#583words
Explore tagged Tumblr posts
Text
Bagaimana Menyapih
Aku mulai menyapih Abang di usianya yang ke-18 bulan. Tanggal lahir Abang adalah tanggal 6 dan aku memulai sapih hari pertamanya pada 7 Oktober 2024. Beberapa faktor mengapa aku menyapih sebelum 2 tahun telah kusebutkan pada tulisan beberapa hari silam atau teman-teman bisa klik hastag menyapih (#menyapih).
Atas pertolongan Allah, aku merasa proses sapih ini cukup mudah. Allah mampukan, Allah mudahkan karena di hari ke-4 Abang sudah tidak menangis lagi sebelum nap dan di saat itu kukatakan Abang lulus sapih. Ada beberapa hal yang kulakukan sebelum Abang benar-benar disapih pada 7 Oktober 2024.
1. Sleep training
Di usia Abang ke-9 bulan, aku menerapkan sleep training. Salah satu tujuannya adalah agar anak bisa tidur nyenyak sampai pagi karena tidur bagi anak juga penting untuk tumbuh kembangnya. Ibu bisa ikut tidur nyenyak tanpa ada yang meminta menyusu adalah bonus istimewa. Di sini aku tidak benar-benar menghilangkan waktu menyusunya. Bertahap menyesuaikan kemauan Abang. Aku ingat persis memulai sleep training pada 1 Januari 2024. Sleep training yang kulakukan adalah dengan tidak menyusui anak ketika hendak tidur. Tentu di sini aku melakukan beberapa metode karena di awal sleep training anak akan menangis dan mencari ASI. ASI sangat ampuh untuk menenangkan bayi, bukan? Di sini perlu kerjasama antara suami dan istri. Diperlukan juga kesabaran yang lebih dalam menghadapi tangisnya yang tak kunjung berhenti. Jika diingat-ingat, suami beberapa kali ingin menyerah saja tapi aku ingin tetap melanjutkan proses ini. Sebelum tidur Abang memang tidak menyusu namun sekitar pukul 02.00 dini hari ia terbangun dan meminta ASI. Di situlah aku mulai menyusui. Kemudian sekitar pukul 04.00 wib Abang terbangun lagi dan meminta ASI. Hingga akhirnya perlahan-lahan kuganti ASI dengan menyediakan air putih di dalam botol jika ia terbangun sehingga pelan-pelan keinginan minum itu berkurang dan membuat tidur menjadi panjang.
Keputusan sleep training tergantung pada masing-masing keluarga, ya. Aku yakin semua orang tua memiliki alasan masing-masing disesuaikan dengan kondisi keluarga. Sleep training ini juga menuai pro dan kontranya sehingga apapun pilihan kita barangkali akan ada orang yang mempertanyakannya. Oleh karenanya, dibutuhkan strong why. Aku juga pernah mendengar jika melakukan sleep training bisa dikonsultasikan kepada DSA terlebih dahulu. Kita juga bisa mengetahui dan menilai bagaimana kebutuhan menyusu anak. Apakah sleep training bisa diterapkan untuk anak kita atau tidak.
Karena sleep training ini, aku merasa cukup terbantu pada proses sapih karena tersisa menyusui sebelum anak tidur siang (nap).
2. Sounding
Beberapa bulan sebelum sapih yang sebenernya aku belum yakin dengan waktunya sudah mulai kusounding, "Abang, Abang siap-siap sapih ya tapi Bunda belum tahu kapan waktunya. Sapih itu Abang udah ngga nen ke Bunda lagi. Nanti kalau Abang mau minum Abang bisa minum air putih atau sewaktu-waktu kita beli susu sapi." Beberapa kali ketika hendak tidur kusampaikan demikian meskipun tidak konsisten. Terkadang kusampaikan juga di luar waktu tersebut meski lebih jarang. Sampai kira-kira di usianya yang ke-17 bulan aku mulai memikirkan dan lebih yakin untuk menyapihnya meskipun dari kondisi kehamilanku masih boleh karena tidak terjadi hal-hal yang mengkhawatirkan seperti munculnya flek atau kontraksi. Kalimat soundingku berubah. Kali ini ditambah dengan keterangan waktu. Dengan masih ada keraguan kukatakan sebelum tidur, "Abang, nanti kalau Abang umurnya 18 bulan atau 20 bulan disapih, ya. Melihat kesiapan Abang juga." Aku menyebutkan antara 2 bulan tersebut karena jika pada kenyataannya nanti ia belum siap disapih ketika usia 18 bulan maka akan mundur di usia 20 bulan karena jika sesuai HPL adik akan lahir di usia Abang yang ke-22 bulan. Di sisi lain aku tidak ingin terburu-buru menyapih dan tidak ingin juga terburu-buru ketika harus menyapih mendekati persalinan.
#klip2024#kelasliterasiibuprofesional#menyapih#weaning with love#oktober2024#22102024#583words#jurnalhamka
2 notes
·
View notes
Note
For the writing prompts, 62, Fingertips smudged in blue ink (if you take requests regarding characters, I would imagine Josephine Montilyet would always have ink at hand, heh).
I accidentally pre-relationship Adaar/Josie with this one (583words):
Josephine’s penmanship was always perfect. It had been, since she was seven years old and her tutor had stood behind her with stern eyes as she copied out the alphabet. Neat and elegant writing was necessary for the work she did decades later, as ambassador for the Inquisition. There were always letters to write and contracts to draft, and although she had a bevy of secretaries and clerks at her command, Josephine often felt that a personal touch made all the difference.
Tonight, after her fifteenth draft of a letter to a particularly persnickety Arl, she regretted not having someone else take dictation. All the words were correct now, but her hand was tired, and beginning to cramp, and she had accidentally let the side of her finger brush over the wet ink of the previous line. There was nothing for it but to start over again, on a clean parchment.
She sighed, and moved the ruined copy to the side of her desk. She had no more parchment in her drawer, which meant she would have to go to the storeroom for another packet. Pinching the bridge of her nose, she sighed a little more aggressively.
“Rough day?” the question came from the slightly ajar door, where one long, curving horn, a fall of brown hair, and half the Inquisitor’s face was visible.
Josephine nodded, and waved for Adaar to come in. She hoped it was a social call, and not business, if only because she had no time for additional work.
Adaar closed the door behind herself, “I missed you at dinner tonight and— um, you have a bit of ink…” She gestured to the left side of her own nose.
“Oh!” Josephine realized the ink from her hand must have come off when she touched her face. Looking at the mess she had made of her hands, she despaired of being able to retrieve her handkerchief without staining the silk of her dress.
While she stood still in frustration, soiled hands held aloft, Adaar was three steps ahead. She offered her own handkerchief to Josephine. It was much simpler in style to Josephine’s own, with just a simple blanket stitch hem and a small embroidered flower in the corner. It was, however, free of any ink stains, which Josephine could not say of her own, monogrammed one.
“I can’t possibly, I’d ruin your handkerchief!” Josephine attempted to wave Adaar off, but the Inquisitor would not be dissuaded.
Adaar caught Josephine’s wrist with one hand, and dabbed at her fingertips smudged in blue ink with the other. When Josephine’s left hand was cleaned to Adaar’s satisfaction, she moved to the other hand. Then she caught Josephine’s chin in her hand, and tilted her head up and slightly to the side. Gently, tenderly, she wiped at the side of Josephine’s nose, where Josephine had pinched earlier.
Adaar kept her hand on Josephine’s chin for a moment after she let the hand holding the handkerchief drop, and her eyes were focused on Josephine’s mouth. As if she might kiss her.
But it lasted only a moment, before Adaar stepped back and turned her attention to her now ruined handkerchief.
“You shouldn’t have–”
Adaar interrupted her, “There’s still a bit of a mark there, I don’t think it will come off without soap.”
“You ruined your poor handkerchief, now it looks nearly as bad as one of mine!”
Adaar smiled at that. “Good, now I’ll be reminded of you whenever I look at it.”
#dragon age inquisition#josephine montilyet#inquisitor adaar#inquisitor x josephine#adaar x josephine#orange fics
33 notes
·
View notes