Text
What I Would Say to My Favorit Celebrity
Dear Bang Radit,
Iya artis favorit saya itu Raditya Dika.

Saya kenal Bang Radit dari Malam Minggu Miko lalu lanjut beli dan baca bukunya. Dulu kalau nggak salah ingat saya juga pernah datang loh bang ke acara book signing di Yogyakarta. Saya ikut antri dan ngga bosan menunggu karena Bang Radit juga sambil ngelucu. Nggak ada fotonya karena yang eksklusif gitu deh yang dapat kesempatan foto. Bukunya saya lupa buku apa dan entah dimana bukunya itu sekarang.
Lalu sering nonton youtube channelnya Bang Radit dan tak lupa nonton filmnya juga (walaupun kalah bagus dan rame dari filmnya Koh Ernest ya ehehe). Tapi saya sangat senang dan menikmati semua kontennya Bang Radit (kecuali yang paranormal karena saya cupu abiez alias penakut). Konten favorit saya perang makanan yang sama Bang Pandu dan podcast sekarang yang lucu nan seru juga sangat menambah wawasan. Oh iya, saya juga dengerin spotify yang sama Rais loh sambil nyetrika lalu tertawa sendiri, tugas rumah tangga sedikit lebih ringan jadinya walaupun tak ada berkurangnya hufftt.
Saya lupa tahun berapa deh Bang, pokoknya saya nonton Cerita Cintaku yang pertama di Jakarta, waktu itu bareng mantan perginya yang show siang. I really enjoy the show. Saya suka sekali semuanya termasuk sistem dan panitianya yang ramah.
Tolong terus mengedukasi ya Bang, sehat selalu.
0 notes
Text
My Favorite Childhood Memory
Kenangan masa kecil yang masih saya ingat adalah saat kena sakit campak kelas 4 SD. Gak masuk sekolah selama 4 apa 5 hari gitu saya lupa. Selalu dituruti mau makan apa bahkan untuk minum obat saya disogok sama ibu. Obatnya itu kuning telur mentah dicampur apa gitu saya lupa. Nah kuning telur mateng aja nggak saya makan apalagi ini mentah. Tapi demi kesembuhan saya, ibu memaksa dan membujuk saya dengan sekaleng permen fox. Yes, permen.
Pertanyaannya adalah kenapa saya mau? Karena sebelumnya saya minta permen ini sama adek atau kakak saya lupa dan tidak dikasih apa cuma dikasih 1 gitu ah saya lupa deh. Pokoknya kalau saya minum kuning telur itu, saya dapat sekaleng permen fox untuk diri saya sendiri, sampai kalengnya saya semnbunyikan dibawah kasur biar nggak ketahuan dan nggak diminta ckck. Sangat sederhana tapi begitu membekas dalam ingatan. Bukan ingatan yang buruk tapi seenggaknya ada hal yang dapat saya kenang saat masih kecil.
0 notes
Text
A Letter to Myself 5 Years from Now
Dear myself,
Cie udah umur 30an ni yee. Saya harap kamu masih dalam keadaan sehat walaupun selama ini makan nggak bener karena sering konsumsi gorengan, tepung-tepungan, upf dan nggak pernah olahraga. Plis atuhlah mumpung masih belum masuk usia 40 nih kamu olahraga dulu gih seenggaknya sampai keluar keringat aja. Kenapa? Masih repot ya ngurus anak jadinya nggak bisa ngurus diri sendiri? Walaupun begitu, saya harap kamu bahagia dengan kehidupan yang sekarang. Udah kebeli kan mobil rush warna hitamnya? Semoga sudah ya karena kita sering doa sama Nafa diantara azan dan iqomah juga waktu turun hujan, waktu berdoa yang mustajab.
Gimana katanya mau nerbitin buku sendiri jadi kan? Udah berapa buku terbit? Walaupun kamu capek, tolong jangan berhenti menulis ya karena saya sangat tahu saat menulis adalah saat paling menyenangkan dan kamu jadi diri sendiri yang tidak takut dihujat orang lain.
Lima tahun lagi saya harap kamu sudah lebih bisa menemukan banyak bahagia dari banyak hal yang dapat kamu lakukan. Semoga kamu tidak lagi membandingkan diri dengan orang lain yang kamu juga tidak tahu ujian apa yang mereka hadapi.
Nafa pasti udah masuk sekolah ya? Atau masih belajar dari rumah aja sama kamu? Jangan sering-sering marahin Nafa ya. Dia masih kecil, tidak tau banyak justru kamu yang harus kasih pemahaman sama dia. Plis belajar banyak sabar lagi ya sama Nafa. Saya sangat sayang sama dia, kamu juga begitu.
0 notes
Text
Whatever comes to my mind - don't stop for 10 minutes
Hal paling menarik untuk diceritakan menurut saya adalah tentang percintaan. Ada banyak hal yang bisa dibahas seperti saat sedang jatuh cinta, patah hati, diselingkuhi atau bahkan cerita tentang hubungan yang diam-diam atau backstreet.
Tapi sekarang saya mau bahas tentang cinta tak terbalas aja deh. Jadi dulu waktu kuliah saya suka sama seorang laki-laki. Dia pintar, tidak tampan tapi manis, mempunyai suara yang bagus ketika bernyanyi dan pandai bermain gitar. Kita sering belajar dan ngerjain tugas bersama bahkan bisa sampai subuh, tentu saja ditempat ramai ya alias kayak di cafe yang banyak mahasiswanya gitu. Diluar persoalan kuliah, kita juga sering main bareng kayak pergi nonton, dia minta saya temenin ke toko baju, saya minta temenin ke toko buku, dia juga ngajarin saya banyak hal terlebih tentang agama. Saya merasa sangat senang ketika dia jadi imam sholat tapi pernah suatu waktu cuma kita berdua yang ada di mushola, saya menunggu dia tapi ternyata katanya tidak boleh berjamaah kalau berdua saja sama yang bukan mahrom. Sungguh islami bukan dan saya makin tertarik dengannya. Selama 2 tahun saya memendam rasa, saya pikir dia juga merasakanhal yang sama tapi mungkin dia emang baik aja sama semua orang, mungkin hanya saya saja yang salah mengartikan semua sikapnya.
Lalu saya bertemu dengan laki-laki lain, selang 3 bulan dari pertemuan pertama ternyata dia langsung menyatakan rasa pada saya. Tidak terlalu kaget karena saya sudah menyiapkan hati. Oke baiklah saya setuju untuk berpacaran dengannya. Kita menjadi pusat perhatian di kampus karena dia antar-jemput saya, selalu menunggu saat saya masih ada jadwal praktikum, sering makan diluar bersama, dia juga ikut kalau saya kumpul sama teman-teman.
Sampaiiiii teman kuliah saya itu mengetahui hubungan saya. Dia bilang dia sudah suka sama saya dari awal saat kegiatan orientasi, dia bilang dia mau menjalin hubungan dengan saya tapi merasa masih belum pantas, dia bilang berjanji akan langsung bilang sama saya kalau dia sudah menjadi lebih baik. *deg* Saya terdiam, membatu. Kenapa? Kenapa baru bilang sekarang? Kenapa tidak jujur diawal? Kenapa membuat saya seperti menyukai sendirian? Lalu sekarang saya harus bagaimana? Karena perasaan suka tidak mungkin bisa hilang 100%, iya saya masih suka dia tapi saya sayang sama pasangan saya saat itu. Saya tidak mungkin mengkhianati laki-laki yang baru jadi pasangan saya, jadi saya putuskan untuk mengakhiri segala hal dengan teman kuliah itu dan akan fokus dengan pasangan saya.
0 notes
Text
The Accomplishments I'm Most Proud of
Hem. Berpikir lagi nih saya. Apa ya? Karena sesungguhnya saya ini serba tanggung, pinter enggak, bodoh juga enggak. Masa sekolah juga biasa saja, tidak yang gong banget ikut olimpiade terus menang medali. IPK pas kuliah lumayan sih tapi itu karena saya rajin bukan pintar, soalnya penilaiannya berdasarkan beberapa faktor, asal rajin dan tepat waktu ngumpulin tugas yaa ga neko-neko lah nilai aman deh.
Terus apa hal yang membanggakan? Menulis. Salah satu tulisan saya pernah diterbitkan dalam sebuah buku. Ceritanya, tahun 2016 saya ikut grup #30DaysWritingChallange gitu. Nah diakhir kita kumpulin tulisan-tulisannya.

Rasanya senang sekali bahkan sekarangpun masih dengan rasa yang sama saat saya memegang buku ini pertama kali. Ini adalah hal yang saya lakukan dengan usaha sendiri tanpa bantuan orang lain dan tidak dalam keadaan terpaksa alias happy dalam prosesnya.
I know i'm not the only one yang ngerasa 'serba tanggung', but trust me, you must have something yang kamu lebih unggul dari lainnya. Mungkin cuma belum sadar aja atau mungkin perlu berusaha lebih keras untuk menemukannya dalam diri kamu. Aku juga sering merasa rendah diri tapi sebisa mungkin untuk selalu merasa cukup sama diri sendiri dan lebih menghargai diri sendiri agar merasa hidup sedikit lebih tenang.
0 notes
Text
My Biggest Regret
Menyambung cerita tentang "The Hardest I've ever Cried", penyesalan terbesar saya adalah ketika bertanya kepadanya tentang apa salah saya, apa yang kurang dari saya, apa yang bisa bikin kita kembali lagi. Kenapa? Karena i'm good enough. I'm beautiful. I can makes money too. Saya terlalu merendahkan diri saya dihadapannya. Setiap mengingat hal ini membuat saya menyesal pernah melakukan itu.
Ternyata laki-laki kalau emang kita yang dia mau, tidak akan pernah melangkah pergi meski sudah seribu kali kita mengusirnya. Harusnya dari awal dia bilang kata pisah saya sudah tahu diri, bahwa dia yang sudah tidak ingin bersama bukan ada kesalahan pada sikap saya. Harusnya dari awal saya menerima itu dan tidak bertanya-tanya kenapa, walaupun sampai sekarang saya tidak tahu apa alasan dia minta pisah.
Oke segini dulu aja. Sekarang hari selasa, pukul 19.50 WIB dan hujan deras. Saya mau selimutan dulu.
0 notes
Text
The Hardest I've ever Cried
Saat putus.
Pertama kali menjalin hubungan asmara a.k.a pacaran waktu umur 22 tahun. Saya kira dialah orangnya, saya hanya akan pacaran untuk saling mengenal lalu menikah dan hidup bahagia. Sungguh pikiran yang begitu naif. Nyatanya 3 tahun kemudian hubungannya berakhir, lewat pesan singkat whatsapp pula.
Rasanya dunia seperti runtuh. Seperti kehilangan diri sendiri. Saya adalah anak perempuan yang tidak mendapat kasih dari seorang ayah, kehangatan laki-laki saya rasakan dari pasangan. "Oh begini rasanya disayangi", "oh begini senangnya saat omongan didengar", "oh rupanya diperlakukan lembut seperti ini'", dan perasaan-perasaan lain yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Setelah merasakan semuanya lalu perasaan itu dirampas, saya kembali sendiri seorang diri tanpa bahu untuk bersandar. Setiap hari menangis. Benar-benar setiap hari. Air mata jatuh begitu saja membasahi pipi. Sesak sekali.
Ah udah ah. Saya nggak mau bahas masa lalu yang menyakitkan, cukup jadikan kenangan aja. We must keep moving forward, don’t look back. Karena pengalaman masa lalu menjadikan kita yang sekarang jauh lebih kuat.

0 notes
Text
The Happiest I've Ever Felt
The happiest?
Pertama baca judulnya membuat saya berhenti sejenak, berpikir, apakah saya pernah merasakan bahagia yang amat selama ini? Hal yang terlintas adalah 'apakah saya pantas bahagia?'.
Mari coba flashback.
Masa kecil. Jelas tidak karena dalam ingatan saya hanya sedih yang tersisa. Disaat teman seumuran setiap tahun merayakan ulang tahun bersama keluarga, sekalipun saya tidak pernah. Perayaan ulang tahun saya justru waktu umur 17 saat SMA, itupun digabung dengan teman-teman lain yang tanggalnya berdekatan.
Masa sekolah. Saya rasa tidak. Karena pulang sekolah sudah sore, rumah saya dipelosok jauh dari kota, tidak ada kesempatan untuk kumpul main sekedar ngobrol sama teman-teman. Iya saya iri sama teman yang rumahnyasering dijadikan basecamp kumpul-kumpul. Sedangkan saya untuk keluar harus mendapat izin dulu - yang tidak gampang tentunya.
Masa kuliah. Hem. Saya merasa lebih tenang dan banyak bahagianya pada masa ini tapi tidak sebahagia itu untuk dikenang. Masa ini saya mulai mengenal arti pertemanan, percintaan, dan juga lebih mengerti diri sendiri. Tapi tidak yang bahagia banget banget lah.
Saat bekerja? Menjalin hubungan asmara? Menikah?
Lama saya berpikir momen happiest apa yang pernah saya rasakan. Lalu saya mulai menulis ini dan *deg*. Kenangan itu muncul. Tahun 2023, di Hotel Labersa Pekanbaru, saya duduk dibaris kedua dari depan, saat saya nonton konser Ungu Band, my favorite band sedari kecil (kelas 4 SD).
Momen itu saya melihat diri saya paling bahagia, dengan senyum terlebar yang tanpa beban dan pikiran yang kosong karena hanya fokus dengan lagu dan musik yang sedang dimainkan. Waktu aa (vokalis ungu) turun dari panggung, saya mengulurkan tangan lalu disambut dengan aa, saya genggam sepersekian detik, jantung berdetak tak beraturan, badan mulai membeku, tidak menyangka.
Hal kecil yang bagi orang lain mungkin biasa saja, tapi bagi saya "this is my happiest moment". Dari sini juga membuat saya tersadar "oh ternyata saya pernah sebahagia ini". Hope you all find the happiest thing too🩵
0 notes
Text
My Best Memory from This Year
Hem.. berhubung 2025 baru berjalan kurang 2 bulan, jadi saya akan ambil best memory dari tahun 2024 aja ya 😊
---
*sigh*
Iya secapek itu saya di 2024 karena semuanya campur jadi satu berjalan bersamaan. Tahun pertama mengarungi kehidupan pernikahan, lalu alhamdulillah langsung dikasih hamil dan dibulan kesembilan melahirkan. Gimana bacanya aja udah capek duluan nggak sih? Saya pikir setelah menikah saya bisa "pacaran halal" dulu sama suami. Menikmati masa-masa bermesraan berduaan, jalan kesana-kesini mencoba berbagai jenis makanan ataupun sekedar ngobrol di cafe sampai larut malam tanpa rasa khawatir karena perginya bareng suami dan pulang ke rumah sendiri. Tapi pada akhirnya saya harus menjaga makan, tidak boleh ini itu, larangan ini itu harus ini itu dan segala halnya agar janin dan saya tetap dalam kondisi sehat.
Terus apa best memorynya? Saat melahirkan? Saat melihat anak pertama kali? Saat begadang mengurus newborn tanpa bantuan orang lain?
I think my best memory is when I was in the postpartum period selama 40 hari-an itu. Karena, ya i'm like a queen. Bener-bener dijaga dan diurusin sampai rasanya terharu. Melahirkan dengan pervaginaan dengan jahitan yang banyak bikin saya nggak boleh banyak bergerak, jalan pun selalu diingatkan untuk pelan-pelan, tidak boleh angkat barang, tidak masak, tidak mikirin menu apa hari ini, tidak mencuci, ah pokoknya tidak melakukan kegiatan rutin saya biasanya. Terlihat menyenangkan? Tapi ternyata tubuh saya berkata sebaliknya.
Loh? Kenapa? Sepertinya karena saya sudah diperlakukan sangat istimewa jadi besarnya harapan mereka agar saya fokus meng-ASI-hi membuat saya tertekan. Like, I don't want to be treated like this, i can do everthing, please don't expect too much from me. Berujung apa? Yak baby blues~~
Makan teratur 3 kali sehari dengan cemilan ina itu lengkap dengan sayuran pelancar ASI tapi saya tidak bahagia. Sedih. Tertekan. Makanan rasanya hambar lewat gitu aja. Berantem sama suami. Sering nangis. ASI? Tentu saja seret.
Faktor lainnya juga mungkin karena perubahan status yang langsung drastis. Dari yang single, lalu jadi istri dan nggak menunggu lama jadi ibu hamil lalu menjadi ibu. Ekspektasi yang saya bilang diawal tadi jadi tidak bisa dilakukan karena harus mengurus bayi. Bahkan saya tidak dapat keluar rumah selama berbulan-bulan. Bener-bener cuma dirumah ngurus bayi. Apa nggak bikin gila itu.
Tapi terlepas itu semua, saya selalu diingatkan untuk bersyukur atas apa yang telah terjadi. Kadang kehidupan kita ini adalah apa yang orang lain selalu doakan. Terima kasih anakku sudah memilih saya menjadi ibu. Mari sama-sama belajar dan terus saling menyayangi yaa.
Nah gitu ceritanya. Best memory nggak mesti selalu hal yang menyenangkan bukan?
0 notes
Text
My Favorite Part of Today
Hello!
I'm here again..to heal my self. Ya i think it's be better if i start writing again. Ceritanya kemaren lagi nyari-nyari referensi foto di pinterest lalu gak sengaja ketemu #JournalingChallange gitu selama 150 hari. Waw! Tantangan menulis yang 30 hari aja saya masih suka skip lah ini mau nyoba yang 5 kali lipatnya ckck. But, who cares? I will try my best.
------
Oke, hari ini hari jumat. Kenapa ya bawaaannya tenang aja gitu kalau hari jumat ini. Serasa lebih adem dan kalem walaupun rutinitas masih sama banyaknya. My favorite part of today izzzzzz bisa makan sambil nonton acara komedi sambil tertawa dengan tenang. Lalu bisa lanjut nonton drakor sambil ngemil dan ngopi. Yash! As simple as that. Menjadi ibu rumah tangga dengan anak bayi ternyata membuat saya mensyukuri banyak hal kecil yang dulu terlewat. Terus bisa lanjut nulis gini waktu anak lagi bobo juga bikin saya banyak ngucap Alhamdulillah. Mungkin tidak sesempurna dan semewah orang lain, tapi bisa lihat anak tersenyum dan semua pekerjaan rumah hari ini selesai sebelum tengah hari juga jadi my favorite part.
I hope you all can be grateful for the little things too.
2 notes
·
View notes
Text
Emang gapapa kalo LDR?
LDR bukan buat semua orang.
Kenapa? Karena percuma satu kota yang jaraknya dekat kalau tidak ada effort.
LDR itu harus banyak salingnya. Saling pengertian, saling sabar, saling memahami, ah banyak lah pokoknya.
“Kayak yang paling tau aja deh lu”. LAH IYA! Saya bilang ini kan karena sudah mengalaminya, kisah percintaan saya 90% isinya LDR.
Karena kalau emang kamu yang dia mau, semua pasti bakal diusahain. Beneran. Trust me! Karena waktu LDR beda pulau selama 1 tahun, bayangin.. 1 tahun. Dia di Jawa, saya di Sumatera. Gak ada ketemu sama sekali, cuma mengandalkan video call. Sedangkan kita tau bahwa laki-laki adalah mahluk visual (harus ada sentuhan kontak fisik). Endingnya? Ya berakhir. Karena bukan saya yang dia mau. Karena tidak ada effort darinya.
Lalu di era selanjutnya jiaaahh. Saya bertemu dengan suami. Kita eda provinsi, tapi tiap saya bilang kangen walau dia tidak ada uang pun pasti selalu diusahakan untuk saya. Mengendarai sepeda motor 90an km dengan medan tempuh yang masyaallah pakai mobil aja bikin sering istighfar karena jalan lintas yang banyak mobil-mobil besar dan jalan berkelok yang cukup sempit.
Itu hanya satu contoh saja. Jadi, emang gapapa kalo LDR? Ya gapapa banget kalau emang dia orangnya.
0 notes
Text
menjalin hubungan

apakah nama tengah saya adalah "distance"? karena setelah dipikirkan, setiap menjalin hubungan pasti LDR. tapi beruntungnya saya bertemu dia, yang tidak menebar janji tapi memberikan bukti nyata keseriusannya. jiah.
terima kasih karena setiap "kangen" dari saya selalu diusahakan untuk "bertemu" walaupun cuma 1 jam dengan perjalanan pulang-pergi 4 jam :) kadang ke cafe, kadang cuma main kerumah keluarga. kenapa nggak dirumah aja? restu gaes--😊
2 tahun kami bersama sebelum akhirnya akad terucap, banyak hal yang terjadi tapi dia masih disamping saya.
dia memang tidak termasuk orang berada, tapi dia selalu mengusahakan bahagia untuk saya. dia bukan lelaki tampan, tapi saya merasa aman dan nyaman didekatnya. tangannya kasar, tapi selalu hangat digenggam. aroma tubuhnya seperti magnet, membuat saya ingin selalu dekat dengannya.
terima kasih telah menjadi milikku, ya.
0 notes
Text
dia
dua ribu dua puluh satu, tahun dimana saya bertemu dengan suami untuk pertama kalinya. karena setelah banyak ngobrol, kita sebenarnya udah lama dalam lingkungan yang sama, bahkan dia kenal akab dengan salah satu sanak keluarga saya.
tidak ada yang spesial, saya dan dia sama-sama bekerja dalam sebuah proyek pembangunan tebing pengaman sungai. justru saya ilfeel ke dia karena sksd dengan saya. tapi mungkin udah takdirnya, saya semakin dekat dengan dia karena induk semang tempat saya tinggal menyukainya sebagai anak. kita jadi sering ngobrol, gayanya berbicara membuat saya mulai nyaman dengan lelucon-lelucon konyolnya. kami seperti anak kecil yang menertawakan hal kecil. lalu dia mulai menyatakan rasa sukanya. saya tegas bilang kalau tidak ingin berpacaran. jika memang serius, kita jalani dan langsung ketemu dengan orangtua saya. dia mengangguk mengerti.
seperti hidup kebanyakan, tidak ada perjalan yang mulus. kesetiaan kami benar-benar diuji tekan (jiah emang beton, canda ya). mulai dari jarak, lalu jarak lagi, sifat saya yang moody-an, sinyal, sampai ke restu. hubungan yang saya kira tidak akan bertahan, ternyata masih berdiri tegap karena bertemu dengan dia.
dan saya tidak pernah membayangkan dia yang saya temui dibawah terik mentari sungai kampar malah jadi ayah dari anak perempuan saya.
0 notes
Text
Sederhana Saja
Sebagai seorang capricorn, jiah langsung bawa-bawa zodiak gak tuh. Ehem tapi serius. Sebagai orang yang penuh perhitungan dan planning, bagi saya everthing must be perfect karena kalau ada terjadi sesuatu diluar pemikiran saya akan jadi beban pikiran, stress dan akhirnya menyalahkan diri saya sendiri. Padahal ya it's okay kan karena di dunia ini nggak ada yang benar-benar sempurna.
Sama seperti memilih pasangan. Saya mau dia yang tidak merokok, berperilaku baik dari orok alias ga ada track record yang buruk, cukup tampan dan menawan (walau saya juga b aja), yang sayang sama keluarganya, yang perhatian, suka ngasih surprise, ah banyak lah pokoknya.
Tapi setelah saya telusuri, banyak hal dari suami saya (iya saya seorang istri) yang tidak ada dari kriteria-kriteria idaman saya itu. Lalu saya berpikir. Kenapa? Apa yang membuat saya jatuh kedalam pelukannya? Ternyata ada satu hal yang mengambil porsi besar dalam keputusan saya, yaitu effort. Ternyata bagi saya effort itu bentuk romantis yang luar biasa. Dia tidak berbicara mengeluarkan diksi indah, tidak juga memberikan barang-barang tapi langsung kena hati.
Laki-laki yang saya temui sebelumnya tidak ada yang seperti suami saya ini. Mereka hanya melontarkan janji-jani yang saat itu dengan mudahnya saya percaya. Sampai saya tersadar, apa sebegitu tidak pentingnyakah saya sehingga mereka ini tidak ada yang benar-benar tulus? Ternyata, saya hanya belum bertemu suami.
1 note
·
View note
Text
If I Could Run Away, Where Would I Go?
Pantai.
Tempat pertama yang langsung terucap. Seandainya, saya bisa kabur dari semua keruwetan hidup, saya akan pergi ke pantai. Duduk tanpa alas diatas pasir sambil memandang lautan dengan suara ombak yang menyertai.
Persetan dengan semua masalah yang sedang terjadi, saya asik menyeruput kopi sambil menikmati matahari yang mulai bergerak ke arah barat; perlahan menghilang.
Tidak ingin tahu tentang apapun, saya menikmati angin yang berhembus (walaupun sedikit terganggu karena jilbab saya jadi tidak simetris lagi😊)
Saat cahaya dari matahari mulai meredup, saat itulah air mata mulai menetes. Tapi siapa peduli, orang-orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Suasana dan aroma pantai membuat saya lemah, seakan berbisik "jangan dipendam sendiri, tubuhmu ada batasnya". Tapi juga memberikan semangat baru "hiduplah untuk dirimu sendiri, bukan untuk menyenangkan semua orang".
That's why i choose pantai.
4 notes
·
View notes
Text
Ada beberapa luka yang tidak akan pernah sembuh; hanya reda sakitnya saja.
341 notes
·
View notes
Text
Someone I Miss
Ada nama yang kayaknya mau sampai kapanpun akan selalu saya ingat. Seorang laki-laki baik yang sering bikin saya sakit hati tapi selalu membuat saya dekat kepada sang pencipta.
Laki-laki ini saya temui saat berkuliah di kota pelajar, Yogyakarta. Untuk memudahkan, kita panggil aja dia Jaz.
Jaz memiliki bentuk tubuh sama seperti kebanyakan remaja lainnya, tidak gemuk/kurus, tidak terlalu tinggi/pendek, hitam tidak, putih pun tidak. Jaz sering sekali menghibur, membuat orang disekitarnya tertawa dan menjadi positif walaupun ditengah ke-riweuh-an tugas kuliah. Point pertama yang membuat saya fokus ke Jaz adalah karena Jaz memiliki aroma yang khas walaupun tidak memakai parfum. I just like the smell he is.
Semakin sering kenal dengan Jaz, semakin saya menyadari bahwa saya bodoh karena Jaz mengajarkan banyak hal mulai dari masalah perkuliahan, sosialisasi bahkan agama. Jaz sangat murah hati memberikan ilmu-ilmu yang dia dapat dan karena itu membuat saya semakin tertuju kepadanya. Bukan sekadar mengatakan tapi Jaz juga memberikan alasan logis dari pernyataannya yang berarti dia tidak sembarangan.
Lalu pertanyaannya, kenapa diawal saya bilang dia sering bikin sakit hati? Karena ekspektasi saya yang terlalu berlebihan. Memang benar tidak seharusnya kita berharap pada manusia, berharaplah hanya pada sang kuasa 😇
Sering kali sikap perbuatan saya melenceng dari radar tapi Jaz tidak bosan menasehati bahkan memarahi saya. Jaz, if you read this (i think if you read this you know i'm talking about you), thankyou karena sempat mampir dalam hidup saya walaupun hanya sebentar. Terima kasih atas semua ilmu yang pernah kamu sampaikan. Terima kasih. You know still now, i still think about you.
0 notes