#GoreSans
Explore tagged Tumblr posts
dikiprasetyo26 · 1 year ago
Text
—- AKU BISA APA JIKA MENCINTAIMU —-
Jika aku lapar
Aku bisa makan
Jika aku haus
Aku bisa minum
Jika aku mencintaimu
Aku bisa apa?
Apakah aku perlu sadar diri?
8 notes · View notes
umar30 · 1 year ago
Text
Akhirnya pun kau tahu, bagaimanapun kau mencoba berulang kali, kau kembali pada memori pahit di masa lalu. Bukan karena ingatanmu tak menghendaki kau lupa, tapi pilihanmu yang kian sulit dipahami.
7 notes · View notes
rhuslan08 · 2 years ago
Text
كـنا نشـهد الجنـازة ولا نـدري من المعـزى فيـها لكـثرة البـاكين، وإنمـا بكاؤهم على أنفـسهم، لا على المـيت
Dahulu kami menyaksikan jenazah dalam keadaan kami tidak mengetahui mana pihak yg sedang berduka, karena banyaknya orang-orang yg menangis. Namun, sebenarnya tangisan mereka karena sedih memikirkan keselamatan diri mereka sendiri, bukan karena kehilangan orang yg meninggal tersebut. (Sulaiman bin Mihran al-A’masy rh)
3 notes · View notes
kimjongnina · 8 months ago
Text
Beep
Tumblr media
Lucu sekali, tapi kita akan selalu seperti ini.
Tidak bisa lebih, tapi bisa kurang. Huft.
0 notes
kbanews · 2 years ago
Text
Lukisan Hasil Goresan Anies Baswedan Laku dilelang Rp 35 juta
JAKARTA | KBA – Lukisan hasil goresan Anies Baswedan karya Ridwan Manantik laku terjual dengan tawaran sebesar Rp 35 juta dalam lelang yang digelar pada acara ‘Merajut Persatuan’ di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis malam, 24 Agustus 2023. Dalam lukisan berwarna biru, kuning, merah dan ada logo Partai NasDem itu berhasil terjual oleh mantan Menteri Perdagangan RI Thomas Trikasih Lembong. Ketua…
Tumblr media
View On WordPress
1 note · View note
zahrahnisahasan · 2 years ago
Text
Tumblr media
Setiap kejadian itu indah
1 note · View note
fitryharahap · 23 days ago
Text
Jaga Dirimu, Ya
Aku selalu percaya bahwa kata-kata punya nyawa. Beberapa dari mereka lahir untuk menjadi perintah, sebagian lagi sekadar basa-basi yang terlontar tanpa benar-benar dipikirkan. Tapi ada juga kata-kata yang diam-diam membawa beban, yang saat diucapkan, terasa seperti tangan yang menggenggam erat sebelum akhirnya harus dilepaskan.
"Jaga dirimu, ya."
Kalimat itu sederhana, tapi punya banyak cabang makna yang bersembunyi di baliknya. Orang-orang sering mengira itu hanya tentang menjaga tubuh agar tidak sakit, agar pulang dalam keadaan utuh. Padahal, lebih dari itu, kata-kata itu juga menyelipkan harapan agar kita tetap waras di tengah dunia yang terus mengikis bagian-bagian dari diri kita.
Aku pernah mendengar kalimat itu diucapkan dengan suara yang nyaris bergetar, seolah pengucapnya tahu bahwa setelah ini, mungkin tak ada lagi kesempatan untuk mengatakannya. Pernah juga kudengar ia dilontarkan dengan nada santai, tapi tatapan mata si pemilik suara diam-diam menyimpan kekhawatiran yang sulit disembunyikan.
"Jaga dirimu, ya."
Itu berarti: jangan biarkan kepalamu terlalu penuh oleh pikiran yang tak bisa kau redakan. Itu berarti: jangan memaksa hatimu tetap berdiri ketika ia sudah lelah berusaha. Itu berarti: jika dunia terasa terlalu keras, setidaknya jadilah lembut pada dirimu sendiri.
Karena kita tak hanya bisa terluka oleh goresan di kulit, tetapi juga oleh kata-kata yang tak sempat dibalas, oleh kepergian yang tak dijelaskan, oleh rasa sesak yang tak bisa diceritakan kepada siapa pun.
Maka, saat seseorang berkata, "Jaga dirimu, ya," percaya atau tidak, itu adalah salah satu bentuk cinta paling sederhana yang bisa diberikan manusia kepada manusia lainnya.
73 notes · View notes
catatanmudri · 1 month ago
Text
Di dunia ini, sudah tentu aku akan lebih sering berjumpa dengan kegagalan, penolakan, dan penghinaan—hal-hal yang menggurat luka, tapi tak bisa dihindari. Sebab begitulah menjadi dewasa: menerima getir sebagai bagian dari perjalanan, memahami bahwa setiap goresan membawa makna, sebanding dengan pelajaran yang ia titipkan.
Waktu akan menuntun, perlahan tetapi pasti, mengajarkan bahwa ada beban yang tak perlu dipanggul terus-menerus. Ada hal-hal yang, meski menyakitkan, sejatinya adalah cara Allah menunjukkan jalan—tentang bagaimana bertahan, tentang bagaimana melepaskan, tentang bagaimana menjadi lebih dewasa, dan selebihnya adalah tentang bagaimana kau tetap bertahan, meski langkahmu dirundung lelah, meski nafasmu tersengal karena kenyataan yang menggencet dada.
Begitulah, hidup selalu datang dengan dua wajah. Ia menawarkan pelajaran, tetapi tanpa peringatan. Ia menjatuhkan, tetapi sekaligus membentuk. Ia tidak bertanya apakah kau siap, hanya memaksamu untuk berjalan.
Kau akan jatuh, tentu saja. Berulang kali, di tempat yang sama, dengan luka yang serupa. Ada saatnya kau marah—pada diri sendiri, pada keadaan, pada nasib yang seakan gemar bercanda. Ada masanya kau merasa cukup ingin berhenti, mencari jalan keluar yang terus berulang, dari kesedihan yang tak kunjung tuntas.
Tapi lihatlah, bukankah dunia terus berputar? Bukankah waktu tetap melaju, meski kau berdiam? Bukankah Allah tidak pernah diam, meski doa-doamu terasa tak berjawab?
Sebab tidak semua yang hilang adalah kehilangan. Kadang, itu adalah cara semesta memberi ruang. Mengosongkan sesuatu untuk diisi dengan yang lebih baik. Melepaskan sesuatu yang kau genggam terlalu erat, agar tanganmu bebas menerima hal lain yang lebih pantas.
Jadi berjalanlah, meski dengan langkah tertatih.
Jadi teruskanlah, meski hatimu belum sepenuhnya pulih. Karena dewasa bukan sekadar kuat menanggung luka, tetapi juga tentang belajar mengubah luka menjadi cahaya.
19 notes · View notes
penalara · 8 months ago
Text
Terima kasih atas upaya yang dilakukan pada setiap keadaan. Karena nyatanya, setiap apa-apa yang dipaksa itu hanya menimbulkan goresan luka yang lain. Adakalanya berhenti menjadi sebuah keharusan, sebab untuk meneruskan pun yang terjadi bukanlah bahagia, namun justru menjemput kehancuran.
53 notes · View notes
arsualas · 2 months ago
Text
Menerima Luka dan Menyembuhkan Diri
Luka, baik itu fisik maupun emosional, selalu meninggalkan bekas. Ada kalanya luka itu dapat terlihat jelas, seperti goresan di kulit, atau terkadang tersembunyi dalam-dalam di dalam hati kita. Namun, satu hal yang pasti: luka tidak bisa disembuhkan hanya dengan harapan atau keinginan semata. Penyembuhan adalah proses, dan sering kali, luka memerlukan waktu untuk benar-benar sembuh. Seperti halnya memaafkan, yang sering kita anggap sebagai solusi instan untuk menghilangkan rasa sakit—memaafkan ternyata bukanlah obat mujarab yang bisa menghapus segala perasaan terluka dalam sekejap.
Memaafkan, meskipun sering dianggap sebagai kunci utama untuk penyembuhan, pada kenyataannya bukanlah langkah yang mudah atau cepat. Memaafkan bukan berarti melupakan atau menerima segala yang telah terjadi tanpa memperhitungkan dampaknya. Memaafkan adalah proses yang membutuhkan waktu, pengertian, dan, yang terpenting, kesabaran.
Ketika kita terluka, terutama oleh orang-orang yang kita percayai atau cintai, rasa sakitnya tidak akan hilang hanya dengan satu kata maaf. Memaafkan bisa menjadi langkah pertama untuk melepaskan beban emosional, namun proses ini jauh lebih kompleks daripada sekadar mengatakan kata "maaf". Memaafkan membutuhkan kita untuk menghadapi perasaan yang terkadang sangat dalam dan rumit—perasaan marah, kecewa, bahkan rasa tidak adil yang terpendam dalam diri kita. Memaafkan tidak serta-merta menghapus rasa sakit itu; yang ada adalah sebuah ruang untuk memulai proses pemulihan.
Penyembuhan diri, pada kenyataannya, dimulai dengan menerima luka tersebut. Menerima bahwa kita merasa terluka dan mengakui bahwa perasaan itu ada. Luka emosional sering kali dianggap sebagai kelemahan, sehingga kita cenderung menyembunyikannya atau mengabaikannya. Padahal, dengan menerima luka, kita memberi diri kita kesempatan untuk merasa dan meresapi proses penyembuhan itu. Jika kita terus-menerus menekan perasaan kita, luka tersebut hanya akan mengakar lebih dalam dan semakin sulit untuk disembuhkan.
Proses menerima luka tidak berarti kita harus menyetujui tindakan yang menyebabkan kita terluka, tetapi lebih kepada memberi diri kita ruang untuk merasakan sakit itu tanpa rasa malu. Hanya dengan begitu kita bisa mulai memproses perasaan tersebut dan melangkah menuju pemulihan. Penyembuhan emosional tidak bisa dipaksakan; itu adalah perjalanan yang memerlukan waktu dan penerimaan.
Setelah menerima luka, barulah kita bisa mulai membicarakan tentang memaafkan. Tetapi sekali lagi, memaafkan bukanlah langkah yang instan. Proses ini memerlukan waktu yang bervariasi bagi setiap orang. Ada kalanya kita merasa bahwa memaafkan adalah hal yang mustahil dilakukan, dan itu adalah hal yang wajar. Kadang-kadang, kita harus memberi diri kita waktu untuk tidak langsung "baik-baik saja" hanya karena kita sudah memaafkan seseorang.
Memaafkan bukan tentang membenarkan tindakan orang lain atau melupakan kesalahan yang terjadi. Memaafkan adalah tentang membebaskan diri kita dari beban emosional yang menghantui kita, yang sering kali menghalangi kita untuk melanjutkan hidup. Memaafkan memberi kita kesempatan untuk melangkah maju tanpa terikat oleh kebencian atau rasa sakit yang lama terpendam.
Namun, meskipun memaafkan adalah langkah penting, kita juga harus sadar bahwa luka tidak sembuh dalam semalam. Kadang-kadang, meskipun kita telah berusaha untuk memaafkan, rasa sakit itu tetap ada. Itu adalah bagian dari proses. Memaafkan, meskipun itu adalah tindakan yang membebaskan, memerlukan kesabaran dan keteguhan untuk terus berusaha hingga akhirnya kita bisa menemukan kedamaian dalam diri kita.
Penyembuhan diri, pada akhirnya, adalah tentang memberi kesempatan pada diri kita untuk tumbuh melalui luka tersebut. Luka yang kita alami bisa menjadi guru yang mengajarkan kita banyak hal—tentang kekuatan kita, tentang ketabahan, dan tentang bagaimana kita bisa mencintai diri kita sendiri meskipun telah terluka. Terkadang, luka mengajarkan kita untuk melihat dunia dengan cara yang lebih lembut, lebih bijaksana, dan lebih penuh kasih.
Seperti halnya memaafkan yang bukanlah obat instan, begitu juga dengan penyembuhan luka. Tidak ada jalan pintas untuk itu. Proses ini membutuhkan waktu, perhatian, dan usaha yang konsisten. Kita mungkin akan terjatuh beberapa kali, merasa kesakitan, atau merasa bahwa kita tidak akan pernah benar-benar sembuh. Namun, setiap langkah kecil yang kita ambil menuju pemulihan adalah bagian dari perjalanan yang lebih besar. Melalui luka, kita belajar tentang ketahanan, keikhlasan, dan kekuatan diri kita yang sejati.
Pada akhirnya, menerima luka, menyembuhkan diri, dan memaafkan bukanlah tentang menghapus apa yang telah terjadi, melainkan tentang memberi kita kesempatan untuk menjadi lebih baik. Luka akan selalu ada sebagai bagian dari perjalanan hidup kita, namun bagaimana kita menghadapinya—dengan menerima, memaafkan, dan akhirnya sembuh—adalah yang akan menentukan siapa kita ke depannya. Dalam setiap luka, ada potensi untuk menemukan kedamaian, dan dalam setiap proses penyembuhan, ada peluang untuk tumbuh menjadi lebih kuat dan lebih bijaksana.
-s.b
16 notes · View notes
shenshine · 6 days ago
Text
Perpustakaan
Dia menyusun rak-raknya dengan hati-hati. Setiap buku punya tempatnya masing-masing, setiap kisah memiliki urutannya sendiri. Perpustakaannya luas, penuh cerita yang siap dipinjam siapa saja yang datang. Tapi tidak dengan kisahnya sendiri.
Tidak ada yang bisa membawa pulang halaman-halaman tentang dirinya.
Kisah itu tersembunyi, terselip di antara buku-buku yang lebih sering dipilih. Terkunci dalam jilid-jilid tebal yang warnanya mulai pudar, tertutup debu yang menumpuk dari tahun-tahun yang telah berlalu. Bukan karena dia tidak ingin berbagi, tapi karena setiap kali dia berusaha menyerahkan kisahnya, orang-orang hanya membolak-baliknya sepintas lalu.
Mereka membaca sepotong, lalu menutupnya kembali dengan ragu. Ada yang mencoba menulis ulang, mengganti alur yang menurut mereka salah. Ada pula yang mencoretnya dengan tangan mereka sendiri, meninggalkan noda yang tidak akan pernah bisa terhapus.
Jadi dia berhenti.
Dia berhenti menawarkan buku itu. Berhenti berharap ada yang ingin membacanya hingga selesai. Dia menjadi pustakawan bagi cerita orang lain, tetapi tidak pernah bagi dirinya sendiri.
Lalu datang seseorang.
Dia tidak langsung mencari buku tentangnya. Dia berjalan perlahan, menyusuri rak demi rak, membaca setiap kisah yang diberikan tanpa tergesa-gesa. Dia tidak bertanya, tidak meminta. Hanya menunggu.
Dan untuk pertama kalinya, dia tergoda untuk membuka lembaran-lembaran lama yang telah lama dia tutup rapat.
Dia memberikannya satu buku, hanya satu.
Dengan tangan yang gemetar, dia menyodorkan kisah itu—sebuah fragmen tentang dirinya yang selama ini tak pernah dipinjam siapa pun.
Dia menahan napas saat halaman-halaman itu dibuka.
Tidak ada tergesa-gesa, tidak ada lompatan ke akhir. Setiap kata dibaca perlahan, setiap luka disentuh dengan hati-hati. Dia tidak melewati bab-bab yang kusut, tidak menghindari bagian yang penuh goresan. Dia tetap membaca, meskipun beberapa halamannya hampir tidak bisa dibaca lagi.
Dia bertahan.
Tapi kemudian, dia menutup buku itu.
Saat sosok itu berdiri, jantungnya mencelos. Apakah ini akhirnya? Apakah dia akan pergi seperti yang lain?
Dia sudah bersiap untuk kepergian yang berikutnya.
Namun kali ini, sesuatu yang berbeda terjadi.
Sosok itu tidak pergi.
Sebaliknya, dia meraih tangannya. Membawanya keluar dari perpustakaan kecil yang telah lama menjadi dunianya.
“Satu perpustakaan tidak cukup untukmu,” katanya.
Dan untuk pertama kalinya, dia melihat bahwa ada lebih banyak cerita yang belum ditulis, lebih banyak rak yang masih kosong, lebih banyak halaman yang menunggu untuk diisi.
Lalu di suatu tempat, di perpustakaan milik orang itu, dia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.
Di sudut yang paling tenang, di antara buku-buku lain yang terawat dengan rapi, ada kisahnya.
Bukan kisah yang ditinggalkan.
Bukan kisah yang hanya dibaca setengah jalan.
Tapi kisah yang dijaga. Dicintai. Dan akhirnya, menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
8 notes · View notes
rhuslan08 · 2 years ago
Text
‏ﻟﻴﺲ ﺍﻟﺴﻘﻴﻢ ﻣﻦ ﺍﺑﺘﻼﻩ ﺭﺑﻪ ﻓﻲ ﺟﺴﺪﻩ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﺴﻘﻴﻢ ﻣﻦ ﺁﺗﺎﻩ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻌﺎﻓﻴﺔ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﻤﻠﻚ ،،،، ﻭﻻ ﻳﺨﻄﺮ ﻓﻲ ﺑﺎﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﺄﺗﻲ ﻣﺴﺠﺪﺍً ﻟﻴﺼﻠﻲ ﻓﻴﻪ !!!
Orang yg sakit itu bukan seseorang yg diuji oleh Allah pada tubuhnya, tetapi orang yg sakit itu adalah seseorang yg Allah berikan sehat sejahtera pada semua yg dia miliki.. namun tak terlintas dalam benak pikirannya mendatangi masjid untuk sholat di dalamnya. #goresna pena ✍️ #sudut kota udang
4 notes · View notes
kimjongnina · 1 year ago
Text
Segalanya, adalah kamu.
Tumblr media
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau aku tahu kamu membaca surat ku! mungkin ini akan menjadi keajaiban dunia nomer 8! Hehe. Bagaimana kabar mu selama mengisi tugas wajib militer? apakah menyenangkan? Aku harap tugas wajib militer ini bisa jadi kesempatan yang baik untuk kamu istirahat. Berkumpul dengan teman juga keluarga dan benar-benar memikirkan diri mu sendiri. Kalau surat ini sampai di kamu, tandanya satu hal besar (semoga) sudah terjadi pada ku. Tebak apa? Aku sudah jadi seorang dokter! Apakah kamu akan bangga kepada ku? Lihat lah, seorang dokter! Tenang saja, aku akan memberikan pengobatan gratis untuk mu kalau kamu datang. Tapi aku berharap kamu tidak pernah datang kepada ku karena aku tidak mau kamu sakit.
Setelah pertama kali dalam hidupku di tahun 2018 aku bertemu kamu, akhirnya aku bisa dengan bangga mengabarkan langsung kepada mu kalau aku berhasil menyelesaikan studi ku. Beberapa tahun terakhir ini terasa berat. Aku selalu bertanya-tanya apakah aku bisa melewatinya? apakah aku sudah melakukan yang terbaik yang aku bisa? apakah aku harus berhenti? atau apakah aku pantas mendapatkan ini semua? tapi kemudian bertemu kamu, juga saudara-saudara mu memberikan aku banyak kebahagiaan dan kekuatan untuk menyelesaikan semuanya dengan baik. Bertemu kamu, melalui karya-karya mu membuat ku tersadar tidak akan ada yang bisa mengkhianati mimpi dan kerja keras, dan aku pasti bisa melewati ini semua! Terima kasih banyak, ya, untuk semua yang sudah kamu lakukan untuk ku.
Karena kamu sudah melakukan banyak hal baik untuk ku, untuk kami, aku harap kamu bisa mulai memikirkan diri mu sendiri. Jangan pernah membatasi diri untuk berkarya, untuk menemukan hal-hal yang membuatmu bahagia hanya karena kami. Aku akan terus medukungmu! Apapun pilihan mu, aku selalu berdoa kebaikan juga kasih sayang akan selalu menyertai mu.
Setelah kamu selesai wajib militer, mungkin kita akan menjumpai dunia yang sudah berbeda, tapi aku harap suatu saat kita bisa bertemu di waktu yang paling baik bagi kita berdua. Terima kasih banyak sudah menemani masa muda ku yang sangat berharga. Terima kasih sudah membuatku bisa mencintai diri sendiri karena bertemu dengan mu! Surat ini mungkin akan tiba saat kamu berulang tahun, jadi Selamat ulang tahun!
Semoga kamu selalu menerima banyak cinta dan kebaikan. Makan yang banyak dan jangan terluka.
Sampaikan salam ku untuk ibumu, terima kasih sudah melakhirkan putra yang sangat berharga. Mari kita hidup bahagia untuk waktu yang lama. Aku akan selalu mencintai mu.
Tumblr media
1 note · View note
bentangkalanjana · 5 months ago
Text
Aku terbangun dengan luka menganga pagi ini, lagi. Tapi ketika ku periksa dimana letaknya, tak kutemui sedikitpun goresan pada diriku. Lalu bagaimana caranya sembuh?
18 notes · View notes
aksarakisah · 1 month ago
Text
Biarlah orang lain menyebut ini sia-sia. Jika sewaktu-waktu aku pergi mendahuluimu, tolong jagalah kita dalam goresan penaku yang tak pernah mati ini. Lihat dan rasakan kembali bagaimana lihaimu menari disetiap baitnya. Selami dan resapi kata demi kata diantara kalimatnya. Kamu akan menyadari, kamulah nyawa dari aksaraku.
Jika ragaku kelak terhapus di Bumi. Kemudian Tuhan menghidupkanku lagi. Sungguh rasaku tidak akan berbeda. Terjaga dan selalu sama. Mungkin aku akan merasakan kasih dan tulusmu dari jauh, mendekapmu lewat doa,kemudian merengkuh rasa ikhlas bahwa mencintaimu hanya soal merindukan. Percayalah, jika saat itu tiba. Kuharap kau tak merelakanku untuk pergi. Karena sungguh aku memang tidak pernah kemana-mana. Aku tidak pergi. Kau hanya tak bisa menatapku saja. Hanya itu yang terjadi. Dunia ini sementara, pun perpisahan kita. Lagi pula, siapa yang menjabarkan bahwa merindukan seseorang yang telah tiada jawabannya adalah tak bisa bersama kembali? Meski terlalu jauh digapai, bukankah pertemuan hanya soal waktu?
8 notes · View notes
melodirinai · 9 months ago
Text
Tetap Berdiri, Tetap Berteguh Hati
Jatuh dan tenggelam, dunia menjadi sunyi.
Sepi, langit berwarnakan abu-abu kelam, berusaha membiasakan diri.
Sayapku patah, terus bertarung melawan rasa menyerah.
Tak menemukan arah, kubiarkan diri ini tersesat walau nyatanya tak mampu menepikan rasa resah.
Kunikmati kesendirian ini, aku memang tak berhasil terbang tinggi, namun aku dapat berlari di daratan penuh duri.
Aku tak peduli, goresan-goresan luka ini kujahit sendiri, dan hingga kini aku masih bisa berdiri walau dikelilingi pecahan cermin bergambarkan kegagalan diri.
—@melodirinai
37 notes · View notes