tulisan yang dikira terlalu panjang untuk jadi caption di instagram
Don't wanna be here? Send us removal request.
Text
Pondok Indah Mertua.
"Dek, bikinkan cumi balado."kata mas Hermawan, sehari sebelum pulang.
Jarang-jarang beliau rekues masakan, jadi aku semangat cari resep di youtube. Devina Hermawanlah yang paling aman.
"Buk, besok mas hermawan minta cumi balado."aku meneruskan info yang aku dapat. Cumi sudah dipesan, bahan sudah lengkap.
Mas Hermawan bilang, yang penting aku yang masak, urusan rasa belakangan. Engga sih, beliau ga bilang gitu. Cuma anggaplah begitu hauahuahauaha
Keesokan harinya, mas Her sudah di rumah. Dibantu Mbak Sari, aku siap-siap masak cumi balado untuk makan siang, "Mbak, bawang merang, bawang putih, lombok gede, lombok kecil, daun jeruk, sereh, daun salam. Udah ada semua ya?" tanyaku, sekalian memastikan.
"Kok pake sereh seh? Gak atek yooo..."kata Ibu Mertua yang ikut duduk di dapur.
Uhuyy untungnya aku sudah lebih lima tahun serumah dengan beliau, jadi ada keberanian untuk menjawab, "Ini di resepnya pakai kok."
"Diuleg, dek?"tanya mbak Sari. "Blender aja."kataku.
Bawang merah dan putih sudah halus, masukkan cabe-cabean, blender kasar.
"Kurang alus iku..."komentar Ibu Mertua. "Udah deh kayaknya..."
"Belum. Blender lagi sebentar."kata beliau.
Ok deh, ikuti saja. Lha, kebablasan wkwk alus bangeeeetttt, "Waduh, kayak bumbu bali."kataku
"Ya gak lah, bumbu bali kan pake kecap."kata ibu mertua.
Oke deh, lanjut tumis. Pas lagi numis, mertua nyeletuk, "Tambahin air."
"Lha, ga pake air buk..."
"Pake lhooo..."
Jadi tampaknya bayangan baladoku dan balado mertuaku ini beda gitu. Tapi aku yakin seratus perzen balado yang dimaksud mas Her itu seperti yang aku maksud.
Tapi dasar aku, aku kasih aja dikit, yang penting keliatan aku nambahin air, "Sithik men, koyo idhune wong ayu." WKWKWKWK
Ok deh, selesai masak. Mas Her makan, pas lihat hasil akhir, beliau nyeletuk, "Ini balado apa bumbu bali?"
TUH, KAN! Wkwkwkwk "Iya, ngeblendernya terlalu alus."kataku.
Berharap ibu mertua ikut dengar komentar anaknya huahauahua
Hari yang panjang. Hft. Tapi seru. Seru karena terjadi sesekali, kalau tiap hari pusing juga wakakka
Seperti kata Mbak No, "Satu dapur gak bisa dua kepala." Wkwkwk
Mungkin ini maksudnya.
98 notes
·
View notes
Text

Paling seru memang nulis tentang kegalauan percintaan sebelum pernikahan ya.
Mungkin karena sering dicekoki dongeng yang ujungnya pernikahan, kisah mencari pelabuhan terkahir memang paling mendebarkan.
Terbawa ke dunia nyata, ketika sampai pada pernikahan, selesai sudah semua kisah. Tinggal menjalani realita.
Mau cerita yang bahagia, takut dikira jumawa. Cerita yang sedih, takut dikira pernikahannya kenapa-napa. Wkwkwk
Padahal, kangen juga. Kangen nulisnya wkwk.
Padahal ya tinggal nulis aja kan ya.
Hidupku lawak terus. Sedihnya pun lawak.
39 notes
·
View notes
Text
Awal tahun ini Khaula harus opname. Aku urus semua sendiri. Rasanya semua biasa saja, bisa saja. Aisha dititip ke kakak ipar, mertua di rumah sehat. Hari cerah, tidak hujan.
Aku kirim kabar ke suami, khaula panas sudah lebih dari tiga hari, hasil cek labnya kurang baik, disarankan opname. Sudah aku urus semua, masih ada waktu untuk pulang ke rumah, packing perlengkapan staycation beberapa hari ke depan.
Tiba-tiba ada wa, "Mas ajukan cuti, malam ini pulang."
Terus aku nangis. Nangis sampai hidung mampet dua-duanya.
Tapi ga tau nangis kenapa. Rasanya setelah itu gak bisa apa-apa, maunya diurusin semua. Hahaha
Oh rupanya kita kuat tu, terpaksa ya. Atau manja karena ada kesempatannya?
Ntahlah.
Yang pasti alhamdulillah setelah itu semua baik-baik saja. Sehat semua.
137 notes
·
View notes
Text
Ternyata kita tu emang harus kuat fisiknya ya.
Mungkin sama dengan kalau kita kaya, banyak duitnya, kita bisa bantu orang lebih banyak. Mbak Retno tu, cita-citanya emang jadi orang kaya. "Kita tu harus kaya dek. Jadi bisa kita bantu orang. Ga pake mikir lama."
Cita-cita kita semua sih itu...
Ya, kalau ga ada uang, pake tenaga lah ya...
Kalau diingat lagi pas mertua ambruk di ruang tengah, aku juga ikut ambruk. Mungkin kalau aku kuat, kami tidak ambruk. Mungkin kalau aku sedikit berotot, aku bisa menopang ibu mertua meski sambil gendong anak. Mungkin ga perlu nelfon mas ipar untuk angkat ibu ke kamar.
Tapi, kalau kata ibukku, "Adek tu harus sehat, pertama-tama untuk adek sendiri. Bukan cuma untuk anak-anak aja. Tapi untuk adek sendiri dulu."
104 notes
·
View notes
Text

Makan bakso sambil nangis, ep. 2
Beberapa hari lalu pengen makan bakso, tapi seperti susah. Padahal banyak yang jual bakso. Akhirnya sambil nunggu antrian obat Khaula, nyari bakso. Makan bakso sambil nangis. Huhu baksooo...
Episode satunya pas lagi sedih tapi lupa kenapa hahaha mepet magrib keluar dengan alasan beli obat. Emang ada obat yg tadinya dititip mertua tapi lupa aku beli.
Anak-anak sudah mandi semua. Sore masih ada ipar dan ponakan yang main di rumah, jadi anak-anak aman ditinggal.
Naik motor, ngeeeng, ke apotek. Abis dari apotek mampir beli bakso.
Pesan semangkok, dikasih sambel sedikit. Mencoba menikmati bakso, karena itu sepertinya kali pertama makan bakso sendiri tanpa ada yang ngakngikngakngik, tanpa ada yang minta suap atau minta potongin bakso ke ukuran yang lebih kecil.
Nikmat, tapi tidak nikmat karena harus makan cepat. Nangis.
Sebenarnya makan bakso ini biasa aja ya, tapi aku merasa ga pernah tuh makan bakso dinikmati. Padahal aku suka bakso. Hahaha
Yang kerasa sedihnya sampe sekarang tu, pas nyoba bakso pinggir jalan. Itu bakso terkenal gitu. Baksonya kecil-kecil. Mau beli 2 porsi untuk aku dan anak-anak, takut ga habis. Jadinya pesen 1 porsi karena kayaknya isinya banyak. Ternyata anak-anak doyan, mau pesan lagi, nanggung. Antrinya panjang. Ya sudah, sekenyangnya anak-anak dulu, baru dikasih sambel.
Sisa dua bakso, tapi kuah sudah dingin, ditambah sambel juga ga enak.
Itu malam minggu, pas mas hermawan cuti, jadi kami berencana muter alun-alun setelahnya. Anak-anak sudah ga nyaman, pembeli lain juga mulai berdatangan. Sebenarnya aku mau pesan satu mangkok lagi, masih lapar, juga pengen menikmati bakso karena itu baksonya enak. Tapi gajadi. Terus sampe sekarang belum ke sana lagi. Padahal aku suka makan di pinggir jalan, ga mau dibungkus bawa pulang :(
Makan bakso sebenarnya ga perlu sedramatis itu sih. Sebenarnya bisa aja, eh, TAPI GA BISA LHO. kenapa ya...
Kayak...pengen makan bakso enak dengan tenang gitu. Makan bakso yang kuahnya panas, dikasih sambel sedikit.
Huhu, ibuk...
77 notes
·
View notes
Text
Ada yang bilang, kategori adulting paling sedih adalah ketika berobat sendiri.
Rupanya ada lagi.
Mertua dan anak sakit di waktu yang bersamaan.
Antar mertua dan anak nomor dua, Khaula, periksa ke rs. Jadwal terdekat poli penyakit dalam jam 15.00 antrian nomor 20, sekalian kontrol bulanan untuk diabetesnya.
Dokter anak masih nanti jam 18.00, dapat antrian 60.
Duduk di ruang tunggu, ibu mertua yang lagi antri juga demam dan lemas, dicek ternyata panasnya 38°. Khaula menolak duduk, minta digendong terus.
Lari ke igd buat minta obat penurun panas lewat dubur untuk Khaula karena ternyata panasnya sampai 40°, meninggalkan mertua antri sendiri di poli.
Betul, aku bawa termometer di tas 🥲
Antrian di IGD panjang karena ada yang kecelakaan jadi harus didahulukan.
Lari lagi ke poli cek mertua yang lemas duduk bersandar di ruang tunggu. Memutuskan untuk menemani mertua dulu sampai dipanggil untuk periksa.
Mertua selesai diperiksa, obat sudah diantrikan, lalu ke parkiran. Aku minta mertua tunggu di mobil dulu sambil tiduran. Aku kembali ke IGD.
IGD sudah lengang, Khaula mulai ditangani. Periksa suhu, cek paru, diberi rujukan untuk cek darah lengkap segera, agar nanti hasilnya bisa dibaca dokter di poli anak. Untuk demamnya, diberi obat penurun panas lewat dubur seperti rencana awal dibawa ke igd.
Surat rujukan ke lab sudah di tangan. Kembali ke parkiran, antar mertua pulang.
Sesampainya di rumah, mertua sudah tidak kuat bangun. Lututnya lemas. Masih sambil menggendong Khaula, aku mencoba menuntun mertua masuk rumah. Belum sampai kamar, sudah ambruk. Ambruk bertiga.
Untungnya anak keempat mertua, tinggal di dekat rumah. Telfon mas ipar untuk angkat mertua ke kamar, sekalian ditidurkan di kasur.
Sudah magrib. Solat dulu. Anak kedua ibu mertua, perempuan, rumahnya agak jauh, tapi sudah aku telfon, aku minta ke rumah untuk jaga ibu sebentar karena aku harus kembali ke rs.
Mertua sudah tidur, masih ditemani anak keempatnya tadi. Aku masuk ke mobil, berangkat ke rs lagi.
Nyetir sambil nahan nangis. Apakah betul diperlukan cek darah? Demamnya dua hari, panas 39, minum obat turun 38, naik lagi 39 bahkan sampai 40.
Sampai di parkiran rs, akhirnya mantap jalan ke lab untuk cek darah. Lagi musim DBD. Yasudahlah, toh saran dari dokter juga. Maaf ya dek, disuntik sebentar.
Sekarang, saat tulisan ini diketik, sudah pukul 19.11, aku dan Khaula masih di lab, menunggu hasil cek darah tadi. Setelah ini kembali ke IGD, lalu ke poli anak.
Semoga pulangnya tidak lupa ambil obat ibu mertua yang sudah lebih dulu diantrikan tadi.
Tanggal berapa hari ini?
Oh, tanggal 1 Oktober 2024.
Huhu, kangen ibukku...
129 notes
·
View notes
Text
Semoga Tuhan beri kita umur panjang.
Semoga Tuhan beri kita umur panjang. Biar kita bisa merasakan pagi ke sore tidak secepat sekarang. Biar kita bisa bicara di rumah saja. Biar kita bisa tukar cerita lebih lama.
132 notes
·
View notes
Text
"Buk, jangan meninggal dulu dong..."
...kata Aisha. "Ya kalau sudah waktunya meninggal, mau gimana lagi mbak." jawabku sekalem mungkin.
"Terus aku gimana dong, aku belum bisa mengurus bayi..."katanya lagi.
"Ya semoga pas ibuk meninggal, pas mbak udah bisa apa-apa sendiri." sebisa mungkin obrolan meninggal ini sesantai mungkin, sebiasa mungkin.
Jadi ingat, pas jaman SMA ada tes psikologi gitu, ada satu pertanyaan tentang hal yang paling ditakuti. Aku tulis 'takut ditinggal bapak ibuk'
Entah dapat ide dari mana, tapi aku selalu merasa kalau aku meninggal gapapa deh, karena hidupku ga sebegitu ngaruhnya ke orang sekitar.
Masih begitu sampai pas kena covid 2021 lalu, lagi isolasi mandiri di rumah. Aisha ikut isoman karena masih belum disapih. "Kalau aku meninggal gapapa deh, toh Aisha banyak yang jaga."
Tapi semenjak ada Khaula, ga bisa gitu. Setelah aku tanya lagi ke diri sendiri kenapa bisa gitu, karena aku ga yakin ada orang yang bisa sayang ke mereka sepenuh dan seadil aku, ibunya. WALAUPUN AKU GATAW YHA SEKARANG INI ADIL APA ENGGA wkwkwk
Bismillah, semoga jadi semangat untuk sehat terus.
Walau pun ibukku bilang, "Sehat itu untuk adek sendiri juga. Justru sehat tu untuk adek dulu..."
123 notes
·
View notes
Text
Aliening
Adalah istilah yang dulu suka aku pake untuk menyendiri. Hlhueheuehue
Nonton sendiri, jalan-jalan sendiri, sendiri aja. Jadi alien.
"Pampering. Kamu itu lagi self-pampering." kata temenku yang ga setuju dengan istilah aliening.
Memastikan bahwa aku sedang melakukan hal-hal baik untuk diriku sendiri. Betul juga, ketika label diganti, aku jadi merasa lebih...apa ya...menghargai diri sendiri?
Apa karena self-pampering terdengar lebih anggun daripada aliening yang terasa urakan? Wkwkwkw
34 notes
·
View notes
Text
Kayaknya aku butuh banget alien-ing lagi.
Akhir-akhir ini bolak balik RS persiapan oprasi katarak mbahti (doakan gaes, agar lancar, pemulihan cepat), sambil nggendong khaula dan nggandeng Aisha, memperlambat langkah kaki agar Mbah Ti ga ketinggalan. Muter parkiran nyari parkir kosong juga terasa lebih melelahkan. Belum lagi menstruasi yang membuat sendi-sendi terasa lebih ngilu. Membuatku memutuskan tidur di kamar atas saja, karena tidur di kasur bawah yang sekamar dengan mbahti membuat punggung cekot-cekot.
Wah, senangnya bisa mengeluh.
Stay here ya keluhan-keluhanku.
Aku akan kembali menghadapi dunia. Wush!
44 notes
·
View notes
Text
Aliening
Adalah istilah yang dulu suka aku pake untuk menyendiri. Hlhueheuehue
Nonton sendiri, jalan-jalan sendiri, sendiri aja. Jadi alien.
"Pampering. Kamu itu lagi self-pampering." kata temenku yang ga setuju dengan istilah aliening.
Memastikan bahwa aku sedang melakukan hal-hal baik untuk diriku sendiri. Betul juga, ketika label diganti, aku jadi merasa lebih...apa ya...menghargai diri sendiri?
Apa karena self-pampering terdengar lebih anggun daripada aliening yang terasa urakan? Wkwkwkw
53 notes
·
View notes
Text
Akhir-akhir ini suka dengerin podcast raditya dika. Karena seneng aja denger orang ngobrol hal-hal yang dia suka. Apalagi ketemu lawan bicara yang nyambung gitu. Bersemangat.
Malam ini lagi dengerin raditya dika ngobrol sama Pangeran di akun yutub Asumsi. Mereka ngobrolin buku, penulis, banyak kata-kata yang ga aku ngerti, tapi seru aja gitu denger orang ngobrol yang isi obrolannya itu penuh semangat.
Jadi kangen ngobrol yang seru gitu. Huhu menangis. Tapi aku seperti sudah tidak punya tenaga untuk berteman dengan wali murid sekolah aisha wakakaka
Ketemu temen lama mungkin seru ya...
54 notes
·
View notes
Text
Mencari "Maha Memaklumi" di antara 99 nama Tuhan, karena rasanya selama ini terlalu percaya diri bahwa Tuhan bisa 'maklum' atas segala kelalaian sehingga bisa lolos dari hukuman.
Padahal, dipersilahkan melakukan kesalahan terus menerus tanpa teguran adalah hukuman paling kejam.
311 notes
·
View notes
Text
Ternyata, sebagai seorang ibu, menyalahkan diri sendiri adalah jalan pintas.
Ketika anak sakit, ini itu sudah diupayakan, memang ujung-ujungnya salah ibunya.
Sebanyak apa pun ikhtiar, tidak pernah terlihat cukup.
Mungkin batas maksimal upaya seorang ibu harus jauh di atas rata-rata manusia di muka bumi ini.
Mungkin jawaban tercepatnya adalah ibunya tidak becus dalam menjalani perannya. Mungkin jawaban itu akan lebih melegakan orang sekitar yang keheranan kenapa anaknya bisa sakit, "oh, ya itu. Ya memang karena itu."
182 notes
·
View notes
Text
Alhamdulillah, anak-anakku, Aisha Kinasih dan Khaula Lituhayu, dengan nama Nayyira di tengahnya.
Menuju Besok.
“Dek Hana, sudah ada rencana menikah? Sudah ada calonnya belum?” Tanya seseorang padaku disuatu pagi yang cerah. “Nikah? Belum mbak. Kalau rencana nama anak, udah ada.”
Sudah jadi “bercandaan yang diam-diam di-aamiin-kan” ketika orang lain mulai menanyakan tentang pernikahan. “Persiapan pernikahanku tuh udah 90%. Tinggal tunggu calonnya aja.” “Ada wedding expo. Liat-liat dulu, jadi besok udah ga bingung.” Dan sebagainya.
Kembali ke nama anak.
Jaman sekarang nama anak-anak kalau gak kayak nama orang barat, ya nama orang arab. Ya gakpapa sih. Asal artinya baik.
Adalah kewajiban orang tua untuk memberi nama dengan makna yang baik untuk anak-anaknya. Nama adalah doa. Nama adalah harapan.
Jadi, aku sendiri gak begitu setuju dengan “apalah arti sebuah nama.” Nama seseorang itu adalah hasil pemikiran panjang dan doa dari para orangtua. Bahkan calon orang tua kayak aku. Wkwkwk
Aku ingat dulu, diawal semester, pas kelas 1 SMP, diantara banyak teman baru, aku agak sedih. Karena pas absen, mereka ketawa pas denger namaku. Sundari. Persis kayak nama ibu mereka. Ada 2 orang yang nama Ibunya persis sama dengan namaku, Sundari. “Ahahaha kayak nama mama aku.”
Itu awal semester, disaat aku masih malu-malu. Agak tengah semester, aku udah mulai tahu posisiku. “Weh, macam-macam kau, durhaka kau sama mamak kau yaaa…” kataku sambil bercanda. “Bagi sibu lu! (Minta seribu dulu!)” Lah, emaknya ‘malak’ anaknya wkwkwk
Sekarang, aku lebih senang memperkenalkan diri sebagai Sundari. Bangga gitu. Karena aku dari dulu memang senang dengan nama itu. Anggun. Mencairkan suasana. Karena tiap kali perkenalan dengan orang baru, reaksi mereka kebanyakan seperti ini, “Orang sunda ya?” “Bisa nyanyi keroncong dong ya.” “Pujakesuma ya? Putri Jawa kelahiran sumatera?”
Nanti, nanti banget, aku sih pengennya ngasih nama anakku yang jawa-jawa gitu. Nama depan arab, nama belakang jawa. Duh, piye ya. Hahaha
Nah, anakku, siap-siap ya. Siap-siap menjadi Surastri diantara Cassie. Siap-siap menjadi Siswanto diantara Charles.
Jadi Mas, nama anak urusanku. Kamu ngurus biaya sekolahnya aja.
Hehe hehe
272 notes
·
View notes