"I write for the same reason I breathe - because if I didn't, I would die." - Isaac Asimow.
Don't wanna be here? Send us removal request.
Text
Percakapan selepas senja tentang melepas cinta.
Angin pantai sore itu terasa lembut membelai tengkuk. Rambut sebahunya yang terurai seakan berdansa mengikuti hembusan angin. Gatal sekali aku ingin menyibak poninya yang sudah panjang itu, ingin menyelipkannya di balik telinga. Seperti biasa. Seperti dulu.
Tangannya mengukir inisial huruf kami berdua di atas pasir, yang cepat-cepat ia buyarkan kembali. Mungkin takut aku melihatnya. Mungkin takut jika aku menangkap sinyal yang salah darinya
Atau mungkin, dengan menghapusnya di atas pasir, ia juga sedang mencoba menghapusku dari hidupnya. Hatinya.
—
"Lima tahun bukan waktu yang sebentar ya, ternyata."
Kalimatnya memecah hening yang sejak 30 menit lalu tercipta di antara kami. Daguku kusandarkan pada lutut, satu tanganku sibuk bermain di atas pasir. Tanpa sadar aku mengukir inisial namaku dan namanya. Aku segera menghapusnya, berharap ia tidak melihat.
Aku takut perasaanku tergambar jelas di atas pasir ini. Perasaan yang sama selama lima tahun hari-hariku kuhabiskan dengannya. Perasaan yang, rasa-rasanya, hari ini akan bertemu akhirnya.
"Hmm," gumamku pelan, merasa harus ikut bersuara.
"Selama lima tahun... kamu bahagia?"
Jariku berhenti berlari di atas pasir. Ada detak yang tidak biasa di dalam dadaku saat mendengarnya bertanya. Sebuah pertanyaan yang terdengar retoris, sekaligus terasa penuh harapan akan jawaban yang menyenangkan.
"Kamu... bahagia sama aku?"
Aku meluruskan kakiku, akhirnya menatap lurus-lurus ke arah lautan luas. Mataku menatap air laut yang mulai keemasan, memantulkan jingga milik senja.
"Kamu tahu jawabannya."
Aku bisa merasakan ia mengangguk pelan. Mataku mengerjap menatap ombak kecil yang bergulung meraih bibir pantai. Ada getar samar dalam suaraku yang mungkin tidak berhasil lelaki ini tangkap.
"Aku juga. Bahagia. Jauh, jauh melebihi yang aku kira. Jenis bahagia yang kayaknya, cuma bisa aku rasakan sekali seumur hidupku."
"Dan itu semua aku rasakan waktu sama kamu."
Pernyataannya membuat jantungku nyaris meledak. Tidak ada yang tahu, tidak dia, tidak juga ikan di laut, bahwa ada sesuatu yang berdentum keras sejak tadi memukul-mukul dadaku.
Gabungan dari harap, bahagia, takut, cemas.
"Tapi..."
Ah.
Ini dia.
"Rasanya salah."
Ombak besar tiba-tiba datang menghampiri, berbenturan dengan karang di sisi pantai yang agak jauh dari tempat kami duduk. Suaranya terdengar bergaung menyentuh indera pendengaranku.
"Kita salah."
—
Aku menelan ludah, berusaha fokus tetap bicara meski rasanya pita suaraku terkunci. Aku meliriknya, sekilas memperhatikan ekspresinya.
Sial, dia cantik.
Dia selalu cantik.
Sekarang maupun dulu, aku selalu jatuh cinta di detik pertama.
Saat aku melihat fotonya dalam lembaran kertas lamaran kerja. Saat dia menengok dan tersenyum ketika mendengar suaraku memanggilnya. Saat air matanya menetes pasrah ketika sempat kulontarkan kata pisah.
"Sudah nggak ada yang bisa kita lakukan lagi..."
"Aku masih ingin berjuang, tapi aku sadar ini cuma akan nyakitin kita lebih jauh..."
"Aku—"
"Di antara kita," tiba-tiba suaranya memotong kalimatku yang berlarian tidak karuan. Suara yang berusaha menyembunyikan getar namun tetap terdengar.
"Di antara kita... kamu yang jatuh cinta pertama."
Aku tertegun. Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan.
"Iya," ucapku setelah jeda yang cukup lama. Dia mengangguk lambat. Aku bisa melihat matanya menatap kejauhan, sinarnya meredup seiring senja yang pelan menghilang.
Tiba-tiba ia menoleh penuh menatapku, ekspresinya tak terbaca.
Perlahan, ia tersenyum.
Aku suka semua jenis senyumnya. Yang muncul saat aku menggandeng tangannya, yang tercetak lebar saat menghabiskan waktu bersama, yang berubah jadi tawa saat aku membuatnya bahagia.
Tapi tidak dengan senyumnya kali ini. Aku tidak suka senyum yang ini.
"Jadi, sekarang gantian," ujarnya. Aku mengernyit sebagai respon refleks dari kalimatnya yang tidak kupahami.
"Gantian. Kalau kamu yang jatuh cinta pertama, sekarang giliranku..."
Jeda dalam kalimatnya sangat menyiksa.
"...menjadi yang pertama pergi dan memutuskan hubungan ini."
—
Ekspresi wajahnya tepat seperti yang kuduga setelah mendengar kalimatku barusan. Mungkin karena getar dalam suaraku menghilang, mungkin karena apa yang kunyatakan terdengar final.
Aku merasa ini hal yang adil untuk dilakukan.
Dia yang jatuh cinta lebih dulu. Aku yang meminta selesai lebih dulu.
Karena mau tidak mau, suka tidak suka; hubungan ini memang hanya tinggal tunggu waktunya. Sekarang atau nanti, tidak ada bedanya.
Seperti plester luka yang menempel di tangan, semakin berhati-hati menariknya justru akan semakin terasa sakit. Lebih baik lakukan sekalian; aku merasa lebih bisa menahannya.
Yang tidak bisa kutahan rupanya adalah melihat wajah orang di sampingku ini yang menunjukkan kekagetan, kekecewaan, kepedihan. Perlahan rautnya terasa samar... dan aku bisa merasakan jemarinya mengusap air mataku.
"I have no regret," bisiknya serak, segala ekspresi yang sepersekian detik muncul karena kalimatku tadi sudah menghilang. Tangannya bertahan menangkup wajahku.
"I have no regret for loving you all this time. For loving you this big, even though we don't have any future together."
Saat kulihat pipinya juga sudah basah, aku ingin sekali memejamkan mataku dan menangis meraung-raung; tapi tidak bisa.
Aku hanya bisa mengangguk, menggumamkan sesuatu yang kuharap terdengar seperti, "Me too." meski rasanya kepalaku nyaris meledak dan terbelah dua.
Ini bukan perkara orang yang tepat di waktu yang salah. Bukan juga tentang cinta yang lelah diperjuangkan dan memutuskan menyerah.
Ini cuma sesederhana dua orang yang ingin bersama, namun semesta tidak mengizinkannya.
Senja menghilang seluruhnya, tepat ketika ia menarikku ke dalam pelukannya, dan aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
Membiarkan raga dan jiwa berkelindan erat satu sama lain. Memasrahkan arah pada takdir yang semena-mena. Melarutkan rasa yang begitu besar dan menghabiskan isinya.
Melepaskan cinta dan secercah asa yang tersisa,
untuk terakhir kalinya.
0 notes
Text
Menua...
...tanpa banyak berkata-kata.
...tanpa diiringi gelisah seperti tahun sebelumnya.
...tanpa hal-hal seperti pesta namun tidak merasa gimana-gimana.
...tanpa diiringi lagu dan lilin tapi tetap bahagia.
...tanpa suasana meriah dan hanya sewajarnya.
...dengan keluarga dan mereka-mereka yang biasa.
...dengan air mata di tengah hari dan ujungnya.
...karena aku menua tapi kamu tetap sama.
...karena aku menua tapi di sisiku kamu tidak ada.
...karena aku menua...
...tanpamu.
Dan ternyata...?
Tidak apa-apa.
Aku tidak lupa, tidak juga pergi. Tidak meninggalkanmu, hanya menjaga kamu di hati—yang aku tengok setiap hari sembari memeluk diri.
Tidak apa-apa.
Aku sudah bisa.
0 notes
Text
Belum sempat aku menulis, tetapi kisah kita sudah selesai—bahkan sebelum dimulai.
Walaupun cerita ini masih berjalan... sendiri-sendiri.
0 notes
Text
sepertinya,
kita perlu memberi jarak...
untuk mengawal rindu,
agar ia tidak tersesat.
rasa-rasanya,
kita harus berhenti sejenak...
untuk memberi ruang,
pada candu yang mulai hilang.
mungkin saja,
nyaman itu mulai menetap...
dan membuat kita lupa,
bahwa cinta butuh dirayakan tiap saat.
0 notes
Text
Aksara yang tertahan itu...
Setiap saat, setiap waktu; ada banyak sekali cerita yang ingin aku sampaikan padamu.
Perjuangan-perjuanganku yang seakan tanpa ujung dengan setumpuk laporan dan sidang-sidang melelahkan, yang akhirnya bisa selesai dengan memuaskan.
Segala lelah dan luka (dalam arti sebenarnya) ketika bermain dengan anak-anak kesayanganku, melihat senyum mereka, mengikuti setiap kemajuan mereka yang bagiku adalah hal paling membahagiakan.
Menemukan film-film baru, serial televisi baru, drama korea baru yang menayangkan aktor atau aktris favoritmu, dan menonton semuanya sembari membayangkan dan menebak-nebak reaksimu.
"Kalau Risma pasti bakal kegirangan nih..."
Semua hal yang sudah aku capai sejak kepergianmu. Semua kejadian menyenangkan yang aku jalani tanpamu. Semua keputusan-keputusan yang aku buat tanpa pernah bisa berdiskusi lagi denganmu.
Semua cerita itu... aku ingin sekali membagi segalanya denganmu, bes. Setiap saat, setiap waktu.
Kebahagiaan hadir menyelimutiku tanpa pernah benar-benar terasa utuh. Karena aku sudah tidak punya kamu untuk berbagi segalanya.
Bes, aku rindu. Aku sadar sudah tidak bisa lagi bertemu atau berbagi cerita denganmu. Satu-satunya yang bisa kulakukan untuk melepas aksara yang tertahan itu...
...dengan mengubahnya menjadi doa untukmu.
0 notes
Text
ada hampa di tengah pilu yang perlahan membiru terbungkus kalut, silang menyilang carut marut. luka lama yang kembali basah. duka yang tergores berdarah.
kenangan memaksa hadir, seolah memang sudah sejak tadi menunggu dipanggil. mati-matian memeluk hati yang kosong seerat mungkin.
katanya aku sudah lebih lucu. aku sudah bisa mewarnai sendiri duniaku. aku sudah bisa tertawa menceritakan leluconku. aku sudah berada di tempat yang sejak dulu aku mau.
hanya saja tidak ada kamu.
—
hari ini aku rindu.
sangat ingin bertemu.
bertukar tawa dan cerita seperti waktu lalu.
tapi, Tuhan bilang nanti dulu.
0 notes
Text
Perihal mendesak terkait rindu.
Tidak bisa nanti, harus dituntaskan saat ini.
Tidak mau menunggu, maunya maju dulu.
Tidak berniat mengekang, tapi yang mengikat paling kencang.
Muncul tiba-tiba, berkunjung sesukanya.
Seenak jidat menetap, merusak hari dan membuat penat.
Setengah mati mengusir, sepenuh hati berkeras hadir.
Ah, sayang.
Rindu nyatanya memang masalah hati nomor satu. Leganya cuma dengan bertemu, menghabiskan waktu, melempar aksara sok lugu dan tawa penuh candu; sebelum akhirnya berlalu—kembali menumpuk potongan rindu yang baru.
3 notes
·
View notes
Text
Aku tidak mengizinkan diriku bertatap muka dengan rasa suka,
karena ada satu bagian diriku yang belum siap bersentuhan dengan luka.
0 notes
Text
Hari ini aku menuliskan rindu.
untuk masa lalu yang gemerlap dan penuh candu,
untuk merayakan kenangan yang habis dilahap waktu,
untuk diriku dulu yang penuh semangat meski banyak ragu.
Hari ini aku menggoreskan resah.
karena masa kini yang terisi banyak cemas dan gelisah,
karena mengingat kegagalan kemarin yang nyata kalah,
karena menyadari langkahku sedikit-banyak mulai lelah.
Hari ini aku menyanyikan luka.
yang gaungnya merana membelah pilar-pilar nestapa,
yang getarnya membahana hingga mencapai semesta,
yang pedihnya menghantam ulu hati meninggalkan duka.
Hari ini aku tenggelam dalam air mata yang aku buat sendiri, dari jejak-jejak seluruh pengorbanan diri di tengah carut-marut hidup yang tak pasti.
0 notes
Text
Bertumbuh, dari rasa sakit dan kepingan luka.
Setiap hari, ada kebas menggilas dalam satu demi satu langkah yang bergerak resah.
Setiap hari, ada waktu untuk bergelung memeluk diri yang nyaris hancur.
Setiap hari, senyum dan tawa yang tampak mungkin saja merupakan topeng dari duka yang belum padam.
Namun setiap langkah, setiap peluk, setiap tawa—adalah satu bentuk dari niat untuk bertumbuh.
Menjadi sembuh.
***
Tidak apa-apa. Setiap orang membawa lukanya masing-masing. Merasakan hal yang sama setiap hari. Bergelut berusaha bertahan dari waktu ke waktu, menjaga diri agar tidak pecah.
Kamu tidak sendiri.
Ada satu orang di dunia ini, yang setidaknya merasa bersyukur atas hadirnya dirimu. Kamu.
Kamu, yang cuma ada satu. Kamu... tolong, jangan padam dulu.
0 notes
Text
...tapi, aku juga.
Kadang aku merasa...
Lukaku tak seberapa.
Masalahku biasa saja.
Khawatirku sederhana.
...jika dibandingkan mereka-mereka yang menahan sakit luar biasa.
Namun aku sering lupa,
meski Tuhan menyentuh dan mendorongku menjadi sosok yang berguna,
aku juga manusia yang punya banyak luka.
0 notes
Text
Kapankah waktu yang tepat untuk mengusir duka?
Lelah sekali hati ini menopang pahit yang muncul semaunya. Yang kadang membuat dada terasa berat, yang kadang memunculkan tangis, yang kadang ingin sekali lari untuk pergi dan tidak kembali.
Hari-hari berlalu bagaikan terbang, duka masih saja bersarang. Telah habis entah berapa jam, menit, dan detik setelah hari dimana Ia berpulang... tetapi hingga kini perihnya tak kunjung hilang.
Kapankah waktu yang tepat untuk mengusir duka?
Ingin rasanya kubuang dia. Tempatnya duduk di dalam hati ini terasa berat dan lembap, seakan menjalar mencoba memenuhi semua sudut ruangan. Meski tak serajin dulu datangnya, namun duka ini tidak juga mau pergi seutuhnya.
Adakah waktu yang tepat untuk mengusir duka?
Selama ini sering menangis sendiri, memeluk diri yang terasa patah seluruh tulangnya, sakit menghujam tak berkesudahan. Tersiksa akan rindu yang merayap dari ujung kaki hingga kepala. Carut-marut luka tak kasatmata. Hingga berakhir kebas dan sesak napas dibuatnya.
Bisakah... waktu mengusir duka?
0 notes
Text
Yang terbaik telah pergi.
Versiku, tentu, bukan versi Tuhan. Inginku, pasti, bukan kenyataan yang digariskan Sang Mahatahu.
Lemah hati melihat senyumnya berdampingan dengan senyum matahari miliknya, pilihannya, takdirnya. Sedikit perih menggores, perihal tahun-tahun yang dihabiskan dengan doa tak sempurna—ah, mungkin karena itu.
Perihal tangan yang menengadah dan wajah mencium sajadah; namun ternyata tak berkenan Tuhan beri mentah-mentah.
Memang bukan aku, memang bukan dia, dan memang bukan kita.
Pernah bersama berdua dalam sebuah arti kasih sayang paling sederhana, paling biasa-biasa, namun lenyap tak bersisa pada akhirnya. Pernah ada kita, yang sekarang hanya sebatas kata tanpa makna.
Semoga bahagia, untukmu, untukku nanti, dan untuk kita; mungkin tidak hari ini dan tidak hati ini, tetapi nanti-nanti.
Sampai berjumpa di kehidupan selanjutnya, dimana mungkin cerita kita bisa mencapai akhir berbeda.
Dari aku yang pernah bahagia, sementara. Selamanya.
0 notes
Text
Grieving takes time,
but I don't think I can fully heal anymore.
Or ever again.
6 notes
·
View notes
Text
Ada resah yang hadir menunggangi pertemuan kita.
Sampai kapan menyembunyikan rasa di balik tatap dan senyum yang tercetak jelas hingga ke mata?
Hati yang saling tunggu tanpa tahu-menahu.
Dua kepala yang isinya memelesat setiap beradu rayu, tipis saja bak wangi mawar tersapu angin sore.
Kala yang satu diam berusaha menerka tanda, yang satu juga hening berdiri ragu di bibir tebing. Beranikah? Mengayun satu kaki maju, bersiap melompat meski entah apa yang menanti di bawah.
Pada akhirnya, keduanya tidak pernah bersatu.
Meski rasa yang sama nyaris menjalin raga keduanya, resah dan gelisah mengganggu tiap detiknya. Takut meninju isi perut, mematikan nyala hangat di dalam jiwa, mengaburkan ingin yang sudah yakin.
"Aku sudah jatuh, tapi tak ingin kembali luka."
"Aku juga luruh, namun terpaku curiga."
Bahwasanya aksara cinta yang hampir melagu tertahan oleh trauma; nasib pilu dua manusia yang tidak jadi satu.
Mungkin, lain kali.
Mungkin, nanti-nanti.
Mungkin, di kemudian hari... ada harap yang turut hadir dalam pertemuan berikutnya.
0 notes
Text
Terima kasih.
Kata yang seringkali kuucapkan untuk menyampaikan rasa syukur, kelegaan, dan penuh sayang kepada orang lain atas apa yang mereka lakukan untukku.
Sebuah kata penuh makna, kata yang memiliki kekuatan untuk menembus segala dinding pembatas. Sebuah kata yang sama berharganya dengan ungkapan cinta.
Sebuah kata, yang sayangnya, jarang aku ucapkan untuk diriku sendiri.
Terlalu sibuk dengan sekitarku, memperhatikan dan mendengarkan orang lain, lambat laun membuatku abai dengan diri ini. Menghabiskan waktuku untuk dunia luar, mengapresiasi banyak talenta dan memberi semangat untuk mereka mencapai tujuan, membuat aku melupakan sosok paling penting yang sesungguhnya juga perlu didengarkan, diapresiasi, diberi semangat.
Aku.
Tahun demi tahun usia bertambah, namun senyatanya ada waktu yang berkurang tanpa disadari. Waktu untuk merengkuh tubuh yang terlupakan, waktu untuk duduk diam dan memikirkan segala pencapaian serta kegagalan, waktu untuk memeluk raga dan mendekap hangat jiwa yang sendirian.
Waktu yang berkurang, berlari mundur, perlahan tapi pasti.
Termenung di usia 20-ku yang terakhir ini, sebersit tanya muncul dalam benak: sudahkah aku mengucapkan terima kasih pada diri sendiri?
Jika sudah, seberapa banyak? Jika belum, hei, mengapa?
Kata yang mudah saja terlontar untuk orang lain, mengapa sulit disampaikan kepada diri sendiri? Mengapa masih saja yang terbayang adalah kesalahan-kesalahan, bukan langkah maju yang meski sedikit tapi berarti?
Mulai sekarang, berikan sedikit ruang untuk diri ini menepuk pundak dan mengelus kepala. Mengatakan, "Terima kasih ya, sudah berjuang.
"Terima kasih ya, sudah bertahan sampai detik ini. Meskipun banyak sekali kesulitan, kegagalan, kehilangan. Terima kasih, karena tetap hidup meski merangkak dan berguling. Meski menapakkan satu kaki di depan kaki lain adalah hal paling berat yang pernah dilakukan.
Terima kasih, karena tidak menyerah. Terima kasih, karena saat lelah sekalipun, bara api semangat di dalam hati tetap dijaga menyala. Terima kasih, karena sudah kuat menahan terpaan badai kanan-kiri. Terima kasih, karena perlahan bisa mengerti dan menerima kenyataan bahwa hidup berjalan tidak selalu seperti yang dimau.
Terima kasih, karena sudah mencoba belajar mengikhlaskan walau masih belum sempurna. Terima kasih, untuk usaha-usaha menyenangkan orang lain yang selama ini dilakukan. Terima kasih, sudah selalu mencoba jadi versi terbaik di setiap situasi.
Terima kasih, karena ada. Karena masih ada dan percaya. Bahwa seburuk-buruknya dunia, dimana semua orang mungkin akan pergi satu ketika, dan yang tersisa hanya kamu sendiri; terima kasih, karena sudah menyayangi jiwa-ragamu sepenuh hati."
Tahun terakhir sebelum kepala tiga. Terima kasih, sudah sampai disini. Besok, dan besoknya, dan besoknya lagi; kaki ini akan tetap berjalan maju meski berat. Tangan ini akan bergerak menolong yang membutuhkan. Mata ini akan memancarkan cahaya penuh semangat menyambut tantangan kehidupan. Hati ini akan terisi penuh oleh perasaan sukacita dan harapan.
Dan mulut ini, akan selalu berdoa dan mengucapkan terima kasih kepada diri sendiri.
Terima kasih.
0 notes
Text
Aku tidak bisa memejam,
karena cemas tau-tau datang menghantam.
Duduk dengan nyaman di satu sudut kepala yang tadinya tenteram,
lantas seketika berubah riuh berantakan dan mencekam.
Gila! Si cemas tak mau pindah dari singgasananya yang terasa mengancam,
seperti berjanji akan memporak-porandakan jiwa yang telah terbenam,
dalam ketakutan yang terdengar suram, memberi setiap inci ruang di hati untuk diam—
—lebih tepatnya memilih diam, agar tidak ketahuan siapapun bahwa setengah tubuh ini aslinya sudah remuk redam.
*
Sempat terlintas menyerah, namun padanan katanya ternyata kalah,
dan aku tidak suka, meski setiap hari terasa lelah.
Ingin sudah.
Tapi kali ini, jauh di dasar ada yang berteriak: "TERSERAH!"
Biar semesta bekerja sebagaimana mestinya untuk setiap tetes peluh dan darah,
yang terlahir dari semua pilihan salah—namun tidak akan pernah berhenti melangkah.
0 notes