#terbenam
Explore tagged Tumblr posts
sitiistiqomah · 1 year ago
Text
Aestehtic Vibes ✨🌊
Tumblr media
3 notes · View notes
guide-saveurs · 2 years ago
Text
Top News Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari?
Tumblr media
Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari? adalah artikel yang trending di Hingga kini topik tersebut saat ini ramai dicari dalam 1 jam. Untuk itu kami akan membahas Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari? yang bisa kamu baca nantinya. Penasaran dengan Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari?? Jika benar yuk simak artikel tersebut di samping https://beritapolisi.id/apa-bahasa-sansekerta-matahari-terbenam-di-sore-hari/
0 notes
ghostlysongbeard · 2 years ago
Text
Top News Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari?
Tumblr media
Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari? adalah artikel yang trending di Hingga kini topik tersebut saat ini ramai dicari dalam 1 jam. Untuk itu kami akan membahas Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari? yang bisa kamu baca nantinya. Penasaran dengan Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari?? Jika benar yuk simak artikel tersebut di samping https://beritapolisi.id/apa-bahasa-sansekerta-matahari-terbenam-di-sore-hari/
0 notes
forresthom · 2 years ago
Text
Top News Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari?
Tumblr media
Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari? adalah artikel yang trending di Hingga kini topik tersebut saat ini ramai dicari dalam 1 jam. Untuk itu kami akan membahas Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari? yang bisa kamu baca nantinya. Penasaran dengan Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari?? Jika benar yuk simak artikel tersebut di samping https://beritapolisi.id/apa-bahasa-sansekerta-matahari-terbenam-di-sore-hari/
0 notes
foodmucem · 2 years ago
Text
Top News Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari?
Tumblr media
Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari? adalah artikel yang trending di Hingga kini topik tersebut saat ini ramai dicari dalam 1 jam. Untuk itu kami akan membahas Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari? yang bisa kamu baca nantinya. Penasaran dengan Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari?? Jika benar yuk simak artikel tersebut di samping https://beritapolisi.id/apa-bahasa-sansekerta-matahari-terbenam-di-sore-hari/
0 notes
dizzyeyestyle · 2 years ago
Text
Top News Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari?
Tumblr media
Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari? adalah artikel yang trending di Hingga kini topik tersebut saat ini ramai dicari dalam 1 jam. Untuk itu kami akan membahas Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari? yang bisa kamu baca nantinya. Penasaran dengan Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari?? Jika benar yuk simak artikel tersebut di samping https://beritapolisi.id/apa-bahasa-sansekerta-matahari-terbenam-di-sore-hari/
0 notes
adorableprojects · 2 years ago
Text
Top News Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari?
Tumblr media
Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari? adalah artikel yang trending di Hingga kini topik tersebut saat ini ramai dicari dalam 1 jam. Untuk itu kami akan membahas Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari? yang bisa kamu baca nantinya. Penasaran dengan Apa Bahasa Sansekerta Matahari Terbenam Di Sore Hari?? Jika benar yuk simak artikel tersebut di samping https://beritapolisi.id/apa-bahasa-sansekerta-matahari-terbenam-di-sore-hari/
0 notes
plumsheena · 1 month ago
Text
Tumblr media
Mereka terlalu sibuk menyoraki tenggelamnya Sang Perkasa
Sampai-sampai tenangnya Sang Pengantar Mimpi ketika menyelam tak disorai satupun suara
cr pict: Pntrst
2 notes · View notes
hachi-8log · 5 months ago
Text
matahari terbenam
0 notes
milatenonet · 8 months ago
Text
Ustazah Dayana (Nikmat)
Tumblr media Tumblr media
Ustazah Syaima meletakkan phone ke atas meja kecil bersama beg tangan di tepi katil King Size itu. Sengaja ditempah bilik Hotel 5 bintang untuk lebih privasi. Wangi bilik memberikan sedikit rasa tenang. Tak lama, Syazana membalas “okayy” kepada mesejnya yang memberitahu dia akan pulang sedikit lewat hari itu.
Pandang dibawa ke arah Leman yang sedang duduk di bucu katil. Melihatkan Ustazah Syaima meletakkan phone, dia juga menyimpan ke dalam poket sambil tersenyum antara rasa teruja dan segan.
“Jadi... Leman... Awak nak saya tukar pakai jubah tadi?” soal Ustazah Syaima perlahan. Kini Ustazah Syaima memakai kembali jubah yang dipakai datang kerja tadi. Tudung labuh silver satin berbunga pink sakura di hujung. Bersama jubah hitam hampir kosong, cuma berbatu manik di lengan tangan.
Leman menggeleng. “Urm... Tadi Ustazah sexy... Tapi bila saya bayangkan, saya selalu bayangkan Ustazah pakai macam ni... Macam tengah mengajar” kata Leman jujur. Semakin selesa. Ustazah Syaima senyum sambil merapatkan tubuh. Peha mereka bertemu.
“Hmm... Kalau macam tu, apa lagi yang awak bayangkan? Kita cuba keluarkan semua fantasi awak harini. Kelas nanti saya nak awak fokus” kata Ustazah Syaima dengan nada sedikit tegas. Mengingatkan.
Leman senyum. Melihat tubuh Ustazah Syaima. Pehanya jelas dipeluk jubah yang ditarik gravity itu. Wangi perfume lembut Ustazah Syaima juga telah mengeraskan batangnya semenjak dari dalam kereta lagi. Melihat Leman senyap, Ustazah Syaima senyum. Cuba menenangkan hati sendiri yang mula malu. Mungkin dirinya yang perasan lebih. Mungkin Leman hanya bergurau atau suka suka ayam. Betul kata Nora, Mungkin dia patut bersabar.
“Kalau ada apa apa yang awak nak buat dekat saya... Erm... S... Saya izinkan...” kata Ustazah Syaima sedikit kekok. Terpengaruh dengan rasa risau di dalam kepala. Leman menelan air liur.
“S... Sebenarnya Ustazah... S... Saya tak banyak bayangkan... Saya buat apa apa dekat Ustazah...” kata
perlahan.
“Eh? H... habistu?”
Leman nampak sangat teragak agak sebelum akhirnya membuka mulut semula. “Saya bayangkan... Urm... Ustazah yang... goda saya... Buat strip tease... M... Macam Ustazah buat dalam bilik Ustazah tadi...” kata Leman jujur.
Ustazah Syaima menarik nafas lega. Jadi bukanlah Leman menyesal atau tidak mahu akannya. Ustazah Syaima bangun berdiri. Wajahnya merah. Jujur, dia pun kurang pasti mengapa dirinya semakin liar dan berani begini. Tidak tahulah kerana batang batang muda yang dah dirasanya, atau kerana Fadzril dan Azmir.
Yang pasti, dia akan lakukan apa sahaja yang Leman mahu asalkan batang Leman terbenam ke dalam pantatnya hari ini.
Ustazah Syaima berdiri di hadapan Leman. “Jujur... Saya tak pernah strip tease strip tease ni... Tapi... Urm... Saya cuba ya?” kata Ustazah Syaima. Leman mengangguk mengizinkan. Walhal Ustazah Syaima berduaan dengannya di dalam bilik Hotel itupun sudah sangat memberahikan baginya.
Ustazah Syaima senyum dengan wajah keibuannya, sebelum tangan mula dibawa merayap ke tubuh sendiri. Tangan meraba perut yang rata sendiri, sebelum satu tangan dibawa ke atas, merayap di atas buah dada dan tudung labuh, dengan tangan yang satu lagi dibawa turun merayap peha.
Jelas Leman membayangkan yang tangan itu adalah tangannya.
Ustazah Syaima senyum melihat reaksi Leman. “Ummm... Awak suka tengok saya goda awak macam ni...?” soal Ustazah Syaima nakal sambil tubuh dibawa lenggok dan lentik sedikit. Sesekali mengintai bonjol yang mengeras. Leman mengangguk. Nafasnya semakin berat.
“Umm... Awak lagi suka yang ni...” tangan Ustazah Syaima kedua dua dibawa meramas buah dadanya di atas tudung labuh itu, sebelum tubuh dibawa pusing dan Ustazah Syaima melentokkan pinggulnya, membiarkan graviti menarik jubah itu rapat, melekap mendedahkan daging punggungnya yang dibalut panties nipis itu.
“Atau ni...?” soal Ustazah Syaima nakal. Tangan sendiri dibawa meraba daging punggung yang besar itu. Tangan Leman diangkat cuba mencapai daging punggung Ustazah Syaima, namun Ustazah Syaima cepat mengelak.
“Aish Leman... Tadi kata nak strip tease... Mana boleh raba raba” kata Ustazah Syaima nakal. Tahu syarat itu dari movie movie yang ditonton. Leman senyum membetulkan kaca mata. “Ehe... S... Sorry ustazah” katanya segan sambil ditarik semua tangannya.
Ustazah Syaima senyum sambil tubuh dibawa menghadap Leman kembali. Tangan dibawa masuk ke dalam tudung labuh, lalu ditarik zip ke bawah, penghujung masih dibawah tudung labuh. Dari gerak tangan, Leman dapat mengagak yang Ustazah Syaima mula menanggalkan jubahnya. Namun mungkin dibiar sangkut ke bahu.
Tangan Ustazah Syaima kemudian jelas meramas kedua dua buah dadanya dibawah tudung labuh itu. Dan mata Leman membulat melihatnya.
“Umm...Amboi Leman... Tutup sikit mulut tu...” usik Ustazah Syaima. Leman senyum segan. Namun Ustazah Syaima terus menerus mengusik Leman. Kemudian, jubah hitam itu ditolak sedikit, dibiar jatuh melepasi bahu, mendedahkan buat pertama kalinya tubuh MILF itu kepada Leman.
Rahang Leman seolah jatuh ke lantai.
Tudung Ustazah Syaima masih kemas, labuh menutup dada. Namun di balik tudung itu, Leman dapat melihat bentuk tubuh Ustazah Syaima yang baginya seolah dari film porno MILF yang ditontonnya. Pinggul Ustazah Syaima lebar, membuatkan pehanya juga sedikit berisi, memberi bentuk curvy yang baginya lebih dari semporna.
Tangan, lengan Ustazah Syaima juga tidak kurus dan tidak terlalu berisi. Kena dengan tubuhnya. Dan tidak cukup dengan itu, panties lace hitam yang dipakai Ustazah Syaima agak jarang. Hanya corak sedikit tebal di bahagian bawah. Dan dari apa yang dilihat Ustazah Syaima pastinya licin di bawah itu.
Dan apa yang mengghairahkan lagi Leman, ada la stoking paras peha Ustazah Syaima. Ketika berubah tadi Leman dah perasan. Namun dia ingatkan itu standard stoking paras buku lali atau betis.
“U... Ustazah memang pakai macam ni hari hari ke?” soal Leman sambil me jamah tubuh Ustazah Syaima itu dengan matanya.
Ustazah Syaima sambil itu masih melentikkan tubuhnya. Jemari mula meraba panties, garis stoking. Ustazah Syaima menggeleng. “Bila ada special case macam ni je...” jawab Ustazah Syaima. Teringat yang dia mula memakai lingerie ke tempat kerja dek diajar Azmir. Dan ya, dia tidaklah memakai begini walau di bawah setiap hari. Hanya apabila dia tahu Azmir mahukannya.
Dan sekarang, untuk Leman.
Leman senyum menelan air liur. Ustazah Syaima sengaja melentokkan tubuhnya, membiarkan Leman menikmati. Sesekali, ditarik tudung labuhnya memeluk buah dadanya. Memberi ‘tease’. Sesekali juga, Ustazah Syaima mengangkat tudungnya separuh mendedahkan buah dadanya, sebelum dibiar lepas menutup kembali.
“Nak saya teka awak bayangkan saya buat apa lagi?” soal Ustazah Syaima nakal. Leman mengangguk. “Mmm... Baring...” Arah Ustazah Syaima. Leman laju menolak tubuhnya naik habis ke katil sebelum baring berbantal di tengah katil itu. Ustazah Syaima memanjat bak seekor harimau bintang yang mengintai mangsanya.
Lalu dipanjat tubuh Leman, sebelum satu tangan Leman di ambil lalu dibawa ke buah dada di bawah tudung. Dan jemari Leman terus mengambil alih, meramas dengan perlahan sekali dua, sebelum semakin rakus seolah takut terjaga dari mimpi ini.
“Ummmphhh... Leman... Geramnya awak dekat saya...” usik Ustazah Syaima. Ustazah Syaima perlahan menunduk lalu mengucup bibir Leman. Leman yang pertama kali menyentuh wanita itu terasa kaku. Membiarkan Ustazah Syaima yang mengawal, sebelum Leman perlahan membalas mengikut gerak bibir Ustazah Syaima.
“Ummphh... Bagus... Sekarang... Keluarkan lidah kamu...” bisik Ustazah Syaima sambil satu lagi tangan tanpa sedar turun meraba bonjol seluar Leman. Leman menjelir lidah ke atas, kemudian Ustazah Syaima menyambut, menghisap perlahan sebelum lidahnya mencari di sekeliling lidah Leman.
Kepala dibawa turun dan lidah Leman kembali ke dalam mulut, diikuti lidah Ustazah Syaima yang mengajar bagaimana untuk ‘French kiss’ itu. Ustazah Syaima menarik nafas, dan Leman mengambil peluang itu untuk membalas kucupan berahi Ustazah Syaima.
“Ummphh... Ahh... Cepat tangkap rupanya awak ni... He... Srpphh... Ummphh...” Ustazah Syaima memuji sambil membalas kucupan semula. Kedua dua tangan Leman kini semakin berani dan rakus meraba, meramas tubuh Ustazah Syaima, mendengus di antara nafas. Kehilangan kata kata.
Setelah lama, Ustazah Syaima menarik kepalanya
Tubuh dibawa merangkap turun. Dan jemari perlahan membuka tali pinggang dan zip seluar Leman, sebelum direntap turun bersama seluar dalam. Nafas Ustazah Syaima semakin berombak apabila melihat batang Leman menegang tegak. Air mazi jelas bertakung dan meleleh di kepala.
“Wow... Leman... Ummphh...” Ustazah Syaima juga kehilangan kata kata. Batang Leman bukanlah batang yang paling besar pernah dia tengok, namun entah mengapa. Jemari terus menangkap batang Leman sebelum terus dibawa masuk ke dalam mulut. Kepala mendayung ke atas ke bawah menghisap penuh lahap dan menjilat di dalam mulut.
Sesekali Ustazah Syaima mengintai Leman di atas. Melihat reaksi Leman yang mendengus, sesekali memanggil namanya. Membuatkan Ustazah Syaima semakin berahi.
“Ummphhh... Srpphh... Ummphh...” Ustazah Syaima mendayungkan kepalanya laju ke atas dan ke bawah, lalu ditolak batang Leman sedalam dalamnya menolak tekak. Ustazah Syaima membiarkan Leman menikmati hangat ketat mulutnya itu sebelum menarik kepalanya, mencungap sedikit. Namun jemari terus mengocok batang pelajarnya itu.
“Ahh... Ummph... Apa lagi yang awak bayangkan ni Leman...?” soal Ustazah Syaima sambil terus mengurut batang Leman. Kononnya mahu ia terus keras. Walhal Ustazah Syaima cukup tahu yang ia tidak akan turun selagi meletus. Tidak selagi dia di hadapannya.
Leman menarik nafas dalam. Wajahnya merah. Kaca mata ditolak ke atas sambil menelan air liur. “Saya bayangkan... U... Ustazah naik atas saya... Urmph... B... Boleh kan?”
Ustazah Syaima berpura terkejut. “Leman! Saya ingatkan... Apa yang saya dah buat ni... Cukup...” kata Ustazah Syaima. Namun Ustazah Syaima perlahan bangun lalu duduk di atas batang Leman. Dengan panties yang masih tersarung, menekan batang Leman yang kini terbaring, ditekan antara tembam pantat Ustazah Syaima dan tubuhnya sendiri.
Leman mendengus merasa hangat dan fabrik lembut panties Ustazah Syaima itu.
“T... Tapi... Kalau saya tak buat ni...” Ustazah Syaima mengerang perlahan sambil mula menggerakkan tubuhnya kehadapan dan belakang. Menggigit bibir bawah semakin berahi. Pantat tembam yang semakin basah mula meresapkan air pantatnya ke batang Leman.
“Ummphh... N... Nanti saya tak boleh fokus dalam kelas...” tambah Leman. Konon memberi justifikasi kepada apa yang akan mereka lakukan.
Ustazah Syaima mengangguk setuju. “Ahh... S... Saya masukkan ya...” kata Ustazah Syaima sambil menolak dirinya bangun sedikit. Panties ditolak ke celah peha, mendedahkan pantatnya yang tembam licin itu, sebelum batang Leman dicapai lalu dihala ke bibir pantatnya. Digesel ke biji kelentit dan bibir pantatnya, sebelum dibawa tolak masuk ke dalam pantat.
“Ahhhhh...Emiirrr” Ustazah Syaima mengerang merasa pantatnya tersumbat dengan batang Leman. Pantatnya mengemut balas, melumur habis setiap inci batang Leman dengan air pantatnya. Mata Leman pula membulat. Buat pertama kali merasa pantat seorang wanita. Mengemut, hangat, basah...
“U... Ustazahhh...” Leman mendengus balas sambil tangan meramas peha Ustazah Syaima. Ustazah Syaima membiarkan batang Leman terbenam buat beberapa ketika sebelum tubuh dibawa turun, menonggeng di atas Leman sambil memastikan batang Leman masih di dalam pantatnya.
Buah dadanya tertutup dengan tudung labuh yang masih tersarung. Membiarkan tahu ia memberi imej Ustazah yang kontra dengan perlakuannya. Dan Ustazah Syaima tahu yang ianya hanya menaikkan nafsu pemuda itu.
“Ahhh... Sedapnya batang kamu Leman... Ummphh...” Ustazah Syaima mengerang manja sambil mengucup bibir Leman perlahan. Kemudian punggung dibawa naik cukup sehingga ke leher batang Leman, kemudian dibawa turun kembali. Sengaja Ustazah Syaima bergerak perlahan, mahu Leman merasa nikmat setiap inci lubang pantat seorang wanita itu, dan dia sendiri ingin menikmati setiap inci dan timbul urat batang pelajarnya itu.
Leman mendengus. Membalas kucup Ustazah Syaima sambil merasa pantat wanita buat pertama kali. “Ummph... Srpphh... Ustazah... Sedapnya pantat u... Ustazah ni... Ahh...” Leman membalas pujian.
Ustazah Syaima senyum bangga sambil merasa tangan Leman meramas buah dadanya di bawah tudung labuh itu.
“Ahh... Bertuah isteri kamu nanti Leman... Ahh... Ada suami batang padat macam kamu ni...” puji Ustazah Syaima. Leman pula tersenyum bangga. Berharap yang dia tidak pancut cepat. Merasa kedua dua mereka semakin berahi, Ustazah Syaima melajukan sedikit dayungan. Ke atas, ke bawah. Kepala sesekali direhatkan ke bahu Leman sambil punggung mengawal ritma.
“Ahhh... Ahhh... Ummpphhh” Ustazah Syaima kemudian menolak dirinya kembali duduk. Tangan dibawa meraba pinggang dan perut Leman, sebelum senyum nakal menjadi amaran kepada Leman. Leman senyum bersedia.
Ustazah Syaima kemudian menggerakkan tubuhnya naik turun dari batang pemuda itu. Pantatnya mengemut ketat dengan setiap gerak. Dan tubuh Ustazah Syaima melentik lentik dengan setiap hentak yang dibawa hujung pantat ke kepala batang Leman itu.
“Urgh... Ustazahhh... Sedapnya... Ahh... L... Lagi sexy dari saya bayangkann... Ahh...” dengus Leman sambil terus meraba peha Ustazah Syaima yang berstoking paras peha itu.
“Ummphh... Awak bayangkan saya macam ni takk?” soal Ustazah Syaima sambil meramas kedua dua buah dadanya sambil menunggang batang Leman itu laju. Sesekali melentik mengenakan kepala batang Leman ke G-spotnya.
Leman menggeleng. “Ahhh... Ni lagi hott... Ummphh!! Umpph!!” Leman mendengus kesedapan. Melihat mata Leman, Ustazah Syaima menunduk sedikit dan benar sangkaannya. Terus tangan Leman menangkap buah dada Ustazah Syaima lalu diramas geram kedua duanya.
“Ohhh... Yess... Ummphh!!” Ustazah Syaima semakin hampir. Kedua dua tangannya menongkat di kiri dan kanan tubuh Leman sambil punggung menggerak dan menggelek laju. Dengan sensasi jemari Leman yang rakus meramas di bawah tudung labuh, Ustazah Syaima memejam mata rapat.
Wajahnya berkerut. Bibirnya terbuka sedikit. Sikit lagi... sikit lagi... Pap!! Papp!! Pap!! Pap!!
“Ahhhhh Leman!! Leman!!!” Ustazah Syaima tersentak sebelum mula klimaks. Air pantatnya merembes ke batang Leman. Tubuhnya terhenti gerak dek klimaks itu. Mujurlah Leman menyambung gerak. Didayung batangnya dari bawah menyambung klimaks Ustazah Syaima.
Mata Ustazah Syaima membulat terkejut dengan gerak anak teruna itu. Lalu mengemut ketat memerah dirinya sendiri klimaks sepuasnya.
“Ummphhh... Ahhh... Leman... Ahh....” Ustazah Syaima mengejar nafas. Mata perlahan dibuka melihat Leman tersenyum bangga. Mungkin bangga berjaya membuatkan pensyarahnya klimaks begitu sekali. Ustazah Syaima senyum di balik wajah kepuasan itu. Tubuh dibawa bangun dan batang Leman dibawa keluar.
Namun setelah sahaja dibawa keluar, Leman tiba tiba mendengus kuat dan...
“Ustazah!! Umpphh!! Damnn!!” dengus Leman kecewa sambil batangnya memancut mancutkan air maninya ke atas. Mendarat ke peha Ustazah Syaima yang senyum sambil terus menyambut mengurut batang Leman itu.
“Ummm... Banyaknya awak pancut ni... Pagi tadi pun banyak... Ummphh...” puji Ustazah Syaima. Leman mendengus kecewa.
“S... Sorry Ustazah... S... Saya tak tahan lama... S... Saya sempat tahan untuk tak pancut dalam Ustazah je... Urmphh...” Dengus Leman segan. Ustazah Syaima senyum sambil terus mengurut batang pelajarnya itu.
“Ehe... Takpe Leman... Suami saya dulu pun mula mula, tak tahan lama... Tapi lepas lama lama sikit, boleh tu. Lagipun awak dah buat saya klimaks kan. Hehe” pujuk Ustazah Syaima. Walau dia tahu bagi perempuan, satu klimaks sangat tidak memadai
Leman senyum lega. Masih tidak percaya apa ayang baru berlaku.
“Umm... Saya basuh kejap ya?” Ustazah Syaima menolak dirinya bangun dari katil lalu menghala ke bilik air. Meninggalkan Leman yang menatap setiap goyang punggung Ustazah Syaima yang hampir separuh berbalut panties tadi.
Tertanya tanya jika ini kali pertama dan kali terakhir dia dapat melihat daging punggung Ustazah Syaima tanpa lapik itu.
*********
Kereta Ustazah Syaima diberhentikan di simpang kolej Leman. Sengaja sedikit jauh supaya tidak menjmbulkan rasa syak oleh pelajar yang lain. Leman senyum. “Terima kasih, Ustazah... Sebab realisasikan fantasi saya... Saya janji saya akan fokus mulai esok”
Ustazah Syaima mengangguk. “Baguslah macam tu... Nanti saya akan tanya awak soalan lebih sedikit” usik Ustazah Syaima membuatkan Leman senyum sedikit risau.
“Urm... Ustazah... Maaf kalau saya tanya... Tapi apa yang kita buat tadi tu, one off atau... Erm... Ada lagi?”
Ustazah Syaima menggigit bibir bawah. “Hmm... Kalau awak rasa awak dah start tak boleh fokus... Awak bagitau. Boleh?” laju Leman mengangguk. “Okay! Terima kasih Ustazah. Jumpa dalam kelas nanti” kata Leman sambil membuka pintu kereta lalu menapak keluar dengan senyum puas.
Ustazah Syaima juga senyum puas. Walau tak sepuas bersama Fadzril, Azmir mahupun suaminya, namun entah mengapa dia yakin yang Leman akan bertabah baik nanti. Ustazah Syaima menggeleng malu dengan dirinya sendiri.
Dia yang dahulu jijk dengan perangai jiran jirannya, kini menjadi salah seorang dari mereka.
Kereta dibawa pandu pulang ke rumah, sesampai di rumah, telah tersedia spaghetti carbonara yang Ustazah Syaima yakin dimasak Syazana menggunakan sos prego yang dibeli tempoh hari. Sepinggan cukup untuknya. Pasti si suami dan Syazana dah makan tadi.
2K notes · View notes
generasbir · 2 years ago
Text
24 Jam matahari di Antartika adalah video palsu
Banyak para antek segelintir orang memalsukan video demi kepentingan kantong, pekerjaan, uang dll. "Mereka Tak perduli dengan Anda bahkan sampai sekarang anda Masih di kontrol dengan Covid.
Selengkapnya klik disini.
youtube
Apakah Anda perduli dengan NKRI? Jadilah pemimpin yang berguna, bukan pemimpin yang berpihak pada segelintir Elite Politik
0 notes
nonaabuabu · 1 month ago
Text
bagaimana jika ternyata kaulah matahari, yang kupikir terbit dan terbenam. sedang aku adalah bumi, yang mengitarimu sepanjang waktu, saat kau selalu ada di sana, dengan fusi nuklir.
—nonaabuabu
58 notes · View notes
maharindu · 2 months ago
Text
Tumblr media Tumblr media Tumblr media
Sore ini sambil menikmati sawah dan matahari terbenam, ku coba untuk berdamai dengan pikiran.
Belajar memasrahkan segala beban pikiran pada Allah Yang Maha Mengatur segala urusan. Tak perlu ikut campur urusan Tuhan, ranah manusia hanya pada ikhtiar dan doa.
Aku tau teori itu, mudah sekali lisan ini mengucapkannya tapi tidak dengan hati.
Ya Rabbi penguasa hati ini maafkan hamba jika terlalu ingin cepat-cepat menjemput hasil, padahal Engkau ingin mengajari kami tentang "sabar" dengan proses.
Kini doaku bukan lagi agar cepat-cepat dikabulkan.
Ampuni hamba Ya Allah... beri kami kekuatan untuk senantiasa bersyukur dan bersabar dalam menunggu dan menerima takdirMu.
Menjalani hidup dengan tenang dan yakin kalo Allah ngga akan ninggalin hambaNya.
51 notes · View notes
delimacanda · 4 months ago
Text
Kepada yang kelak datang lalu menetap #1
- Segala sesuatu yang pernah datang, lalu beranjak pergi itu pahit. Semanis apapun usaha yang dilakukan untuk pamit. -
Aku paham sekali bahwa datang dan pergi itu sepaket. Sebagaimana matahari terbit dan terbenam. Yang aku tak paham, aku selalu tak siap dengan perpisahan. Karena seringkali perpisahan terjadi saat sedang nyaman-nyamannya. Saat sedang senang-senangnya. Saat sedang cinta-cintanya. Padahal yang ku inginkan, sesuatu atau seseorang atau peristiwa datang, menetap, menjadikanku tenang, senang, nyaman, tapi selamanya. Awal yang tiada berakhir. Datang yang tidak pergi lagi. Bertemu tanpa berpisah. Tapi disisi lain, semua itu tak akan mungkin selama masih di dunia.
Oleh karenanya, aku tidak suka jika ada yang datang lalu membuatku nyaman. Bukan tidak suka dalam arti yg sebenarnya. Melainkan ketidaksukaan itu adalah wujud rasa takut akan perpisahan, takut ditinggalkan. Tapi ternyata begitulah sunnatullahnya. Dan yaah kembali lagi, kita hidup di dunia yang fana. Tak ada yang selamanya, tak ada yang kekal, apalagi abadi. Tak ada yang benar-benar membuat kita tenang, nyaman dan aman. Kecuali Dzat yang Maha Sempurna, Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Maka, ingin rasanya aku berpesan kepada siapapun yang nantinya memutuskan untuk menetap, agar dapat saling menguatkan walau hanya dengan saling bertatap. Agar berlabuh untuk menjadikan sebagian agama menjadi utuh. Agar dapat meyakinkanku untuk sama - sama bersandar dan menjadikan Allah sebagai muara segala cinta.
Sama-sama mengazzamkan dalam hati masing-masing bahwa segala yang datang dan pergi adalah dari Allah, setiap langkah yang menapak bersama adalah untuk menuju Allah, dalam setiap helaan nafas adalah untuk beribadah kepada Allah, dan merajut kehidupan bersama dalam mahligai yang agung sebagai bukti dari janji suci mitsaqan ghalidza, hanya karena Allah.
Sehingga, jika saatnya perpisahan itu datang, rasa pahit itu bisa tersamarkan, sakit itu bisa tertahankan, tak ada patah yang terlalu dalam. Karena Allah lah muara segala perjalanan yang dilakukan bersama dalam ketaatan.
Maka Ya Allah, jangan jatuhcintakan aku dengan dunia dan segala isi yang fana ini, melebihi jatuh cintaku pada Mu. Mampukan aku menempatkan Mu di tempat tertinggi dalam sanubari. Sehingga Engkaulah satu - satunya yang menempati tahta tertinggi di dalam relung hati.
- Rumah | Ahad, 30 Juni 2024
70 notes · View notes
milaalkhansah · 1 month ago
Text
Tumblr media
"kalau bisa kembali ke masa lalu dan mengubah sesuatu, apa yang ingin kamu ubah?"
setelah beberapa menit hanyut dalam hening, laki-laki itu membuka percakapan. aku menoleh ke samping, melihatnya sedang menatap lurus ke depan. aku gak tahu pasti apa yang sedang dilihatnya, apakah perahu-perahu nelayan yang nampak kecil di tengah lautan, ombak yang sedang bergulung-gulung, atau warna kemerahan pada matahari yang sebentar lagi terbenam. rambutnya berantakan dimainkan angin, membuat figur wajahnya dari samping semakin tegas.
sembari menolehkan kepala kembali ke depan, aku menjawab, "nggak ada."
"hm?" kali ini gilirannya yang menoleh. dengan wajah menunduk dan jemari yang sedang asik memainkan pasir, aku tetap bisa merasakan raut bertanya--meminta penjelasan dari wajahnya saat ini.
"kamu gak berharap bisa mengubah keadaan di masa lalu menjadi lebih baik?" dia kembali bertanya.
"memang apa sih yang diketahui manusia soal apa yang baik dan buruk untuk kehidupannya sendiri?" jawabku dengan senyum tipis. "bahkan untuk menentukan menu makanan kita selanjutnya saja kita butuh waktu untuk memikirkannya."
"aku gak akan bilang kalau aku gak pernah menyesali apa yang pernah terjadi, karena bagaimana pun itu bukan sesuatu yang layak untuk dikenang. namun, ...." aku berhenti sebentar menarik napas. "if i went back in time, and fixed what happened or fixed all my mistakes i'd erase myself."
"memang kalau disuruh milih, kamu lebih suk aku yang sekarang atau aku yang dulu?" kali ini gilirannku yang bertanya.
"kamu yang sekarang lebih baik, in many ways."
"kan."
"tapi kalau pertanyaannya diubah, jawabanku mungkin akan berbeda."
"diubah gimana maksudnya?" tanyannya heran.
"kalau kamu bertanya, jika bisa balik ke masa lalu, masa apa yang paling ingin aku ulang."
"dan jawabannya?"
"aku ingin kembali ke masa remaja."
"hidupku saat remaja memang gak lebih baik dari hidupku saat ini. saat dewasa. dulu kukira, hidup dengan lebih tau banyak hal akan terasa menyenangkan, ternyata enggak juga. malah ada banyak keadaan dalam hidup menjadi bodoh akan sesuatu membuat hidup lebih baik. aku ingin kembali ke masa naif-naifnya diriku saat itu. aku ingin kembali merasakan jatuh cinta sama seseorang ya sesederhana karena aku jatuh cinta. tak perlu memikirkan alasan mengapa aku jatuh cinta padanya. tak perlu memikirkan mau dibawa ke mana perasaan suka itu, atau apakah orang tuaku setuju aku suka sama dia. saat remaja, semua perasaan menjadi lebih sederhana, polos, dan apa adanya. perasaan yang udah aku lupa rasanya gimana saat aku udah dewasa. saat dituntut harus serba realistis di semua keadaan. padahal sekali-kali aku juga hanya ingin menggunakan hati dan perasaanku sendiri. bukan mengandalkan logikaku terus."
"..."
"kamu ... lagi suka sama seseorang?" tanyanya ragu?
setelah jeda yang cukup lama, aku tak mengira fokus dia akan ke situ.
aku mengangguk. bersikap jujur.
"terus kenapa gak diperjuangkan aja?"
sambil menatap tepat ke bola matanya, aku berkata, "karena lagi-lagi aku harus realistis, bukan?"
36 notes · View notes
manifestasi-rasa · 3 months ago
Text
Tumblr media
Pada akhirnya, beberapa hal yang terjadi pada kita akan berakhir jadi kenangan saja, ya?
Kurang lebih kayak matahari terbenam, ya. Terlihat indah, lalu menghilang. Nggak apa, mari kita buat ini senja terindah kita jika demikian.
45 notes · View notes