kesepian ternyata bisa semembunuh ini.
Ini adalah kumpulan cerita dari orang-orang yang mudah digantikan;
mau membaca?
172 notes · View notes
kurniawangunadi · 8 months ago
Text
Kebutuhan Saat Dewasa
Menjalani kehidupan setelah lewat usia 30 rasanya lebih sepi. Nggak tahu si, apa karena setiap orang yang seumur juga lagi pada fokus sama keperluan hidupnya sendiri. Menjalani peran-peran orang dewasa yang dulu kukira sangat menyenangkan sewaktu kecil, ternyata sesepi ini.
Di tempat kerja memang bertemu banyak orang, tapi sepulangnya ya tetap rasanya berjuang sendiri. Orang lain mungkin tahu cerita hidup kita, tapi belum tentu mereka akan memikirkan setelahnya. Ya lagi-lagi, kita perlu menyelesaikannya sendiri.
Orang lain datang sewaktu membutuhkan bantuan kita, sudah terasa wajar. Karena kita pun mungkin demikian. Menjadi orang dewasa yang memiliki banyak hubungan transaksional, tidak ada salahnya. Justru malah lebih sedikit berurusan panjang dengan orang lain malah lebih tenang. Selesai urusan, selesai. Beres.
Beberapa kesempatan yang kemudian berlalu karena kita masih harus menyelesaikan peran dan tanggungjawab lain juga sudah bukan hal baru lagi. Sudah biasa terjadi. Bahkan mungkin beberapa kali harus merelakan peluang karena takut pun sudah bukan lagi sesuatu yang terlalu membebani pikiran. Memang demikian kadar keberanian kita untuk berhadapan sama risiko.
Nggak apa-apa. Menjalani kehidupan dewasa yang penuh dengan pertanyaan ini saja sudah cukup membuat kita kesepian. Jangan ditambah dengan harapan, apalagi berharap kepada manusia. Pasti kecewa.
Tidak ingin menebak-nebak masa depan, tapi khawatir.
Tidak ingin mengungkit-ungkit masa lalu, tapi terbayang-bayang.
Betapa bahagianya menjadi anak kecil. Tapi rasa-rasanya, baru beberapa hari yang lalu kita menjadi anak kecil, sekarang tiba-tiba harus di usia ini, dengan kita yang mungkin merasa belum siap atas segala tanggungjawab.
Tapi tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Kita hanya perlu menghentikan pikiran yang liar saat sendirian.
279 notes · View notes
ngasihjedaa · 4 months ago
Text
Bukan kamu yang salah, tapi kata-kata mereka yang terlalu kejam.
Wajar hatimu patah, wajar kamu merasa ingin marah. Tapi kamu hebat tak ikut melemparkan kata-kata kasar dari mulutmu.
Memilih untuk membiarkan amarahmu perlahan menyurut. Padahal ombak kesal di dadamu sedang bergelombang besar. Kamu tau kamu berbeda.
Padahal sekali lagi kamu bisa dan berhak marah karena kamu manusia.
@ngasihjedaa
149 notes · View notes
shafiranoorlatifah · 1 year ago
Text
2023
Begitu sulit menggambarkannya dengan kata, dan begitu mudah dilukiskan dengan tangisan.
Tahun di mana diri ini merasa banyak diuji dari semua sisi kehidupan. Dan hal tersebut ternyata menjadi titik balik dari kehidupan ini.
Tahun di mana aku lebih 'egois' untuk diriku sendiri, tahun di mana aku mulai belajar berani menentukan keinginanku sendiri, tahun di mana aku belajar untuk membahagiakan diriku sendiri tanpa harus peduli dengan 'komentar' orang lain.
Hal-hal yang menjadi catatanku di tahun 2023 ini adalah :
Jangan letakkan 'dunia' dalam target nomor 1 mu
Bertemanlah secukupnya, berkomunikasi secukupnya, karena semakin kamu tidak tahu, maka akan jauh lebih baik.
Akan ada masanya saat memilih bersikap diam itu akan menenangkanmu.
Rangkailah kata dengan baik dan pikir ulang berkali-kali, karena terkadang yang kau anggap baik, juga tidak diterima dengan baik pula oleh orang lain. Kamu tidak pernah tau sedalam apa kata-kata dan sikapmu bisa menyakiti hati orang lain, bahkan bisa mengarahkannya untuk melakukan hal yang 'menyakiti dirinya sendiri'.
Kamu tidak perlu membuat dirimu bisa melakukan semua hal, karena setiap orang memiliki perannya masing-masing di dunia.
Kecewa itu wajar, marah dan sedih itu hal yang manusiawi, tapi kamu harus bisa mengontrolnya dan tidak mengikuti hawa nafsu untuk meledak-ledakkannya.
Menabunglah sebanyaknya, keluarkan secukupnya. Tidak berfoya-foya, tetapi juga tidak pelit kepada keluarga.
Ingatlah akan kebaikan seseorang, bukan tentang kekurangan atau keburukannya, karena setiap orang pasti punya kesalahan.
Menolak sesuatu yang kamu tidak sanggup itu tidak apa-apa dan jangan merasa bersalah bahkan menyalahkan diri sendiri.
Nikmatilah waktumu sebanyak mungkin dengan orang-orang yang kamu sayangi, karena kamu tidak akan tau bagaimana masa depanmu, sampai kapan waktumu, dan sampai kapan sehatmu.
30-12-2023 ; 01.53 wib ; @shafiranoorlatifah
464 notes · View notes
yunusaziz · 2 days ago
Text
Kita Selalu Punya Pilihan :)
Tumblr media
Jika mungkin Allah tidak takdirkan kita lahir dari keluarga, sosok orang tua yang mampu memberikan segala kebaikan di masa kecil, hal itu bukan berarti kita kehilangan peluang menjadi orang yang kuat dan berarti.
Wajar kok jika kita tumbuh dengan hati yang dipenuhi pertanyaan: 'Mengapa perhatian itu terasa begitu jauh? Mengapa kasih sayang itu terasa begitu sulit digapai? Kenapa hidup seolah tidak adil bagiku?'
Seringkali mungkin hati ini tergoda untuk terus meratap dan mencari alasan atas kekurangan yang kita alami saat ini, tetapi yang harus kita ingat, bahwa di dalam setiap tantangan itu, selalu ada pilihan untuk bangkit dan menjadikan luka sebagai pijakan.
Ibarat sebuah pohon yang tumbuh di lahan tandus, bukankah mereka memiliki akar yang kuat? Mungkin kita seperti itu. Tumbuh dalam keadaan 'kurang' kasih sayang di masa kecil, tetapi kita diberi kekuatan untuk bertahan, diberi keberanian untuk melangkah, dan diberi kebijaksanaan untuk memahami hidup dengan cara yang lebih dalam.
Mungkin perlahan kita harus mulai betul-betul memahami bahwa, kehidupan adalah tentang bagaimana kita bersikap atas apa yang telah terjadi. Masa lalu sampai kapanpun tidak akan pernah berubah, tetapi masa depan ada dalam genggaman tangan dan keteguhan pada hati kita.
Jadi, meskipun kasih orang tua mungkin terasa kurang, kasih Allah tak pernah berkurang. Dalam setiap doa, dalam setiap usaha, Allah selalu dekat. Dia mendengar rintihan hati kita, Dia melihat setiap langkah kecil kita menuju perbaikan, dan Dia bangga ketika kita memilih untuk bangkit, meski dengan luka di hati.
Tetap semangat yaa, jangan lupa minta pertolongan jika memang berat :)
74 notes · View notes
nukhshine · 2 months ago
Text
Berharap Sama Manusia: The Art of Hurting Yourself
Kadang kita tuh suka lupa kalau manusia itu ya manusia, nothing more, nothing less. Kamu pernah nggak sih, expect too much dari seseorang? Kayak berharap dia bakal selalu ada, always understand, atau nggak pernah ngecewain? And then, boom! Reality hits you hard, and you’re left there wondering, “Kenapa ya dia nggak kayak yang aku bayangin?” Well, welcome to the art of self-torture: hoping too much on people.
Here’s the thing: manusia itu nggak sempurna, termasuk kamu dan aku. Tapi anehnya, kita sering naro ekspektasi tinggi banget ke orang lain, seakan mereka superhero yang nggak bakal pernah salah. Padahal, news flash, mereka punya limit, sama kayak kamu. Terus, pas mereka nggak sesuai ekspektasi kita, apa yang kita lakuin? Ngambek, kecewa, overthinking, bahkan kadang jadi toxic ke diri sendiri. Sounds familiar, right?
Salah satu contohnya gampang aja: kamu chat temen buat curhat karena lagi bad day, terus dia slow respon atau bahkan nggak bales. Langsung overthinking, “Dia nggak peduli sama aku, ya? Apa aku terlalu merepotkan?” Padahal mungkin dia lagi sibuk atau capek, tapi kita otomatis ngerasa neglected. That’s what happens when you rely too much on people’s reactions.
It’s not their fault sih, tapi lebih ke bagaimana kita naruh terlalu banyak ekspektasi ke mereka. Harusnya kita sadar, kalau hidup tuh nggak fair. Nggak semua orang bakal ngerti kamu, nggak semua orang bakal ada buat kamu. Dan itu normal. They’re human, not your emotional support system on-demand.
Kalau udah gini, solusi terbaik adalah belajar self-reliance. Mulai belajar ngobrol sama diri sendiri, be your own best friend. Kalau kecewa, ya udah, kasih space buat diri sendiri. Kalau sakit hati, ya wajar, tapi jangan lupa move on. You don’t need anyone to validate your worth.
Jadi mulai sekarang, mungkin kita harus lebih bijak. Hope less, love more, and keep your peace. Bukan berarti nggak boleh percaya sama orang, tapi ya jangan lupa kalau manusia itu nggak sempurna. The only person you can fully rely on is yourself. Sisanya? Just let it flow. Kalau mereka ada buat kamu, syukur. Kalau nggak, ya udah. Life goes on.
127 notes · View notes
sarasastra · 1 month ago
Text
Tentang Penolakan
Katanya, semakin dewasa kita semakin terbiasa dengan ‘penolakan.
Bentuk-bentuk penolakan dari orang dewasa lainnya bisa datang dalam bentuk:
- tidak merespon pesan (dengan asumsi sudah membaca pesan tersebut meski dari pop-up notification dilayar hape), semi mengabaikan untuk waktu yang cukup lama
- berkata “maaf, tidak” secara asertif dan bicara langsung atau menyampaikan penolakannya (bisa menyertakan alasan maupun tidak)
- mengalihkan pembicaraan, tidak mau menyinggung topik tertentu yang sebetulnya ia sedang ‘memberikan tanda penolakan’.
Setidaknya tiga hal ini yang seringkali muncul dari orang terdekat kita, teman kita, maupun kenalan kita. Aku pribadi sedang belajar untuk tidak mengambil hati ketika mendapatkan tanda-tanda penolakan seperti 3 hal diatas tersebut.
Aku perlu berlapang hati dan meluaskan penerimaan jika ada hal-hal yang tidak sesuai keinginanku.
Toh wajar sekali manusia punya respon yang berbeda ketika dihadapkan sesuatu. Mungkin aku juga pernah melakukan satu atau beberapa diantara cara penolakan tersebut baik kusadari atau tidak, aku mohon maaf jika itu membuatmu atau siapapun yang membaca tulisan ini menjadi tidak nyaman karena ‘perlakuanku’.
Jujur, memang tidak nyaman dan tidak enak ditolak itu. Entah dalam konteks sedang menjajakan barang ‘jualan’, sedang mengajak seseorang untuk berbuat sesuatu, maupun sedang meminta bantuan.
Tapi sebisa mungkin, tolaklah sesuatu dengan cara yang baik.
Cara yang tidak menyakiti, penolakan yang sopan yang membuat lawan bicara bisa mengerti. Upayakan saja, selebihnya respon lawan bicara bukan tanggungjawab kita.
Tangerang, 13 Desember 2024 | 11.46 WIB
79 notes · View notes
nonaabuabu · 2 months ago
Text
Doa-Doa Tak Pernah Selesai
(1)
Tuhan, aku tahu aku punya banyak sekali dosa, juga kesombongan yang entah bagaimana tak kunjung punah. Namun biarkanlah aku bertaubat berulang-ulang, menggunakan hak istimewa yang Kau berikan sejak aku terlahir ke dunia.
Kau sudah pasti tahu kenapa aku datang. Aku sedang menyukai seseorang, tak ingin aku munafik jika di hadapanmu (percuma juga, Kau maha tahu). Jujur saja, hatiku meminta. Namun aku sadar, siapalah aku di hadapan cinta.
Kali ini aku tak ingin mengutuk, meski hatiku sudah mulai ribut. Belum lagi kepala dan seluruh isinya yang semakin hari semakin kusut. Namun izinkan aku menggunakan kesempatan kali ini untuk meminta melebihi dicintai salah satu makhluk-Mu yang lain.
Aku meminta kelapangan dada, agar tak begitu banyak dendam bermukim di sana. Juga rasa benci yang kerap beranak pinak. Rasa iri yang tak kunjung selesai. Rasa dengki yang susah sekali dikenali.
Sebab aku tahu, akar dari hatiku yang semerawut tidak terletak pada keraguanku terhadap cinta, atau perasaanku terhadap dicintai. Ia hidup sebagai kegagalanku menguasai nafsu, amarah dan emosi.
Sepanjang aku hidup, inilah yang paling sulit. Bertikai berkali-kali dengan diri sendiri. Kadang tak mengenali kata hati, terkadang menuduh hati menginginkan yang tak mesti. Kadang menganggap segala hal wajar dilakukan selama bisa bertahan dalam keparatnya dunia (mohon ampun, ternyata aku masih mengutuk).
Tuhan, aku percayakan urusan perut sejengkal ini kepada rezeki yang telah kau takar. Aku percayakan urusan jodoh ini kepada nama yang telah kau sandingkan jauh sebelum aku dilahirkan. Aku percayakan urusan napas ini kepada masa dari garis tangan yang kau tuliskan. Namun, sebagaimana aku percaya usaha yang kadang mengkhianati hasil, biarkan aku tetap tumbuh tanpa pernah menyerah, sekalipun hasilnya bukanlah apa yang kuharapkan. Proses-proses itu, izinkanlah kulalui meski terkadang banyak sekali perdebatan dalam perjalanannya.
Aku meminta lebih banyak kepada kesadaranku akan hal baik yang telah tumbuh, sebagaimana Kau menitipkan pikiran yang mampu dan kritis. Agar tak ada rasa benciku pada pengetahuan, tak ada rasa dendamku kepada tanggung jawab, tak ada rasa iriku kepada mimpi, dan tak ada rasa dengkiku kepada iman.
Tuhan, aku memang menyukai seseorang. Sekali lagi aku tak munafik jika aku menginginkannya. Tapi melebihi dia (sekalipun aku tahu dengan hadirnya di hidupku maka dunia akan lebih baik) aku ingin lebih baik sebagai seorang individu, terlepas aku berhenti menyukainya atau Kau izinkan aku mencintainya seumur hidup.
Gerimis Sebelum Fajar, 22 November 2024
106 notes · View notes
dinisuciyanti · 2 months ago
Text
Babat alas
Menjadi generasi "babat alas" di keluarga besar itu, berat. Orangtua, bahkan nenek kakek paman tante sampai keluarga jauh, yang gak familiar dengan pendidikan tinggi s1/s2/s3 itu, ya mesti pelan-pelan dijelasin, bahwa pendidikan bukan sekedar "titel" lalu menjadi "asn".
Yang orangtua nya guru besar, menjadi sangat wajar kalau anaknya sekolah sampai s3. Yang orangtuanya bahkan gak SMA? oh berat yorobun. Apalagi di negara patriarki, nilai seorang perempuan melesat ketika sudah menikah. Kamu s3? belum menikah? susah ngejarnya.
--Emang yang minta dikejar siapa?--
Kemarin ada seorang adik yang bertanya kepada ku soal menjadi generasi babat alas, dan single di usia yang sudah tidak lagi muda. Jawaban yang aku lontarkan was like bring back my memories, mesti melewati berbagai drama -ribut, nangis, kabur sejenak, ngomel- sampai akhirnya bisa agak tenang di usia 31-32, yang katanya sih badai akan semakin kencang setelahnya.
Menjadi perempuan, babat alas pendidikan, itu berat, lebih berat lagi berasal dari kabupaten.
9 Desember 2024
78 notes · View notes