#Pendidikan
Explore tagged Tumblr posts
Text
“NGERTENI GAYANE GUSTI ALLAH”
"Allah knows and you do not know".
Hidup sering kali berjalan dengan cara yang tidak kita duga. Orang yang kita pikir akan selamanya bersama, tiba-tiba menjauh. Orang yang dulu hanya kenal sebatas nama, kini menjadi bagian penting dalam hidup kita.
Semua ini membuat hati bertanya, “Kenapa semua ini terjadi?” Jawabannya sederhana, tapi mendalam: Allah punya caranya sendiri.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Ayat ini seperti alarm yang mengingatkan, bahwa kita manusia hanya mampu berencana, tetapi Allah yang menentukan. Perjalanan hidup yang penuh liku ini adalah bagian dari rencana-Nya yang sempurna, meski sering kali tak terlihat oleh mata manusia yang terbatas.
Ada saatnya Allah menjauhkan kita dari sesuatu yang kita inginkan. Tapi, pernahkah kita berpikir, mungkin Allah menjauhkan untuk mendekatkan yang lebih baik? Ketika sebuah pintu tertutup, itu bukan tanda kegagalan, melainkan sinyal bahwa ada pintu lain yang lebih cocok untuk kita. Mahfudzot Arab berkata, “Man jadda wajada, wa man shabara zhafira” (Siapa yang bersungguh-sungguh akan mendapatkannya, dan siapa yang bersabar akan menang). Sungguh, tidak ada perjuangan yang Allah biarkan berlalu sia-sia.
Maka, berhentilah mengira bahwa segalanya harus sesuai dengan keinginan kita. Kehidupan ini lebih besar dari apa yang kita rencanakan. Percayalah, Allah tidak pernah keliru dalam meletakkan takdir. Dia tahu kapan waktu terbaik untuk mempertemukan, memisahkan, mendekatkan, atau bahkan menjauhkan. Tugas kita hanya berusaha sebaik mungkin, lalu bersandar sepenuhnya pada-Nya.
Hiduplah dengan keyakinan bahwa setiap langkah, baik atau buruk di mata kita, adalah bagian dari kasih sayang-Nya. Sebab, yang tertakar tak akan tertukar. Apa yang ditetapkan Allah akan selalu menjadi yang terbaik, bahkan jika saat ini kita belum bisa memahaminya.
21 notes
·
View notes
Text
Indonesia Gelap
Indonesia emas, rakyatnya cemas.
This is an emergency about my country. I draw this to show my protest against the new politics and my president's choice. I just know it everything is going to be mess and went wrong if everyone vote Prabowo as the new president, like haven't y'all learn what he did in past?? But it doesn't mean our old president, Jokowi are any better. He's the same but not till making this mess. Now I'm scared about Indonesia future and my own future. AYO LAWAN!!!
Please pray us, Indonesian safety. GOVERNMENT IS NOTHING WITHOUT US.
#indonesia#indonesia gelap#artist bersuara#spread awareness#indonesian#koruptor#makan siang gratis#pendidikan#digital art#cuphead#menuju Indonesia cemas
18 notes
·
View notes
Text
Banyak hal yang ingin kita skip dari kehidupan, hal-hal yang tak pernah kita inginkan, hal-hal yang selalu kita takutkan, maka dari itu, kita selalu berdoa kepada allah agar dijauhkan dari perkara tersebut.
Salah satunya adalah perceraian. Perceraian kerap kali terjadi entah karena adanya pihak ketiga, perselisihan yang terus menerus, atau bahkan faktor ekonomi. Begitu menakutkan sekali fenomena ini, maka dari itu betapa pentingnya mempersiapkan diri sebelum menempuh peran yang baru, baik itu pada laki-laki ataupun perempuan.
Salah satu hal yang harus dipersiapkan adalah ILMU.
Ilmu adalah alat yang akan mengunci agar semua faktor pemicu tersebut nggak pada keluar di kehidupan kita. Dengan ilmu, berbagai hal akan tersaring, kita pun tau bagaimana cara menghadapi perseteruan yang datang, dan kita akan tetap memiliki tujuan kehidupan yg kekal sehingga tidak ada celah untuk merusak sesuatu yang telah kita bangun sebelumnya.
Berbicara tentang perceraian, perceraian adalah salah satu hal yang allah tak suka. Dan nggak ada seorang pun yg mengharapkan hal itu, namun... tetap saja, kita harus mengetahui ilmu tentang hal tersebut. Agar apa? Agarr ya..itu tadi, kita terjauhkan dari hal hal yag mendekati perceraian.
Aku baru tahu, kalo talaq itu ada urutan dan aturan yang di dalamnya pun allah masih memberikan kesempatan agar dua insan terus bersatu, dalam talaq satu aja, allah kasih kesempatan masa iddah yang cukup lama agar dua insan bisa tetap bersatu menemukan titik terang untuk melanjutkan pernikahannya,begitupun pada talaq dua. Hingga sampai pada talaq tiga barulah allah berii aturan yang lebih berat lagi. Dan lagii, allah memberikan himbauan kepada kaum laki-laki agar hati hati dalam berucap kepada istrinya.
Untuk full pembahasannya, mentemen bisa kunjungi channel youtube ustadz felix siauw yaa :)
Semoga, allah selalu melindungi dan membantu kita untuk tetap taat beribadah kepadaNya, mendapatkan pasangan hidup yang bertemu karena tujuan yang sama, berakhir pun bersama pada tujuan yang sama.
#fidinadiaries #hanyakata #pernikahan
50 notes
·
View notes
Text

Menjaga, merawat itu jauh lebih sulit dibanding menanam atau memulai...
Bersabar pada prosesnya itu jauh lebih bijak dibanding fokus pada hasilnya...
Terkadang hasil hanya sebagai pameran atau branding yang penuh intrik dan keghaiban...
Menghafal atau menambah hafalan qur'an itu boleh jadi mudah, biidznillah..
Namun, yang sulit darinya itu adalah menjaga atau muroja'ahnya.
Hafalan tanpa di jaga atau diulang-ulang hanyalah kedustaan yang dibuat antara hati dengan lisan, dan lisan dengan perbuatan.
Allahummarhamnaa bil Qur'an 🤲🏼
19 notes
·
View notes
Text
Mesin Perubahan

Pepatah Arab lama mengatakan
"Anak muda adalah sebagian kegilaan".
Generasi muda menyimpan cita-cita sekaligus ambisi. Ia punya langkah-langkah hebat jika dituntun dengan baik yaitu agama. Menuntunnya berarti melaksanakan satu langkah hebat untuk membuat perubahan.
Anak muda berekspresi dengan bebas atas apa yang diinginkannya itulah yang disebut idealis. Paulo Freire menyampaikan dalam bukunya, bahwa:
"Esensi pendidikan seharusnya membebaskan dan pendidikan harus bisa membentuk kesadaran kritis anak-anak muda."
Sejatinya, seperti diungkapkan oleh Dr. Aidh al-Qarni, wujud yang paling remeh dan hina di dalam ini adalah manusia yang hanya makan, minum, dan tidur. Sumber kemanfaatan dirinya sudah tidak mengeluarkan air lagi, lembah kebaikannya telah kering, dan dia berhak untuk tidak dianggap eksistensinya. Dia sama saja telah berada di alam kematian, hanya saja dia masih makan dan minum.
Imam Syafi'i memberi sebuah nasihat, bahwa:
"Demi Allah, hidup seorang pemuda hendaklah dengan ilmu dan takwa. Jika tiada keduanya, kematian lebih baik bagi mereka".
Kita sebagai umat pertengahan belajar menempah kemampuan, beradaptasi dan belajar lingkungan dengan menyatukan diri dengan alam. Membiarkan kebebasan diri untuk mengeksplor keingintahuan namun juga sadar terhadap kebatasan nalar manusia.
25 notes
·
View notes
Text
Bagaimana kita mengajar, sebagaimana kita belajar.
Pelajaran menarik hari ini. Mencoba hal baru, menaklukkan ragu, memang selalu mencetak kesan tersendiri. Tadinya, aku merasa cukup mampu dan tak seburuk itu. Ternyata, aku mah masih pemula, puhh ajarin dong puhh sepuhh!
Menyadari bahwa mengajar tak se-sederhana itu. Ada banyak sekali kompetensi yang perlu kita penuhi. Problem solving dalam kelas salah satunya. Menjadi catatan untuk diri kedepannya. Teknik membuka kelas, mereview materi, menciptakan interaksi, hingga menutup kelas sepenuhnya menjadi tanggung jawab seorang pengajar.
Bagaimana mengatasi anak yang tidak mau menjawab pertanyaan? Bagaimana jika ada anak yang lari kesana kemari selama pembelajaran?
Cukup dua pertanyaan untuk melihat seberapa jauh kemampuanku. Wah diuji abis-abisan ini mah. Pake ada pertanyaan, "Itu gambar petanya kenapa tersenyum, kak?" apa ga nangiss muter otakk buat ngejawab itu semwah. Tapi jadi ingatan manis tersendiri bahwa aku sudah berada di titik ini.
Dapet feedback mahal tapi gratisan kalo kata Mba Anja. Benerr ajaa baru kali ini ditolak tapi malah makin semangat memperbaiki buat mengulang lagi di kesempatan selanjutnya. Seneng banget jadi paham letak kekurangan kita dimana.
Big thanks to Kak Ray Ilahude yang sudah menyambut dengan sangat baik, mempersilakan, menilai, dan melepas kita untuk kembali belajar. Merasa sangat dihargai berada satu ruang dengan pembicaraan berisi. Satu penyesalan karena tak memanfaatkan kesempatan bertanya dengan baik.
Takjub dengan caranya melepas tanpa membuatku merasa buruk. Yang aku rasakan bahwa ini bukanlah penolakan. Aku justru diberikan waktu untuk benar-benar mempersiapkan diri menjadi layak berperan untuk pendidikan anak muslim di Indonesia. See you di microteaching batch selanjutnya, kak!
Catatan untuk diri agar lebih melibatkan murid sepanjang pembelajaran, konsisten sejak awal hingga akhir.
Tadi ada temennya ya sebelum ini? Kelihatan bahwa kalian berdua punya latar belakang pemahaman yang padat tapi letak kekurangannya sama. Murid tidak banyak dilibatkan, tidak banyak bertanya, dsb. Tadi sudah bagus diawal Kak Arwa meminta untuk mengulang setelah dibacakan, tapi di akhir terutama bagian himārun dan khimārun full penjelasan tanpa melibatkan murid sama sekali. Akan lebih baik misalkan murid diminta mengulang atau diberi pertanyaan pemantik.
Baiklaahh mari kita taklukkan ketidaknyamanan berproses demi progres yang apikk! emang lupa bgt sii tadi pas udah akhir buat melibatkan anak-anak dan baru sadar juga pas dikasih feedback wkwk ga nyesell ikut mt kali ini walaupun belum keterima.
edit: lupa bgt masukin point tertera di judul :) kayaknya jadi blog baru aja nanti deh ya.
41 notes
·
View notes
Text

20240125 Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kamu gunakan untuk mengubah dunia — Nelson Mandela.
2 notes
·
View notes
Text
Menjadi Perempuan
Jadi perempuan itu susah. Walau bukan tumpuan keluarga, tapi ekspektasi yang tumpah di pundak perempuan ngga kalah banyak sama yang dipikul laki-laki. Harus selalu berdandan rapi, tidak terlihat kusam dan kumal. Harus jadi pendiam, pemalu, lemah lembut, tidak banyak membantah, blabla and the list goes on.
Di lingkungan profesional, gue sering banget denger cerita temen dibilang ngga bisa kerja. Padahal ya mungkin yang ngomong tidak lebih baik kerja nya dari perempuan yang dia katain. Kata mereka, perempuan itu lebih lemah fisik nya. Harus diakui memang kodrat perempuan punya fisik yang tidak sebaja laki-laki, tapi bukan berarti ngga bisa kerja kan ya?
Tapi gue bukan mau ngomong tentang mereka-mereka yang ngomong jelek. Ini keresahan yang hadir dan menghampiri, ketika kami, perempuan, mulai bermimpi tinggi.
Terutama, dalam konteks pendidikan dan pekerjaan.
Inget banget, gue pernah liat story temen yang dibilangin "kalau nanti S2 makin susah cari jodoh nya lho, laki-laki pada minder". Sounds familiar? Iya banyak laki-laki yang gitu. Temen gue wawancara salah satu beasiswa dan sempat ditanya "kalau kamu keluar negeri, gimana suami? Nanti minta pulang ngga, kan perempuan mau nya dekat dengan suami" and my friend got rejected just because of this question. "Kerja nya di tempat bagus sih, jadi ga ada yang berani". Yaaa you all know what I mean. Makin besar mimpi nya, makin sering diasosiasikan dengan jodoh yang makin sulit. Gue bahkan pernah kepikir karna omongan itu, apa iyaya belum ada jodoh nya karena pasang kriteria yang lebih baik dari diri sendiri itu ngga ada makhluk nya? I end up drowning in my toxic mind hahaha. Yaaa sebenernya as simple as belum dikasih ketemu Allah aja jodoh nya.
Jadi perempuan bermimpi tinggi itu susah. Tapi bukannya ngga bisa. Poin utama nya adalah untuk tidak lupa peran wanita di dalam rumah. Siapa pun ia diluar rumah, di dalam rumah ia jadi istri, ibu, and also the lady of the house (ya case gue masih anak ya). Kudos to all the amazing woman! Banyak kok yang punya mimpi besar, banyak juga yang berhasil tercapai. Ada yang berhasil jadi direktur dan tetap jadi ibu yang hebat di rumah. Ada yang sampai menggendong anak ke dalam kelas dan jungkir balik menyelesaikan studi nya. Ada juga yang berhasil menjadikan rumah nya sebagai tempat kembali terbaik untuk keluarga nya. No one has the right to judge and stop you.
At the end, semua dikembalikan ke niat. Gue pernah nulis tentang perempuan yang bekerja, tentang betapa rawan nya ambisi wanita dengan niat nya. Untuk apa mau lanjut pendidikan? Jangan karena mau membuktikan kalau perempuan lebih hebat dari laki-laki, begitu tujuan itu tercapai courage lanjut studi nya bubar jalan. Masih banyak kok opsi-opsi niat baik yang bisa membawa ke surga.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَ��
Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya." {HR Bukhari dan Muslim}
Untuk kakak-kakak dan ibu-ibu, you'll do great. No, it should be, you have done amazingly well and will do even better in the future. Kalau ada yang ngomongin mimpi-mimpi kita biar aja, diemin aja. What matter most itu kan ridho nya Allah. Semoga Allah selalu mengiringi langkah kaki kita kemanapun ia diayunkan. Barakallah fiikum.
Ohiya, tulisan ini subjektif, tidak mewakili siapapun, dan berdasarkan pengalaman serta cerita yang pernah gue denger ya, semoga bisa diambil pelajaran😊
19 notes
·
View notes
Text
Menjadi Guru
Aku menyadari tidak mudah menjadi guru. Selain harus memahami bidang yg diajarkan, pentingnya memiliki kepiawaian dalam menyampaikan materi dan membawakan pesan atau hikmah kehidupan.
Lebih dari itu guru dituntut harus memiliki kesabaran yg luas, mental yg kuat, kemampuan mengelola emosi dan amarah, memiliki rasa peduli dan kepekaan yg dalam, tapi juga tegas dan tegaan.
Guru juga harus kreatif & mampu berinovasi. Ia harus mampu memahami kondisi siswa dan beradaptasi dengannya. Karena mau bagaimana pun bandelnya murid, guru tetap memiliki tanggung jawab untuk mendidik dan mencari solusi terbaik bagi permasalahan siswa.
Ah, iya.. Aku ngerasa kalau jadi guru jangan pernah berekspektasi terhadap murid. Cukup berikan peran terbaik sebagai guru. Ajarkan apa yg perlu diajarkan. Sampaikan, bimbing, ingatkan dan bantu murid untuk terus mengevaluasi hasil kerja dan pencapaian mereka. Sampaikan kebenaran dan tegur mereka jika berbuat kesalahan.
Ajarkan mereka tentang moral dan akhlak. Ajarkan mereka cara menghargai orang lain dan menghargai diri mereka sendiri. Ajarkan tentang nilai juang dan proses itu lebih berharga. Dan ajarkan mereka tentang kasih sayang Allah dan pentingnya selalu berharap kepadaNya (berdoa & beribadah).
Jika mereka gagal hari ini, ingat mereka masih anak-anak. Mereka masih akan bertumbuh dan berproses menuju masa kedewasaannya. Masih ada waktu untuk mereka belajar tentang kehidupan. Mereka gagal hari ini bukan karena mereka nakal atau tidak pandai. Bukan juga karena kita kurang upaya atau bukanlah guru yg menyenangkan. Dan jangan pernah pula menyalahkan diri sendiri dan merasa gagal menjadi seorang guru.
Setiap anak atau pun kita memiliki masanya. Ada proses yg dilalui. Bagaimana pun mereka memiliki rangkaian takdir mereka sendiri. Tugas kita sebagai guru hanya memastikan kita telah memberikan peran terbaik sebagai perantara untuk mendidik mereka menjadi generasi penerus bangsa yg cerdas dan bermoral nantinya.
Mereka seorang siswa. Mereka sedang belajar. Dan jika mereka gagal, ingat! "Gagal adalah bagian dari proses belajar". Sertakan doa terbaik untuk mereka akan lebih baik dari pada menjustifikasi kegagalan mereka sebagai kebodohan atau ketidakmampuan mereka.
Tapi, tetap jadi guru gak mudah. Apalagi menghadapi siswa dengan tingkah yg hiperaktif, minus adab, sulit dikontrol, dan sebagainya. Memang mau gimana pun, jika dah terlanjur kesal, "Kontrol emosi dan luaskan sabar!" 😂 (Hiks..Tidak semudah itu! 🙃) Tapi, yah begitulah seorang guru dituntut.
Serius!! Guru adalah profesi terkeren!!!😌😎🤟
Salut untuk semua guru Indonesia yg memberikan pengabdian terbaiknya demi anak bangsa. ���🤍
14 notes
·
View notes
Text
Pentingnya Adab Sebelum Ilmu: Pondasi Etika dalam Pendidikan
Adab, atau etika, adalah prinsip-prinsip perilaku yang baik yang membentuk dasar dari interaksi manusia. Sebelum seseorang memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu, memiliki adab yang baik adalah hal yang esensial. Dalam konteks pendidikan, pentingnya adab sebelum ilmu sangatlah signifikan, karena adab adalah fondasi yang kuat bagi pembelajaran yang bermakna dan berkualitas. Artikel ini akan membahas mengapa adab sebelum ilmu sangat penting dalam pendidikan, bagaimana adab memengaruhi pembelajaran, dan bagaimana kita dapat mengintegrasikan nilai-nilai adab ke dalam lingkungan pendidikan.
Mengapa Adab Sebelum Ilmu Penting dalam Pendidikan?
Membentuk Karakter yang Baik: Adab membantu membentuk karakter individu. Sebelum seseorang memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu, memiliki karakter yang baik adalah hal yang penting. Adab mencakup nilai-nilai seperti kesopanan, kerendahan hati, kejujuran, dan empati, yang merupakan landasan bagi karakter yang baik.
Membangun Lingkungan Belajar yang Positif: Adab menciptakan lingkungan belajar yang positif di mana setiap orang merasa dihargai dan dihormati. Ketika siswa, guru, dan staf pendidikan mempraktikkan adab yang baik, suasana di dalam kelas dan di sekolah secara keseluruhan menjadi lebih harmonis dan produktif.
Meningkatkan Kualitas Pembelajaran: Ketika siswa mempraktikkan adab, mereka menjadi lebih fokus dan terlibat dalam pembelajaran. Mereka belajar untuk mendengarkan dengan baik, berbicara dengan sopan, dan menghormati pendapat orang lain, yang semuanya merupakan faktor penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
Membantu Menciptakan Hubungan yang Baik: Adab membantu dalam membangun hubungan yang baik antara siswa dan guru, serta antara siswa satu sama lain. Ketika setiap individu mempraktikkan adab yang baik, hubungan di antara mereka menjadi lebih saling menghargai dan menguntungkan.
Persiapan untuk Kehidupan di Masyarakat: Mengajarkan adab sebelum ilmu membantu menyiapkan siswa untuk kehidupan di masyarakat. Keterampilan sosial dan emosional yang mereka pelajari melalui adab membantu mereka berinteraksi dengan baik dengan orang lain di berbagai situasi, baik di sekolah maupun di luar.
Menanamkan Kesadaran Etis: Adab juga mencakup kesadaran etis, yaitu kesadaran tentang apa yang benar dan salah. Memiliki kesadaran etis yang kuat membantu siswa membuat keputusan yang tepat dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Bagaimana Adab Memengaruhi Pembelajaran?
Menciptakan Kehadiran Mental yang Positif: Ketika siswa mempraktikkan adab, mereka menjadi lebih terbuka terhadap pembelajaran dan memiliki kehadiran mental yang positif. Mereka merasa nyaman dan aman dalam lingkungan belajar, yang memungkinkan mereka untuk fokus pada pembelajaran.
Meningkatkan Partisipasi: Adab yang baik mendorong partisipasi aktif dalam kelas. Siswa yang menghormati pendapat orang lain dan berbicara dengan sopan lebih cenderung untuk berpartisipasi dalam diskusi kelas dan berbagi ide-ide mereka.
Memperkuat Komunikasi: Adab yang baik memperkuat komunikasi antara siswa dan guru. Ketika siswa menggunakan bahasa yang sopan dan menghargai waktu dan ruang belajar guru, komunikasi antara keduanya menjadi lebih efektif dan produktif.
Meningkatkan Kolaborasi: Adab yang baik juga membantu meningkatkan kolaborasi di antara siswa. Ketika siswa menghargai pendapat dan kontribusi satu sama lain, mereka lebih mungkin bekerja sama dalam proyek-proyek kelompok dan mencapai hasil yang lebih baik.
Membangun Keterampilan Sosial dan Emosional: Praktik adab membantu membangun keterampilan sosial dan emosional siswa, seperti empati, pengendalian diri, dan kerjasama. Ini adalah keterampilan yang sangat berharga tidak hanya dalam pendidikan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Integrasi Nilai-Nilai Adab ke dalam Lingkungan Pendidikan
Program Pembinaan Karakter: Sekolah dapat mengembangkan program pembinaan karakter yang melibatkan pelatihan adab sebagai bagian integral dari kurikulum mereka. Program semacam itu dapat mencakup pelatihan dalam hal-hal seperti sopan santun, kerendahan hati, kejujuran, dan empati.
Pendidikan Etika: Sekolah juga dapat memasukkan pendidikan etika ke dalam kurikulum mereka, yang mencakup pemahaman tentang prinsip-prinsip etika dan bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Model Perilaku Positif: Guru dan staf pendidikan dapat berperan sebagai model perilaku positif dengan mempraktikkan adab yang baik dalam interaksi mereka dengan siswa dan sesama staf.
Penghargaan dan Pengakuan: Sekolah dapat memberikan penghargaan dan pengakuan kepada siswa yang menunjukkan adab yang baik. Ini dapat menciptakan insentif tambahan bagi siswa untuk mempraktikkan adab dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Partisipasi Orang Tua: Orang tua juga dapat berperan dalam mengajarkan adab kepada anak-anak di rumah. Mereka dapat memberikan teladan yang baik dan mendukung upaya sekolah dalam membangun budaya adab yang positif.
Untuk artikel lain, silahkan kunjungi website KB-RA Impianku Malang
#pendidikan#parenting#parenting islami#adab#pendidikan anak paud#keluarga#sekolah paud kota malang#tk islam kota malang#mendidik anak usia dini
7 notes
·
View notes
Text
6 LANGKAH BELAJAR YANG SERING KITA SEKIP SENDIRI.
Kadang kita merasa sudah belajar dengan maksimal. Kita hafal teori, tahu konsep, bahkan bisa menjelaskan ke orang lain. Tapi, benarkah itu cukup? Apa kita sudah benar-benar memahami esensi dari ilmu yang kita pelajari?
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim."
(HR. Ibnu Majah)
Namun, bagaimana cara kita memastikan ilmu itu benar-benar bermanfaat? Menggali dari Taksonomi Bloom, ada 6 level pendidikan yang seringkali kita skip. Padahal, jika diikuti dengan benar, ilmu akan lebih melekat, berbuah amal, dan membawa keberkahan dunia akhirat.
1. Menghafal (Memorizing)
Menghafal adalah langkah awal. Namun, hafalan tanpa pemahaman hanya seperti burung beo. Islam pun mengajarkan bahwa ilmu yang tidak diamalkan akan sia-sia.
"Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah."
Hafalkanlah ayat-ayat, hadis, atau ilmu duniawi, tapi jangan berhenti di level ini saja. Karena menghafal hanyalah pintu masuk dari perjalanan ilmu.
2. Memahami (Understanding)
Setelah hafal, kita harus memahami maknanya. Al-Qur’an tidak hanya untuk dihafalkan, tapi juga direnungkan. Allah SWT berfirman:
"Apakah mereka tidak memikirkan Al-Qur’an? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan banyak hal yang bertentangan di dalamnya."
(QS. An-Nisa: 82)
So, memahami ilmu adalah proses untuk menghidupkan akal dan hati agar tidak sekadar tahu, tetapi juga paham.
3. Menerapkan (Applying)
Ilmu yang sejati adalah yang membawa manfaat. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain."
(HR. Ahmad)
Maka itu, ilmu yang diterapkan, baik dalam amal duniawi maupun ibadah, akan menjadi pahala yang terus mengalir. Jangan hanya jadi kolektor teori, tetapi jadilah pelaku.
4. Menganalisis (Analyzing)
Di level ini, kita mulai membedah, mengkritisi, dan memahami alasan di balik sesuatu. Islam pun mengajarkan pentingnya analisis, seperti yang terlihat dalam perintah Allah untuk memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya:
"Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an) agar kamu menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan."
(QS. An-Nahl: 44)
Analisis mendalam membuat kita bijak dalam mengambil keputusan dan lebih berhati-hati dalam bertindak.
5. Mengevaluasi (Evaluating)
Kita sering lupa mengevaluasi apa yang telah kita pelajari. Padahal, evaluasi adalah inti dari pembelajaran. Sebuah hadis menyatakan:
"Orang yang cerdas adalah yang selalu menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati."
(HR. Tirmidzi)
Evaluasilah diri, apakah ilmu yang kita pelajari sudah membawa perubahan ke arah yang lebih baik?
6. Menciptakan (Creating)
Level tertinggi dalam pembelajaran adalah menciptakan sesuatu yang baru. Inilah wujud kreativitas yang lahir dari proses panjang belajar. Sebagaimana Allah menciptakan manusia dengan kemampuan berpikir:
"Dialah yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu berketurunan dan berbesan."
(QS. Al-Furqan: 54)
Menciptakan bukan hanya soal inovasi duniawi, tetapi juga tentang menciptakan amal kebaikan yang berdampak luas.
Terakhir sebagai refleksi. Bener, seringnya kita itu cuma hafal, tapi lupa memahami. Kadang ngerti, tapi lupa mengamalkan. Kadang evaluasi, tapi lupa menciptakan sesuatu dari ilmu itu.
Maka. Itu, benahi proses belajar kita, supaya ilmu jadi manfaat, bukan sekadar penghias otak.
#
12 notes
·
View notes
Text
Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa pendidikan merupakan sebuah cara untuk menuntun tumbuh kembang anak agar mereka dapat menjadi manusia dan masyarakat yang memiliki keselamatan dan kebahagiaan setinggi tingginya.
Pendidikan di Indonesia mengalami perubahan dan perkembangan dari masa ke masa,baik dari segi kurikulum yang diterapkan ataupun cara pendidikan disampaikan.
Sebelum saya mempelajari makna pendidikan menurut filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara,saya memiliki sudut pandang bahwa murid sudah seyogyanya diberi pembelajaran yang sesuai dengan teori atau buku teks yang di selenggarakan oleh pemerintah.Mereka harus bisa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal yang ditentukan oleh masing-masing sekolah . Murid idaman bagi seorang guru menurut pemikiran saya adalah apabila ada anak yang rajin datang ke sekolah,mengerjakan tugas dengan rapi dan baik ,aktif bertanya dan selalu mendapat nilai diatas kriteria ketuntasan minimal.Menjadi seorang murid menurut saya juga lebihbaik mendengarkan guru menjelaskan daripada bertanya terlalu berlebih yang diluar konteks pembelajaran.
Ternyata,selama ini saya telah abai terhadap karakter anak yang harus dituntun sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman menurut Ki Hajar Dewantara.Bagaimana bisa seorang guru hanya menjadi guru yang mampu mencerdaskan murid tanpa memikirkan budi pekertinya atau tanpa mengetahui kebutuhannya?Saya merasa bersyukur mendapat pengetahuan baru sehingga saya berharap saya belum terlambat mempelajari bagaimana menjadi guru yang tidak hanya mampu mengajar namun juga mampu mendidik sesuai kodrat zaman dan kodrat alam.Kodrat alam sesuai dengan kondisi alam mereka tinggal,dan kodrat zaman sesuai dengan perkembangan anak agar mereka menjadi anggota masyarakat yang mampu berguna di masa depannya.
Beberapa hal yang bisa diterapkan didalam kelas pada saat proses pembelajaran yaitu dengan membuat iklim belajar yang lebih interakitf dan kondusif serta berpusat kepada siswa .Kondusif dalam artian tidak hening namun aktif dalam sebuah diskusi yang menyenangkan dan dapat memberi makna bagi murid.Mengajar sesuai dengan kodrat zaman anak-anak yaitu dengan selalu berinovasi terhadap perkembangan teknologi contohnya.Selain hal tersebut,sebagai seorang guru yang telah mempelajari makna pendidikan dan pengajaran menurut KHD,tentunya budi pekerti merupakan hal yang tidak , dapat dipisahkan dari pendidikan dan pengajaran.Tidak hanya kecapakan kognitifnya saja yang penting melainkan guru harus bisa mengajarkan budi pekerti yang baik seperti kejujuran,saling tolong menolong,toleransi,kerjasama dan lain sebagainya.Semoga,kelak kita bisa menjadi guru yang sesuai dengan yang murid butuhkan.
11 notes
·
View notes
Text
Ketakutan adalah hasil dari ketidak tahuan, kalo ga mau takut ya belajar!
Banyak hal yang kita takuti, karena kita tidak tahu bagaimana cara menghadapinya. Dan, kalo kita belajar lebih jauh lagi, pasti selalu ada cara bagaimana menghadapinya.
Simple aja sih sebenernya, allah kan udah kasih ujian sama jalan keluarnya juga. Dan jalan keluar itu udh tertera dalam al-qur'an. Asal mau belajar aja!
15 notes
·
View notes
Text
OSIS MAN 2 Bantul
2 notes
·
View notes
Text
"LET'S TALK ABOUT NJIPLAK IDE BISNIS"
Singkat, padat, mangstab!
Jadi gini, kadang itu ide bisnis datangnya tiba-tiba, dan kita langsung merasa ini adalah
“the next big thing.”
Tapi muncul juga rasa khawatir,
“Kalau ide ini aku bagi ke orang lain, nanti malah dijiplak gimana?”
Memang di dunia bisnis, rasa takut ide dicuri atau didahului oleh orang lain itu wajar. Namun, perlu kita ingat bahwa,
"Bisnis itu 99% aksi, 1% ide."
So, Ide hanyalah awal yang baik, tapi kesuksesan sejati datang dari eksekusi yang matang. Betapapun brilian sebuah ide, jika tidak dieksekusi, yo bakalan hanya akan jadi angan-angan.
Dalam Islam, berbagi ilmu atau ide justru dianjurkan, sebab bisa menjadi sarana kebaikan. Rasulullah SAW bersabda,
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad).
Ketika kita berbagi ide bisnis, sebenarnya kita sedang membuka diri untuk mendapatkan masukan baru, pandangan yang lebih luas, bahkan bisa saja pintu rezeki.
Seperti bahasa Jawa-nya, dengan berbagi, kita bisa “tek-tokan,” saling mengasah ide, menemukan konsep yang lebih matang, bahkan mungkin rekan untuk berkolaborasi.
Dari 1.000 orang yang kita ajak berbagi, mungkin hanya 1 yang benar-benar menjalankannya. Sisanya? Bisa jadi hanya menambah pengetahuan kita atau memberi sudut pandang baru yang berguna.
Lalu, bagaimana soal menjiplak bisnis yang sudah berjalan?
Nah, di sinilah etika dan amanah menjadi kunci. Dalam Islam, menjaga amanah sangatlah penting, termasuk menjaga orisinalitas dalam berbisnis. Sebagaimana hadits yang berbunyi,
"Barang siapa menipu maka ia bukan dari golongan kami." (HR. Muslim).
Meniru habis-habisan konsep, desain, atau cara orang lain berbisnis tentu melanggar etika ini. Berbeda jika kita hanya melakukan
benchmarking,
yaitu melihat dan belajar dari keberhasilan bisnis lain tanpa menjiplak seutuhnya, sekadar untuk mendapatkan inspirasi atau meningkatkan kinerja bisnis kita agar lebih baik.
Jadi, kalau punya ide bisnis, jangan ragu untuk berbagi. Bisa jadi itu malah jadi ladang amal dan sarana kita untuk berkembang.
Dan kalau ingin mengembangkan bisnis, belajarlah dari yang terbaik tanpa perlu meniru mentah-mentah.
Sebab dalam setiap langkah, kita tidak hanya mencari rezeki, tapi juga menjaga nilai-nilai kejujuran dan amanah yang Allah ridhoi.
3 notes
·
View notes