#pelabuhan merak
Explore tagged Tumblr posts
Text
Kebijakan WFA Dorong Pemudik Berangkat Lebih Awal, Pergerakan di Pelabuhan Merak Meningkat
Merak, Mediapromoter.id – Kebijakan Work from Anywhere (WFA) yang diterapkan Pemerintah menjelang Lebaran 2025 berdampak pada meningkatnya pergerakan pemudik sejak akhir pekan lalu. Masyarakat yang ingin menghindari kepadatan memilih berangkat lebih awal, yang terlihat dari lonjakan jumlah pengguna jasa kapal ferry, terutama kendaraan roda empat pribadi. Menteri Perhubungan Dudi Purwagandhy…
0 notes
Text
Hendak Nyeberang via Pelabuhan Merak, Seorang Pemudik Alami Gejala Stroke
Banten – Seorang pemudik dilaporkan harus mendapatkan perawatan intensif setelah mengalami gejala stroke saat tiba di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten, menjelang keberangkatannya ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Informasi ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin setelah mengadakan rapat koordinasi dengan Menko PMK, Menhub, Kapolri, Panglima TNI, Basarnas, BMKG, dan ASDP Cabang…
0 notes
Text
Diprediksi Naik 10 Persen, Puncak Arus Libur Idul Adha di Pelabuhan Merak Malam Ini
CILEGON – PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry (Persero) mengklaim siap melayani pergerakan masyarakat dengan moda transportasi kapal penyeberangan selama libur panjang Hari Raya Idul Adha, yang jatuh pada Senin (17/6/2024) dan berlanjut cuti bersama pada Selasa (18/6/2024). Corporate Secretary ASDP, Shelvy Arifin mengungkapkan manajemen memastikan kesiapan prasarana…

View On WordPress
0 notes
Text
Mudik: Sebuah Ritual Modern di Tengah Kegelisahan Global
Oleh: [WH2FIL]
Sebuah Perjalanan yang Selalu Pulang
Tiap tahun, ketika bulan suci Ramadan mulai mendekati senja terakhirnya, Indonesia menyaksikan salah satu pergerakan manusia terbesar di muka bumi: mudik. Lebih dari sekadar pulang kampung, mudik telah menjelma menjadi ritual sosial, spiritual, sekaligus ekonomi yang unik. Jalan-jalan nasional, stasiun, pelabuhan, hingga langit dipenuhi manusia-manusia yang membawa rindu, pengharapan, dan keresahan yang barangkali tak sempat diucap selama sebelas bulan sebelumnya.
Tahun 2025 ini, fenomena mudik tetap menjadi puncak dinamika sosial tahunan, namun dengan warna baru yang tak bisa dilepaskan dari situasi politik domestik yang hangat dan ketegangan global yang nyaris membentuk ulang peta dunia. Maka esai ini bukan hanya tentang pulang, tapi tentang bagaimana manusia terus mencari makna dari “asal-muasal”, bahkan saat dunia di sekitarnya berubah begitu cepat.
Menyusuri Etimologi “Mudik”
Secara linguistik, kata “mudik” berasal dari bahasa Betawi, singkatan dari “menuju udik”, yang berarti kembali ke kampung halaman, ke hulu sungai, ke tempat asal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mudik berarti “pergi ke kampung halaman”, terutama menjelang hari raya. Namun di balik definisi sederhana itu, tersembunyi konsep yang kompleks tentang identitas, keterikatan emosional, dan kebutuhan manusia akan akar.
Dalam antropologi urban, mudik adalah contoh dari "urban-rural duality"—suatu relasi bolak-balik antara kota (tempat kerja dan produktivitas) dan desa (tempat asal dan nilai-nilai tradisional). Fenomena ini mengingatkan kita pada gagasan “pendulum migration” dalam studi migrasi, di mana mobilitas bukanlah garis lurus dari desa ke kota, melainkan sirkular, seperti pendulum yang tak pernah berhenti.
Dari Kolonial ke Digital
Tradisi mudik tak lahir tiba-tiba. Jejaknya bisa ditelusuri sejak era kolonial, ketika buruh-buruh kontrak asal Jawa yang ditempatkan di perkebunan Sumatera, Kalimantan, atau luar negeri, hanya bisa pulang ke kampung halaman setelah masa kerja panjang. Pulang kampung menjadi momen yang sakral—tidak hanya soal kembali, tetapi tentang membuktikan diri bahwa mereka berhasil bertahan.
Di masa Orde Baru, mudik mulai dilembagakan secara massal. Negara melalui TVRI, pos-pos pengamanan lebaran, hingga diskon tiket kereta api menormalisasi mudik sebagai "kewajiban nasional yang membahagiakan". Lebaran menjadi puncak pencitraan stabilitas sosial, dan mudik menjadi bagian dari narasi besar: kerja keras, pulang, berbagi.
Era Reformasi membawa mudik ke ranah digital: reservasi online, e-money, GPS, dan media sosial mengubah pengalaman mudik menjadi konten. Kini, generasi milenial dan Gen-Z tidak hanya mudik, tapi mem-vlog, membuat thread Twitter, atau sekadar unggahan Instastory di rest area.
Ritual, Rasa, dan Risiko
Di balik suka cita, mudik juga menyimpan kerentanan. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan RI, pada tahun 2024 lalu, sekitar 193 juta orang diperkirakan melakukan perjalanan mudik. Ini setara dengan 70% penduduk Indonesia. Infrastruktur nasional bekerja dalam kapasitas ekstrem: tol Trans-Jawa, pelabuhan Merak-Bakauheni, kereta api ekonomi, hingga ojek online. Fenomena ini menjadi laboratorium sosial: semua lapisan masyarakat bertemu, berinteraksi, dan saling menguji empati.
Namun, mudik juga menghadirkan potret ketimpangan. Tak semua orang bisa mudik. Urban poor, buruh migran ilegal, atau mereka yang kehilangan pekerjaan akibat krisis ekonomi global—semuanya harus menelan rasa rindu dalam diam. Mereka yang pulang dengan jet pribadi dan mereka yang naik truk logistik tak pernah benar-benar duduk di meja yang sama, meski sama-sama mengaku “pulang”.
Mudik di Dunia Lain: Mobilitas yang Mendefinisikan Identitas
Fenomena serupa mudik juga terjadi di berbagai belahan dunia, meski dengan nama berbeda. Di Tiongkok, ada "Chunyun", arus mudik terbesar dunia menjelang Imlek, yang bisa melibatkan lebih dari 3 miliar perjalanan. Di India, saat Diwali, jutaan orang juga kembali ke kampung halaman. Di Amerika Serikat, Thanksgiving menjadi momen tahunan ketika orang-orang melakukan “homecoming” sebagai bentuk penghormatan terhadap keluarga dan tradisi.
Fenomena ini memperlihatkan satu hal: manusia, seberapapun modernnya, tetap membutuhkan “pulang” sebagai orientasi emosional. Bahkan di tengah dunia yang makin tidak pasti, insting untuk pulang selalu menjadi titik kompas batin.
Mudik di Tengah Kegelisahan Politik dan Krisis Global
Tahun 2025 membawa dinamika baru. Indonesia tengah menghadapi suhu politik pasca-pemilu yang hangat-hangat tahi ayam –jika diangggap terlalu ekstrem untuk dikatakan ‘panas’, dengan isu-isu besar seperti reformasi birokrasi yang macet, fragmentasi elite, efisiensi yang inefisien, nir kemurnian (serba oplosan), hingga sentimen identitas yang kembali menguat. Di tingkat global, genosida kemanusiaan di Gaza, konflik di Timur Tengah, ketegangan Tiongkok-AS, serta krisis energi dan pangan akibat perubahan iklim menciptakan gelombang inflasi dan kecemasan kolektif.
Di tengah itu, mudik menjadi seperti jeda. Sebuah oase batin yang sementara. Namun, kita tak bisa menutup mata bahwa mudik juga menjadi ajang distribusi narasi. Spanduk-spanduk partai politik di jalur mudik, iklan bantuan sosial, hingga testimoni di TikTok semua menyiratkan bahwa “pulang” bukan hanya tindakan personal, tapi juga ladang propaganda.
Lebih dari itu, mudik memperlihatkan bagaimana negara memosisikan dirinya. Apakah sebagai fasilitator (dengan menyiapkan transportasi aman, subsidi BBM, hingga aplikasi pemantau arus lalu lintas)? Ataukah sekadar sebagai pengamat dari kejauhan? Di sinilah makna politik mudik diuji.
Mengapa Kita Selalu Ingin Pulang?
Dari sudut pandang psikologi, mudik bisa dilihat sebagai bentuk regulasi emosi. Saat tekanan hidup di kota memuncak, pulang menjadi cara untuk "reset". Ada efek katarsis dalam bertemu orangtua, makan masakan rumah, atau sekadar tidur di kamar masa kecil.
Sosiolog Emile Durkheim pernah menulis bahwa ritual kolektif memperkuat solidaritas mekanik. Mudik adalah contoh nyata: ia mengikat kembali individu dalam jaringan sosial asal. Bahkan jika sudah berbeda agama, pandangan politik, atau gaya hidup, di kampung halaman kita semua kembali menjadi “anak dari ibu yang sama”.
Namun, seperti yang ditulis sastrawan Milan Kundera, “kita pulang bukan karena tempatnya, tapi karena waktu yang tak bisa kita ulang.” Mungkin karena itu, mudik selalu meninggalkan rasa manis sekaligus getir. Kita pulang untuk menemukan bahwa kampung halaman sudah berubah. Tapi kita juga lega, karena setidaknya, kita pernah menjadi bagian darinya.
Pulang Sebagai Perlawanan
Di dunia yang kian mendorong mobilitas, produktivitas, dan efisiensi, mudik bisa dilihat sebagai bentuk perlawanan. Sebuah "kebodohan kolektif yang rasional"—menghabiskan waktu berjam-jam di jalan, meninggalkan pekerjaan, menghabiskan tabungan—semata-mata untuk sesuatu yang tak bisa dihitung: ‘rasa’.
Dan barangkali itulah kenapa mudik akan selalu ada. Ia bukan sekadar mobilitas fisik, tapi juga perjalanan batin. Ia bukan hanya tentang menemui orang-orang yang kita cintai, tapi juga berdamai dengan versi lama dari diri kita sendiri.
Jadi, di tahun 2025 yang gaduh ini, mari kita rayakan mudik bukan hanya sebagai tradisi, tapi sebagai refleksi: bahwa manusia, betapapun modern dan tercerabut dari akar, selalu mencari jalan pulang. Dan siapa tahu, dalam perjalanan itu, kita justru menemukan masa depan yang lebih utuh.
Referensi Ilmiah (Ringkas):
1. Geertz, Clifford. The Religion of Java – terkait struktur sosial dan nilai mudik.
2. Hugo, Graeme. “Circular Migration and Development” – konsep migrasi sirkular.
3. Kementerian Perhubungan RI – Laporan Mudik Nasional 2024.
4. Harari, Yuval Noah. Sapiens: A Brief History of Humankind – migrasi dan identitas manusia.
5. Durkheim, Emile. The Elementary Forms of Religious Life – tentang ritual dan solidaritas.
0 notes
Link
0 notes
Text
Mudik Lebaran, Danang : Evaluasi Armada dan Infrastruktur
JAKARTA – Anggota Komisi V DPR RI, Danang Wicaksana Sulistya, memberikan respons tegas terhadap insiden Kapal Feri KMP Portlink III milik PT ASDP Indonesia yang menabrak dermaga di Pelabuhan Merak, Banten, pada Senin, 17 Maret 2025. Ia meminta Kementerian Perhubungan RI (Kemhub RI) untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh demi memastikan keselamatan dan kelancaran arus mudik Lebaran…
0 notes
Text
Cuaca Ekstrem, ASDP Imbau Pengguna Jasa Penyeberangan Tingkatkan Kewaspadaan
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengimbau pengguna jasa penyeberangan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah, khususnya Jabodetabek yang saat ini tengah terdampak banjir. Masyarakat yang akan melakukan perjalanan melalui Pelabuhan Merak menuju Bakauheni diharapkan untuk mengatur waktu keberangkatan dengan cermat agar perjalanan tetap lancar dan…
0 notes
Text
Kapolda Banten tinjau Pelabuhan Merak untuk pengamanan menjelang Nataru
SATUKOMANDO.com, Cilegon – Kapolda Banten Irjen Pol Suyudi Ario Seto melakukan survei langsung ke Pelabuhan Merak untuk memastikan kesiapan jalur dan kantong parkir dalam rangka pengamanan Natal dan Tahun Baru 2024 – 2025, Selasa (10/12/2024). Dalam kunjungan tersebut, Kapolda Banten didampingi sejumlah pejabat utama Polda Banten dan perwakilan instansi terkait, termasuk pihak ASDP Indonesia…
0 notes
Text
Cuaca Buruk, Antrean Mengular di Pelabuhan Merak
http://dlvr.it/TGbKSd
0 notes
Text
Lonjakan Arus Mudik Libur Panjang, Kombes Yuni Iswandari: Untuk Selalu Waspada Terhadap Fenomena Musim Penghujan
Lampung Selatan, Mediapromoter.id – Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan, mengalami lonjakan arus kendaraan yang signifikan selama libur panjang Imlek dan Isra Miraj 2025. Penyeberangan dari Bakauheni menuju Merak didominasi oleh kendaraan pribadi, sementara pelabuhan tetap beroperasi dengan lancar tanpa penumpukan antrean. Menurut data dari PT ASDP Indonesia Ferry cabang Bakauheni, selama dua…
#Arus Mudik#Kombes Yuni Iswandari#Libur Panjang#Pelabuhan Bakauheni#Polda Lampung#PT ASDP Indonesia Ferry
0 notes
Text
Penurunan Jumlah Penumpang dan Kendaraan di Pelabuhan Merak dan Bakauheni Menjelang Tahun Baru 2025
Banten – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mencatat penurunan jumlah penumpang dan kendaraan yang menyeberang melalui Pelabuhan Merak menjelang pergantian tahun baru 2025. Pada Jumat (27/12), sebanyak 34.579 penumpang tercatat menyeberang dari Jawa ke Sumatera, turun 9 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 37.976 orang. Sementara itu, jumlah kendaraan yang menyeberang mencapai 8.507 unit,…
0 notes
Text
Gapasdap Minta Dibangunkan Dermaga Baru di Penyeberangan Merak - Bakauheni
BANTEN – Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), Khoiri Soetomo berharap pemerintah membangun dermaga baru di rute penyeberangan Merak-Bakauheni. Tujuannya untuk mencegah antrean dan kepadatan penumpang saat arus mudik lebaran mendatang. Dikutip dari kantor berita Antara, Khoiri Soetomo menyatakan bahwa penambahan dermaga penting dilakukan…

View On WordPress
0 notes
Text
Persiapan Nataru 2024, Kakorlantas Polri Tinjau Jalur Merak Hingga Ketapang
Jakarta,Sumbarlivetv — Jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri, Irjen Aan Suhanan, memimpin langsung pemantauan jalur darat dan laut dari Pelabuhan Merak-Bakauheni hingga Ketapang-Gilimanuk. Jalur ini menjadi perhatian khusus karena sering menjadi titik krusial dalam pergerakan masyarakat selama periode liburan. Irjen Aan menegaskan, Pelabuhan…

View On WordPress
0 notes
Link
0 notes
Text
2 Pria Sembunyikan 30 Kg Sabu di Mobil Ditangkap di Pelabuhan Merak
Penangkapan Besar di Pelabuhan Merak: 2 Pria Sembunyikan 30 Kg Sabu di Mobil
Merak, 23 Oktober 2023 - Dalam sebuah operasi yang mengguncang masyarakat, dua pria berhasil ditangkap oleh petugas kepolisian di Pelabuhan Merak, Banten, pada Senin malam. Penangkapan ini terjadi setelah petugas memperoleh informasi mengenai upaya penyelundupan narkoba yang melibatkan pengangkutan sabu seberat 30 kilogram yang tersembunyi di dalam mobil.
baca selengkapnya... klik link disini klik link disini
0 notes
Text
TURISIAN.com - Periode angkutan Lebaran 2025 semakin dekat, dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mencatat lonjakan signifikan dalam reservasi tiket ferry. Data terbaru menunjukkan peningkatan pembelian tiket hingga 5 persen pada 27-28 Maret 2025. Atau H-4 dan H-3 Lebaran, dari total kapasitas tiket yang tersedia. Seperti yang telah diprediksi sebelumnya, arus pergerakan pemudik mulai terasa sejak H-6 atau 25 Maret 2025. Kenaikan jumlah reservasi ini diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan mendekatnya hari raya. Sementara itu, pemerintah pun telah mengeluarkan imbauan bagi perusahaan dan instansi untuk menerapkan kebijakan Work from Anywhere (WFA). Hal ini guna mengurangi kepadatan lalu lintas jelang Lebaran. Sedangkan, Corporate Secretary ASDP, Shelvy Arifin, menegaskan bahwa pihaknya telah menerapkan sistem layanan tiket daring di 49 pelabuhan di seluruh Indonesia. Melalui aplikasi dan situs web Ferizy, calon penumpang bisa membeli tiket sejak 60 hari sebelum keberangkatan. “Kami mengimbau masyarakat untuk tidak menunda pembelian tiket agar perjalanan lebih nyaman dan terencana. Tanpa tiket yang valid, pengguna jasa tidak akan bisa menyeberang,” ujar Shelvy. Sementara transformasi digital ASDP ini sendiri bukan hal baru. Sejak 2018, perusahaan pelat merah ini telah mengadopsi digitalisasi layanan, dan pada 2020, Ferizy resmi diluncurkan. Hasilnya, jumlah pengguna terus melonjak, dari 438.105 pengguna pada tahun pertama menjadi lebih dari 2,78 juta pengguna per Januari 2025. Digitalisasi tiket ini juga diyakini mampu menekan antrean panjang dan mengurangi praktik percaloan yang kerap terjadi saat puncak arus mudik. BACA JUGA: Ingin Liburan ke Destinasi Karimunjawa? Catat Jadwal Kapal Ferry Ini Antisipasi Lonjakan Pemudik Menghadapi lonjakan arus kendaraan dan penumpang saat mudik Lebaran, ASDP telah memperkuat fasilitas dan kapasitas di sejumlah pelabuhan utama. Di lintasan Merak–Bakauheni, sebanyak 47 kapal disiapkan dengan kapasitas harian mencapai 25.067 kendaraan. Selain itu, Pelabuhan Ciwandan dan Bojonegara (BBJ) turut difungsikan sebagai pelabuhan alternatif dengan tambahan kapasitas hingga 7.573 kendaraan per hari. Tak hanya jalur ke Sumatra, Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk juga mendapat perhatian khusus. ASDP bekerja sama dengan regulator dan pemangku kepentingan untuk mengoperasikan kapal berkapasitas besar. Menyiapkan buffer zone, serta menerapkan rekayasa lalu lintas guna menghadapi puncak arus mudik yang diprediksi terjadi pada H-3 Lebaran. Atau, bertepatan dengan satu hari sebelum Hari Raya Nyepi. Kemudahan Pembayaran dan Infrastruktur Selain peningkatan infrastruktur, ASDP juga memperluas kanal pembayaran tiket Ferizy. Kini, transaksi bisa dilakukan melalui transfer bank, virtual account, hingga dompet digital seperti LinkAja, ShopeePay, dan Blu BCA Digital. PT ASDP menargetkan kelancaran layanan selama periode mudik tahun ini. Diperkirakan, jumlah penumpang penyeberangan di lintasan nasional mencapai 4,56 juta orang. Yakni, dengan total kendaraan sekitar 1,1 juta unit, naik 10 persen dari tahun sebelumnya. Untuk mengantisipasi lonjakan ini, 50 dermaga siap dioperasikan, terdiri dari 44 unit milik ASDP dan 6 unit non-ASDP. Sementara itu, 215 kapal telah disiapkan, dengan 50 unit milik ASDP dan sisanya kapal reguler non-ASDP. “Dengan prediksi kenaikan 10 persen, kami memastikan kesiapan armada dan infrastruktur agar pemudik dapat menyeberang dengan nyaman dan aman,” tandas Shelvy. ***
0 notes